Ijazah Siswa Berkebutuhan Khusus Ditahan Sekolah, Hendi Turun Tangan

METROSEMARANG.COM – Ahmad Zulfikar terlihat wajahnya sangat semringah. Anak berkebutuhan khusus siswa MTs Al Wattoniah Semarang ini akhirnya mendapatkan ijazahnya sebagai tanda surat kelulusannya.

Wali Kota Hendrar Prihadi menyerahkan ijazah siswa berkebutuhan khusus yang sempat ditahan pihak sekolah. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Ijazah tersebut diserahkan langsung oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi di Ruang VIP Wali Kota di Balai Kota, Senin (27/2). Didampingi oleh Kepala Sekolah MTs Al Wattoniah Semarang, Kasno dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin.

Sebelumnya ijazah Ahmad Zulfikar sempat ditahan pihak sekolah karena dia tidak bisa membayar tunggakan biaya administrasi sebesar Rp 871.500. Dalam penyerahan itu, Hendi-sapaan akrab wali kota, meminta Dinas Pendidikan untuk memastikan tidak terjadi lagi kasus seperti ini. Semua siswa di Semarang tidak boleh ada yang ditahan ijazahnya.

”Saya minta ijazah itu (Zulfikar) disiapkan juga siang ini. Masalah tunggakan biaya administrasi biar nanti diselesaikan Dinas Pendidikan,” kata Hendi terkait cerita penyerahan izajah itu setelah dirinya mendapat laporan ada siswa yang ijazahnya ditahan pihak sekolah.

Hendi meminta kasus ini menjadi pelajaran bagi semuanya, bahwa ijazah tidak boleh ditahan. Karena sangat penting untuk siswa melanjutkan pendidikannya ke jenjang selanjutnya. Ia meminta Dinas Pendidikan mengawal Zulfikar agar bisa mencari sekolah yang diinginkannya.

Setelah menerima ijazah, Ahmad Zulfikar mengaku sangat senang. Ijazah tersebut telah dinantikannya selama 5 tahun. Dia mengaku tidak mampu melunasi biaya adminisrasinya karena kedua orang tuanya keluarga yang tidak mampu.”Saya senang, saya ingin melanjutkan sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah MTS Al Wattoniah Semarang Kasno menjelaskan, terkait penahanan ijazah tersebut sebenarnya hanya masalah mis komunikasi. Di mana hal itu mungkin karena saat pengambilan ijazah orang tuanya tidak bertemu dengan dirinya.

”Sehingga mungkin agak dipersulit oleh guru karena belum lunas, padahal dia termasuk keluarga yang tidak mampu,” katanya.

Menurutnya, setelah dicek ternyata selain masih menunggak Rp 871.500, siswanya tersebut juga belum membubuhkan cap tiga jari di ijazah. Sehingga tentunya ijazah tersebut belum dapat diberikan. (duh)

You might also like

Comments are closed.