Iffa Jayana, Membaca Tarot Menepis Kebetulan

Kebetulan itu tidak ada. Bisa diperkirakan.

“WAH kebetulan banget ketemu disini, ya.” Atau “Eh! kebetulan banget warna baju kita sama, jodoh nih.” Percakapan seperti itu sering kita dengar, bukan? Kebetulan?

Umumnya memang begitulah anggapan orang. Tapi percayakah kamu jika kebetulan itu tidak ada? Percayakah jika kebetulan yang terjadi itu merupakan ketentuan semesta yang sudah ditulis dan diatur oleh Yang Maha Kuasa?

Jika percaya, maka sebetulnya kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi itu bisa diperkirakan. Cara memperkirakannya pun bisa dipelajari, ada ilmunya. Salah satunya adalah ilmu membaca kartu tarot.

Iffa Jayana Septiani, gadis asal Yogyakarta yang sedang bertamu ke Metro Semarang berbagi pengalamannya tentang “persahabatannya” dengan kartu tarot. Kata dia, kartu tarot berhasil menyudahi kegundahan-kegundahannya. Inilah obrolan santai kami dengan Iffa di tengah cuaca Semarang yang “kebetulan” tak pasti.

 

Sejak kapan menekuni pembacaan kartu tarot?

Saya mengenal tarot dari tahun 2008. Tapi baru menekuninya sebagai profesi empat tahun terakhir.

 

Ini profesi utama kamu?

Bukan, ini sambilan. Saya bekerja juga di tempat lain.

 

Kok bisa tertarik dengan tarot?

Dulu sebelum mengenal tarot saya suka meramal dengan media kartu remi. Lalu tahun 2008 saya tertarik dengan tarot karena bisa dipelajari. Jadi tidak butuh keahlian khusus seperti misalnya harus punya sixth sense atau apa. Sebenarnya tarot itu sesuatu yang logic. Yang kita lakukan adalah mengartikan simbol-simbol yang ada di kartu saja.

Berarti butuh kemampuan seperti apa untuk bisa membaca tarot? Belajarnya dari mana?

Yang dibutuhkan paling utama adalah konsentrasi dalam pembacaan. Sehingga kita bisa menangkap arti kartu itu dengan tepat. Saya belajar otodidak. Belajar sendiri dari buku, terus sering praktik saja. Sebenarnya tarot ini nggak ada gunanya kalau kita hanya belajar teori tapi nggak praktik. Semakin sering praktik akan semakin bagus pembacaannya.

Setiap awal pekan, Iffa hampir selalu membuka card of the week. Hasil pembacaan kartu mingguan itu akan ia cuplik di akun Instagram yang ia kelola sendiri, dan ia tulis lengkap di blog yang ia juga ia kelola sendiri.

Iffa akan memaparkan kondisi umum yang dialami orang-orang. Sesekali, ia baca kondisi khusus yang -percaya nggak percaya- sering nyrempet situasi yang dihadapi seseorang, bahkan suasana hati seseorang.

Tarot acap kali dipersepsikan sebagai media ramal. Karena bisa melihat masa depan ataupun bisa membaca masa lalu. Betul atau tidak sih kalau tarot adalah media ramal?

Tidak ada bener atau salah untuk tarot. Tarot bisa juga untuk meramal, karena memang yang berkembang seperti itu. Itu tidak bisa disalahkan. Tapi sebenarnya fungsi tarot ada bermacam-macam. Sebagai sarana perkembangan diri, atau untuk mencari solusi dari suatu masalah dan lain sebagainya.

 

Ada fungsi lain?

Bisa untuk mengembangkan keterampilan menulis juga. Seperti yang saya lakukan sekarang. Saya sering menggunakan kartu tarot untuk menulis. Walaupun mungkin tulisannya lebih untuk pembacaan kartu. Semacam mirip-mirip kayak prediksi begitu.

 

Ketika mengatakan bahwa tarot itu sebagai media ramal, sementara sebagian orang tidak percaya ramalan, bagaimana cara meyakinkan orang bahwa tarot itu secara tidak sekadar ramalan?

Kita kasih contoh. Langsung ke pembacaan, dari kita baca terus kita kasih penyelisaian. Lalu bertanya kembali, apa kalau seperti itu meramal atau tidak? Kalau cuma penjelasan saja, agak susah, orang akan sukar percaya. Tapi kalo membaca langsung dan minta feebacknya mereka pasti akan bisa menyimpulkan.

 

Apa aja yang bisa dibaca dengan tarot?

Kondisi sekarang, situasi yang sedang terjadi, apa yang mempengaruhi. Kalau ada masalah, bisa dicari tahu solusinya. Itu semua bisa dengan kartu tarot.

 

Yang tidak bisa dibaca?

Apapun bisa ditanyakan. Tapi lebih baik hindari menanyakan orang ketiga. Takutnya akan menjadi prasangka.

 

Bagaimana cara kerjanya?

Pakai yang namanya membuka kartu “tebaran”. Ada bermacam-macam kartu tebaran. Ada yang cuma pakai satu kartu, tiga kartu, atau kalo mau lebih kompleks lagi pakai celtic cross (tebaran celtic yang terdiri dari 10 kartu). Itu tergantung kebutuhan. Kalau pertanyaannya simpel bisa tiga atau cuman satu kartu aja. Tapi kalo misalnya pingin mencari solusi, atau ada kegalauan, bisa dengan tiga kartu atau dengan menggunakan celtic cross.

 

Bisa dijelaskan kartu-kartunya?

Kartu tarot itu berjumlah 78. Dia terbagi menjadi dua bagian yaitu arkana mayor dan arkana minor. Arkana mayor itu bernomor 0- 21. Salah satu contoh arkana mayor ada The Chariot yang berarti kartu pengendalian diri. Sedangkan utuk akrana minor mirip dengan remi dia berjumlah 56, terdiri dari empat elemen yaitu air, api, angin dan udara. Air itu bisanya melambangkan dunia perasaan, emosi, intuisi.

 

Ada syarat khusus untuk membaca kartu tarot?

Seperti yang saya bilang tadi, nggak ada. Tarot bisa dipelajari, tidak membutuhkan kemampuan khusus. Cuma butuh banyak latihan saja.

 

Kalau ada orang yang ingin dibacakan kartu tarot, biasanya dimana?

Kalau untuk klien, by appointment. Karena saya tidak punya jadwal khusus. Kebanyakan menghubungi dari IG, karena di situ ada kontak WA (Whatsapp) saya dan mereka menghubungi. Kalau misalnya mau dibaca (kartu tarotnya – red), kita (janji – red) ketemuan dimana.

Saya juga punya komunitas yang memiliki acara rutin di salah satu radio di Jogja. Namanya tarot talk. Masih membahas tentang tarot. Ada card of the day yang membahas tentang kartu hari itu. Ada penanya dari luar, kami tinggal menjawab saja.

 

Mulai usia berapa bisa “dibacakan”?

Usia dewasa, karena sudah bisa berpikir. Sebab kita yang membaca akan semacam memeberi saran. Ada baiknya yang meminta “dibacakan” sudah dewasa untuk dapat menimbang saran yang diberikan.

 

Selama ini yang sering minta dibacakan tarot, cewek atau cowok?

Kebanyakan cewek.

 

Kenapa?

Mungkin karena yang banyak galau itu cewek. (*)

 

Reporter: Anggun Puspita
Penulis: Fitria Eka Mawardie
Editor: Eka Handriana
Videografer: Efendi