Imam Yahya: Penyuka ‘Zona Tidak Aman’

Imam Yahya Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Imam Yahya
Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

SOSOK pemimpin ideal tak bisa diukur dari fasiitas mewah yang dia dapat. Seorang pemimpin harus punya pemikiran lebih maju hingga lima tahun ke depan.

Itulah prinsip yang diyakini Dr H Imam Yahya, M.Ag. Sebagai Dekan Fakultas Ekoomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo, pria kelahiran Bebes, 44 tahun lalu itu tak silau dengan segala fasilitas yang melekat pada dirinya.

“Seorang pemimpin harus memiliki pandangan jauh ke depan. Sebuah lembaga akan maju jika dipimpin oleh orang yang mampu membaca tiga sampai lima tahun ke depan, harus seperti apa dan mau bagaimana,” ujarnya saat ditemui metrosemarang.com, Kamis (18/12).

Baginya, dekan adalah pilihan, ingin mengambil manfaat sebanyak-banyaknya atau membuat sejarah. Fasilitas mobil dan ruangan ber-AC sangat melekat pada seorang dekan, dan setiap hari harus memikirkan lembaga untuk terus berkembang lalu terkenang. “Tinggal memilih saja dua perbandingan itu,” kata dia.

Saat ini dia ingin mengajak mahasiswa FEBI untuk merespons Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Menurutnya, perekonomian di Cina dan Jepang (Asia Timur), merupakan negara dengan tingkat perekonomian yang tinggi.

Bersama staf-stafnya, saat ini dia mengajukan program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) untuk bisa bekerjasama dengan negara-negara yang memiliki tingkat perekonomian tinggi di Asia. Tidak hanya itu, di tahun ajaran baru 2015, dia juga merencanakan pengadaan mata kuliah Bahasa Mandarin untuk FEBI.

“Memang semuanya tidak instan, dan saya termasuk pemimpin yang suka memilih di zona tidak aman, atau bisa dikatakan saya adalah orang yang suka tantangan,” terang Imam.

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga kerap menumpahkan ‘kegalauannya’ dalam bentuk

karya tulis, seperti buku, jurnal, dan artikel. Imam juga telah menelurkan sejumlah penelitian-penelitian hasil karyanya, antara lain: Rekrutmen Politik dalam Persepektif Syari’ah,  Kekerasan Berbasis Agama di Kabupaten Temanggung, dan lain-lain. Saat ini, dia juga dalam proses penelitian Politik Hukum Ekonomi Syari’ah, hasil perpaduan antara ilmu dari Dekan FS menjadi Dekan FEBI. (ans)

 

 

You might also like

Comments are closed.