Ikut UNBK, Dua Napi Kedungpane Dikawal Ketat Polisi

METROSEMARANG.COM – Dua narapidana Lapas Kelas IA Kedungpane, EMS dan MRA mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian saat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) setara Paket C di Gedung Islamic Center, Kalipancur, Kecamatan Semarang Barat.

Ilustrasi

Keduanya selama ini mendekam di dalam penjara lantaran tersangkut kasus perlindungan anak serta pengeroyokan. Mereka mengaku sejak Sabtu (15/4) kemarin bisa mengikuti ujian dengan lancar.

“Lumayan susah sih. Tapi saya bisa mengerjakan soalnya. Saya ikut ujian sejak kemarin,” aku MRA, saat ditemui usai UNBK di Islamic Center Kalipancur, Minggu (16/4).

Jika lulus Paket C nanti, pemuda 19 tahun itu mengatakan ingin bekerja agar dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Menurutnya, ikut UNBK merupakan buah kerja kerasnya sejak lama ketika dirinya mendekam di balik jeruji besi.

Ia mengaku tak menemui kendala saat belajar di sel tahanan untuk mempersiapkan ujian. Teman-temannya juga tetap mendukungnya ikut ujian.

“Saya kepingin lulus Paket C biar ijazahnya bisa dipakai kuliah kalau sudah bebas nanti. Doain saja, Mas semoga lulus,” timpal EMS.

Sedangkan, Hadi Suprayitno Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bangkit, mengungkapkan jumlah narapidana yang ikut UNBK terdapat empat orang. Mereka terbagi dua bagian yakni ujian Paket C ada dua orang serta Paket B juga diikuti dua orang.

“Hari ini, kami mendampingi dua narapidana yang ikut Paket C. Mereka sebenarnya pintar-pintar. Tapi karena terpengaruh pergaulan dan lingkungan yang buruk, maka mereka tersangkut masalah. Saat ini, pelaksanaan ujiannya berjalan tertib dan lancar,” kata Hadi yang jadi pendamping bagi para narapidana tersebut.

Para narapidana yang ikut UNBK dikawal polisi. Ia menyebut dua personel berpakaian preman dan dua petugas Polsek Semarang Barat memperketat penjagaan di lokasi ujian.

Dengan adanya empat narapidana yang ikut UNBK itu, ke depan diharapkan mampu memotivasi narapidana lainnya di lapas untuk mengikuti ujian serupa. Sehingga, lanjutnya keberadaan mereka bisa berguna bagi masyarakat luas.

“Saya juga berharap pihak lapas mau memfasilitasi penyerahan ijazah Paket C dan B agar dapat disaksikan narapidana lainnya. Biar mereka tergerak menyelesaikan pendidikannya walau masih tersangkut masalah hukum,” urainya.

Ia menambahkan sebenarnya banyak narapidana yang tertarik ikut UNBK. Namun karena terganjal sejumlah persyaratan ijazah dan data keluarga, maka niatnya terpaksa ditunda terlebih dahulu. Ia pun menemukan latar belakang keluarga narapidana yang kebanyakan berantakan jadi penyebab tak bisa ikut ujian.

“Rumah-rumahnya kan ada yang jauh dari Semarang. Mau melengkapi syarat ujiannya pasti susah sekali. Karena yang siap ikut ujian baru empat orang, jadinya mereka kami fasilitasi dulu. Yang lainnya nanti bisa menyusul tahun depan,” ujar Hadi. (far)

You might also like

Comments are closed.