Industri Pariwisata di Semarang Tumbuh Pesat

METROSEMARANG.COM – Sejak diluncurkan sekitar dua pekan lalu pada 2 Oktober 2017, tercatat 2.940 masyarakat telah menggunakan bus wisata double decker atau bus tingkat “Si Kenang” untuk berkeliling Kota Semarang.

Bus tumpuk jadi daya pikat wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Jumlah penumpang tersebut belum termasuk penumpang yang naik 3 buah Shuttle Bus dengan kapasitas masing-masing 15 penumpang yang disediakan untuk melayani masyarakat ketika bus wisata Si Kenang sudah penuh.

Minggu (15/10), suasana antrean masyarakat yang cukup panjang masih terlihat di Museum Mandala Bhakti, Semarang. Dari awalnya ratusan orang, semakin siang terus bertambah menjadi ribuan orang yang mengular mengantre untuk mendapat kesempatan berkeliling Kota Semarang menggunakan Bus Wisata Si Kenang.

Tak hanya dari Kota Semarang, masyarakat dari luar Semarang pun ramai ingin menjajal bus wisata. Pandu (25) salah satu penumpang Bus Tingkat Si Kenang yang berasal dari Kabupaten Demak  rela mengantri karena sangat tertarik dengan tempat-tempat wisata di Kota Semarang.

“Kalau naik bus ini kan bisa sekaligus ke beberapa tempat wisata di Semarang seperti Kampung Pelangi dan Kota Lama, apalagi gratis, jadi menghemat uang juga,” kata Pandu.

Besarnya antusiasme masyarakat untuk berkeliling Kota Semarang tersebut, menurut Wali Kota Hendrar Prihadi menunjukkan bahwa Kota Semarang saat ini telah menjadi daya tarik pariwisata di Jawa Tengah, bahkan Indonesia.

“Sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, saat ini kegiatan di Kota Semarang sudah bergeser dari Manufacture Industry ke Tourism Industry, setelah sebelumnya juga bergeser dari Agriculture Industry ke Manufacture Industry,” jelas wali kota yang akrab disapa Hendi.

Hal lain yang menjadi dasar wali kota ketika menegaskan adanya pergeseran kegiatan Industri‎ tersebut adalah dari jumlah hotel dan restoran yang meningkat tajam di Kota Semarang.

“Pada tahun 2011 lalu jumlah hotel di Kota Semarang hanya 110, sampai saat ini sudah mencapai 301. Begitu juga dengan jumlah cafe dan restoran yang pada 2011 lalu hanya berjumlah 463 restoran, saat ini sudah meningkat tajam menjadi 825,” papar Hendi.

“Maka dari itu arah pembangunan pariwisata kita saat ini sudah tidak lagi bicara tentang obyek wisatanya saja, tetapi sudah meningkat pembahasannya ke kawasan‎ wisatanya,”‎ jelasnya.

Dia mengatakan salah satu contohnya adalah pada upaya membangun Kelurahan Kandri menjadi desa wisata bertaraf internasional. “Fokusnya bukan hanya pada mendorong Goa Kreo di sana sebagai daya tarik, tetapi harus lebih luas dengan mendorong kawasan wisatanya, yaitu Desa Kandri sebagai daya tarik, agar secara langsung dapat memberi dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar,” tandasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.