Hujan Es, Ekspor Surimi dan Lagi-Lagi Bank Jateng

Uang Rp 5,414 miliar disebut Bank Jateng merupakan hasil transaksi yang masuk ke rekening terlapor karena ada kekeliruan penerimaan transfer dana

HUJAN lebat disertai butiran es mengguyur kawasan Jatingaleh pada Rabu sore, 27 Maret 2019. Keadaan tersebut mengagetkan warga. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kota Semarang menyebut hujan disertai butiran es itu dipicu oleh pergerakan awan cumulonimbus (CB) yang berada sangat rendah.

BMKG memperkirakan ketinggian awan CB saat itu di langit Semarang hanya 300-400 feet. Pada kondisi normal, awan CB mencapai ketinggian 3.000 feet. Hujan es itu juga dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan sekitar, juga intensitas curah hujan yang terlampau ekstrem.

Fenomena hujan es sangat dipengaruhi oleh pancaroba di sebuah daerah. Kota Semarang saat ini sedang mengalami pancaroba. Diperkirakan awal April baru masuk musim kemarau. Selain hujan es, pada hari tersebut angin kencang juga menghampiri Kota Semarang. Belasan rumah di Tlogosari.

Akibat hujan yang lebat itu, sejumlah titik di Kota Semarang digenangi air. Salah satunya adalah titik di sekitaran gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis  Universitas Diponegoro, Tembalang. Beberapa sepeda motor yang diparkir di titik tersebut terendam air. Pengelola menyebut, hal itu juga disebabkan rusaknya saluran air di area tersebut.  

Surimi dari Jateng Jelajahi ke 18 Negara

Selama Februari 2019 lalu, setidaknya terdapat 559 ton Surimi atau olahan ikan asal Jawa Tengah (Jateng) menguasai ekspor ke sejumlah negara. Menurut data Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan (BKIPM) Kota Semarang, Surimi tersebut untuk memasok kebutuhan 18 negara dari ujung Semenanjung Malaka hingga ke negara tepi pantai utara Benua Eropa.

Nilai ekspor untuk produk Surimi dalam rentang waktu tersebut mencapai Rp 18 miliar. Selain Surimi, hasil laut lainnya dengan volume ekspor terbanyak meliputi udang sebanyak 382 ton dengan nilai sebesar Rp 42 miliar dan rajungan dengan nilai ekspor Rp 44 miliar dengan jumlah volume yang dikirim ke luar negeri sebanyak 145 ton.

Untuk menjaga pertumbuhan nilai ekspor tersebut, berbagai upaya dilakukan. Salah satunya Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan Kelas II Kota Semarang yang bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian untuk menanggulangi praktik pungutan liar yang kerap menghantui para eksportir ikan.

Caranya, dengan mengubah transaksi ekspor ikan secara manual menjadi sistem online. Deputi Pengembangan Operasi Lembaga INSW Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Muwasiq Muhammad Noor mengatakan kerjasama dilakukan dengan BKIPM dengan membuat gebrakan melakukan transaksi ekspor yang lebih cepat dan efisien.

 

Lagi-Lagi Bank Jateng

Bank Jateng mengadukan dua orang nasabahnya, M Ridwan dan Nanik, ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Jumat (29/3/2019). Suami-istri tersebut dilaporkan atas dugaan pelanggaran Undang-undang Transfer Dana senilai Rp 5,414 miliar.

Terlapor dituding telah menguasai sesuatu hak yang bukan haknya. Uang Rp 5,414 miliar disebut Bank Jateng merupakan hasil transaksi yang masuk ke rekening terlapor karena ada kekeliruan penerimaan transfer dana. Sesuai undang-undang, jika ada kekeliruan penerimaan tersebut nasabah memiliki kewajiban untuk mengembalikan uang.

 

Sebelumnya, M Ridwan dan Nanik telah melayangkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Semarang. Di dalamnya telah ada upaya mediasi, namun upaya itu belum mencapai jalan keluar. Bank ini terus-terusan dirundun masalah. Baru bulan lalu seorang tellernya dijatuhi hukuman pidana korupsi enam tahun penjara, lantaran membobol rekening nasabah hingga Rp 4,4 miliar. (*)

You might also like

Comments are closed.