Harga Beras C4 di Kendal Tembus Rp 12 Ribu per Kilo

Harga beras di Kendal terus merangkak naik. Saat ini, harga beras eceran sudah tembus Rp 12 ribu per kilogram. Foto Metrojateng/MJ-01
Harga beras di Kendal terus merangkak naik. Saat ini, harga beras eceran sudah tembus Rp 12 ribu per kilogram. Foto Metrojateng/MJ-01

KENDAL – Harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kendal terus merangkak naik. Hari ini, Selasa (24/2), harga beras eceran sudah menembus angka Rp 12 ribu  per kilogram. Sedangkan harga per karung juga mengalami peningkatan mencapai Rp 30 ribu per 25 kilogram.

Kenaikan beras ini sudah terjadi dua pekan sebelumnya dan kenaikannya bertahap hingga mencapai Rp 30 ribu  per 25 kilogram. Pasokan yang mulai berkurang diduga menjadi pemicu harga beras berbagai jenis ini merangkak naik. Untuk harga beras eceran satu kilogram beras jenis C4 sudah menembus angka Rp 12 ribu .

Warga pun mengeluhkan kenaikan harga beras yang dirasakan terlalu tinggi. Sejumlah warga terpaksa membeli beras eceran meski harganya lebih tinggi, karena untuk membeli satu karung warga khawatir tidak bisa membeli kebutuhan lainnya.

Sutrisno warga Langenharjo mengatakan hanya mampu membeli eceran karena dan itupun membeli beras yang kualitas rendah dan kenaikannya tidak terlalu tinggi. “Kalau biasanya  beli beras seharga Rp 10 ribu  kini sudah mencapai Rp 12 ribu per kilogramnya. Mau beli per karung harusnya lebih murah tapi uangnya tidak cukup karena banyak kebutuhan lain,” katanya.

Sedangkan menurut pedagang beras di pasar Kendal,  kenaikan harga beras ini terjadi bertahap sejak dua pekan yang lalu. Kenaikan bervariasi antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000  per 25 kilogram setiap harinya. “Hingga kini kenaikan harga beras sudah mencapai Rp 30 ribu  per 25 kilogram dan bisa kembali naik,” ujar Zumroh pedagang beras.

Kenaikan harga beras ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang berkurang akibatnya pedagang mengeluh permintaan berkurang. Menurut pedagang, pasokan beras yang dikirim ke sejumlah pedagang dikurangi dari distributor karena sejumlah daerah mengalami paceklik dan gagal panen karena banjir. (Metrojateng/MJ-01)

You might also like

Comments are closed.