Hendi Tak Tegas, Korupsi Sulit Diberantas

Wali Kota Hendrar Prihadi menghadiri pelatihan warga binaan Lapas Kedungpane, 23 Mei 2015. Sebulan jelang akhir kepemimpinannya, Hendi justru digoyang tiga kasus besar. Foto: metrosemarang.com/dok
Wali Kota Hendrar Prihadi menghadiri pelatihan warga binaan Lapas Kedungpane, 23 Mei 2015. Sebulan jelang akhir kepemimpinannya, Hendi justru digoyang tiga kasus besar. Foto: metrosemarang.com/dok

SEMARANG – Beberapa kasus yang mendera Pemerintah Kota Semarang akhir-akhir ini seolah menjadi akhir yang buruk bagi era Hendrar Prihadi yang berakhir Juli 2015 mendatang. Itu menjadi indikator ketidaktegasan Hendi dalam memimpin pemerintahan.

Sudah ada tiga kasus korupsi besar yang segera bergulir ke meja hijau, seperti kasus pembelian gedung Oudetrap yang sarat kejanggalan, kasus hilangnya deposito Pemkot senilai Rp 22 miliar. Sedangkan yang paling anyar adalah kasus korupsi kolam retensi Muktiharjo yang menyeret Kepala PSDa-ESDM Kota Semarang Nugroho Joko Purwanto sebagai tersangka.

Menurut pemerhati pemerintah dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, M Yulianto, beberapa kasus tersebut menunjukkan managemen pemerintahan yang kurang tegas. “Hendi sebagai kepala daerah kurang berani menunjukkan ketegasannya dalam memimpin,” kata dia, Rabu (10/6).

Dia menambahkan, kurang baiknya pemerintahan tidak hanya dibebankan pada eksekutif, namun juga tanggungjawab dewan yang berfungsi sebagai kontrol pemerintahan. Keduanya harus sinergi agar menciptakan pemerintahan yang bersih.

Mentalitas pejabat juga perlu dirombak agar tidak memanfaatkan celah tersebut. Menurutnya, korupsi bisa terjadi jika ada kesempatan. “Ini juga perlu dilakukan agar penyalahgunaan anggaran tidak dilakukan. Saat ini sistem kurang sempurna, masih banyak celah yang dimaanfaatkan oleh para pejabat untuk melakukan korupsi,” tuturnya.

Saat ini, tiga kasus korupsi di pusaran Pemkot Semarang tengah ditangani tiga lembaga berbeda. Kasus gedung Oudetrap masih diselidiki Ditreskrimsus Polda Jateng dan sampai sekarang belum ada perkembangan yang jelas. Sedangkan, dugaan korupsi Kasda Rp 22,7 miliar yang ditangani Polrestabes Semarang, sejauh ini sudah menjerat dua tersangka.

Sementara, kasus Kolam Retensi Muktiharjo Kidul sedang diolah di Kejati Jateng. Lima tersangka sudah ditetapkan dalam kasus ini, termasuk dua pejabat di Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang. Kasus-kasus tersebut menjadi noda di akhir kepemimpinan Hendi yang akan lengser pada 19 Juli mendatang. (ade)

You might also like

Comments are closed.