Hartinah Enggan Pindah Meski Lempongsari Rawan Longsor

 

Warga Lempongsari enggan pindah meski wilayah mereka rawan longsor. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Warga Lempongsari enggan pindah meski wilayah mereka rawan longsor. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Meski lingkungan tempatnya bernaung berpredikat rawan bencana dari BPBD Kota Semarang, warga Lempongsari Kelurahan Gajahmungkur, mengaku tetap nyaman dan enggan untuk mencari rumah baru yang lebih aman.

Seperti halnya diungkapkan Sri Hartinah (62) warga jalan Lempongsari Raya No.441. Menurutnya, meski ia tinggal  tepat dibawah bukit yang rawan terjadi longsor, ia mengaku akan tetap bertahan dan tidak akan mencari tempat tinggal lain.

“Saya sudah 43 tahun tinggal di sini. Saya tidak akan pindah. Sudah beberapa kali tanah di belakang longsor, untungnya longsoran tidak sampai ke rumah saya, hanya batu-batu kecilnya saja,” tuturnya saat ditemui metrosemarang.com Sabtu (20/12) siang.

Bahkan, kata dia, longsor di belakang rumahnya tersebut pernah menelan korban jiwa di pertengahan Februari 2002. Saat itu, tanpa diduga, longsor tiba-tiba terjadi sekitar pukul 08.00 dan mengakibatkan tujuh korban meninggal dunia.

“Pas longsor rumah saya jadi posko buat warga lain yang terkena longsor. Yang saya ingat waktu itu korbannya semua wanita,” imbuh wanita yang tinggal hanya 500 meter dari rumah Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi itu.

Sementara, hal senada juga diungkapkan Sumain (38). Selama 20 tahun tinggal di Lempongsari sudah membuatnya nyaman dan tidak ingin pindah meski bahaya selalu mengancam setiap saat.

“Meski rawan longsor, disini aman, jarang ada aksi kriminal. Mau pindah ya pindah ke mana, pasti juga butuh duit,” tandas warga jalan Lempongsari Raya 439 itu. (yas)

You might also like

Comments are closed.