Imajinaspace, Berimajinasi dan Menjalin Relasi

Rumah Ramah Semarang

Semua karya ini merupakan interpretasi dari opini para kreator dalam menanggapi tema ruang imaji.

MACAM-macam saja cara yang dilakukan orang-orang untuk menyambut pergantian angka tahun. Lazimnya adalah selebrasi yang identik dengan keriuhan pesta, makanan dan minuman, hingga kemeriahan ikonik seperti kembang api dan sejenisnya. Tapi ternyata tidak seluruhnya seperti itu.

rumah ramah semarang
Pembukaan Pameran Imajinaspace oleh panitia dan Ketua RW 1 Genuk Krajan, Tegalsari, Candisari. (foto: metrosemarang/Efendi)

Sekelompok anak muda yang meninggali rumah kontrakan di salah satu sudut Kota Semarang, memiliki cara yang sedikit berbeda. Mereka menyebut tempat tinggal itu dengan Rumah Ramah Semarang. Tepatnya di Jalan Wonodri Krajan I, Candisari, Semarang.

Pada hari-hari terakhir di pengujung tahun 2018 lalu, mereka menyiapkan sebuah ruang yang diberi tajuk “Imajinaspace”. Ini adalah sebuah ruang pamer yang diisi dengan visualisasi imajinasi manusia dalam bentuk mural dalam media triplek.

Ada 15 triplek berukuran 100×120 cm yang dipenuhi gambar-gambar tentang ruang hidup, rumah, tubuh, sampai percintaan. Semuanya adalah karya mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).

“Semua karya ini merupakan interpretasi dari opini para kreator dalam menanggapi tema ruang imaji,” kata salah satu penggagas pameran karya mural ini, Wahyu Krisdianto. Pameran dijadwalkan berlangsung dari Senin, 31 Desember 2018 hingga Sabtu, 12 Januari 2019.

Pameran serupa pernah digelar satu kali pada akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018. Bersama rekan-rekannya, ia ingin membangun interaksi antara sesama mahasiswa jurusan DKV Udinus dan masyarakat secara luas.

rumha ramah semarang
Salah satu mural di sudut Imajinaspace Rumah Ramah Semarang. (foto: metrosemarang/Efendi)

Interaksi antar sesama mahasiswa di lingkungan yang belum sepenuhnya terbangun, menjadi salah satu latar belakang digelarnya pameran ini. “Interaksi antar mahasiswa yang belum sepenuhnya terbangun, membuat hubungan kami kurang begitu hangat. Dengan adanya kegiatan ini, kami bisa berkumpul, berbaur, berbagi, sekaligus membangun hubungan baru dengan masyarakat di luar lingkup kampus,” urai Wahyu usai pembukaan pameran.

Malam tahun baru yang ditingkahi hujan, tak menjadi penghalang bagi mereka untuk melanjutkan pembukaan pameran tersebut. Sorot lampu-lampu telefon genggam milik orang-orang yang ada di sana menggantikan lampu yang tak bisa menyala lantaran arus listrik di beberapa titik di Kota Semarang terputus malam itu.

Ketua Rukun Warga I, Genuk Krajan, Tegalsari, Candisari, Rusman Sayogo diundang untuk membuka pameran. Ia terkesan dengan pameran yang digelar di tengah pemukiman masyarakat. Menurutnya, ide kegiatan seperti itu bakal mampu membantu memerangi tindakan negatif, seperti penyalahgunaan narkoba dan sebagainya.

“Saya sangat senang melihat apa yang dilakukan adik-adik di sini. Ada sebuah kegiatan di kampung ini yang sangat positif. Ini memang selayaknya digelar di tengah masyarakat,” kata Rusman. Ia mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan dan berharap kegiatan tersebut rutin terlaksana dengan melibatkan lebih banyak orang, termasuk warga kampung.

 

Tukar Gagasan

Bagi para kreator yang karyanya dipajang di Rumah Ramah, pameran tersebut juga menjadi ajang untuk bertukar gagasan. Baik antar sesama mahasiswa, maupun antara mahasiswa dengan masyarakat di luar lingkup kampus.

“Ini dilakukan oleh mahasiswa lintas generasi. Bahkan alumni juga turut terlibat. Penting bagi kami untuk memperluas lingkaran pertemanan, membangun sebuah relasi, baik dengan sesama mahasiswa, alumni maupun dengan masyarakat. Dari situ akan timbul sebuah kerja sama yang nantinya bisa dilakukan setelah kita terjun di masyarakat,” kata Wahyu.

Pemeran tersebut juga menjadi wadah aplikasi materi yang didapat dalam perkuliahan, menjadi karya yang nyata. Tidak hanya karya yang sudah jadi yang bisa dinikmati. Anak-anak muda itu menggelar sudut menggambar secara langsung, atau live painting. Sepeda motor tua dijadikan media gambar.

Ruang pamer yang setiap hari dibuka mulai pukul 18.00 hingga 23.00 itu juga diramaikan dengan musik akustik yang dimainkan secara langsung. Mereka berencana memutar film dokumenter yang mengisahkan Rumah Ramah pada pengujung hari terakhir pameran. (*)

 

You might also like

Comments are closed.