Hotel Candi Baru: Orisinalitas untuk Pecinta Nuansa Klasik

Hotel Candi Baru Semarang
Hotel Candi Baru Semarang

SEMARANG – Hotel Candi Baru Semarang merupakan salah satu hotel yang masih mempertahankan arsitektur zaman kolonial Belanda. Meski tidak terlalu luas, namun bukan berarti hotel ini tak punya peminat.

Hotel Candi Baru didirikan pada tahun 1919. Di era penjajahan Belanda tempat tersebut adalah milik wiraswasta dari Belanda bernama Van Demen Wars yang kemudian diubah menjadi sebuah hotel yag diberi nama Hotel Bellevu. Ketika pecah Perang Dunia II tahun 1942, hotel ini jatuh ke tangan Jepang dan selanjutnya berganti nama menjadi Hotel Sakura. Namun, setelah berakhirnya PD II, hotel dua lantai ini kembali ke tangan pemiliknya lagi.

Pada tahun 1949 hotel ini dibeli oleh sebuah PT milik Tik Hong Kongsia yaitu PT Gentong Gotri. Lagi-lagi perubahan pemilik tersebut juga mengubah nama hotel menjadi NV Hotel Bellevu. Bersamaan dengan aksi-aksi politik yang terjadi di Indonesia, antara lain mengharuskan mengubah nama asing menjadi nama Indonesia yang terjadi sekitar tahun 1960, maka pada tahun 1961 dilakukan perubahan nama dari NV Hotel Bellevu menjadi PT Hotel Candi Baru.

Pada tahun 1973 hotel ini dibeli oleh Ny Meneer dengan tanpa mengganti nama. Selanjutnya pada tahun 1990 Hotel Candi Baru kembali berpindah tangan dan menjadi milik pengusaha asal Jakarta bernama Budi. Namun, hanya 12 tahun hotel ini berada di tangan Budi sebelum akhirnya diakuisisi oleh PT Sido Muncul pada akhir 2002.

Hotel yang berada di Jalan Rinjani 21 Semarang itu memang cukup strategis untuk disinggahi. Sebagian besar tamu yang datang terkesan dengan arsitektur hotel yang masih asli seperti zaman Belanda. Mereka khususnya tamu mancanegara jadi merasa berada di rumah sendiri.

Pihak pengelola memang sengaja mempertahankan bangunan yang berdiri sejak tahun 1919 tersebut. Mereka tidak tergoda untuk melakukan perombakan dan tetap menjaga keaslian bangunan berikut ornamen-ornamen di dalamnya.

Ciri khas arsitektur Eropa bisa terlihat dari bentuk ruangan yang dirancang cukup tinggi sehingga sirkulasi udara tetap terjaga. Untuk mempertahankan suasana jadul, pihak pengelola juga melengkapi dengan perabotan-perabotan antik khas tempo dulu. Seperti meja marmer, kursi rotan hingga lampu gantung. Lantai bercorak batik juga masih dipertahankan.

Perubahan hanya dilakukan pada fasade bangunan yang semula hanya dinding polos putih biasa, dipercantik dengan diberi ornamen-ornamen agar tampil lebih menarik. Hotel berkategori bintang satu itu hanya menyediakan 21 kamar dan sengaja dirancang untuk mereka yang ingin bernostalgia dengan bangunan-bangunan bersejarah. Bangunan ini terdiri dari tiga ruang utama, yakni lobi, restoran, serta ruang pertemuan. (*)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.