Ini 5 Tradisi Malam Satu Suro di Semarang

malam satu suro di semarang

METROSEMARANG.COM – Sebenarnya yang disebut malam satu suro dalam tradisi Jawa tak lain merupakan malam jelang tahun baru Hijjriyah yang jatuh pada tanggal 1 Muharram. Dalam kepercayaan msyarakat Jawa, malam satu suro diyakini sebagai malam keramat. Berbagai tradisi pun digelar seperti lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), selamatan maupun ada yang berendam di sungai. Umumnya bertujuan untuk mencari berkah dan menolak bala atau bencana.

Pun di Semarang tradisi ritual malam satu suro  dilakukan turun-temurun. Di Ibukota provinsi Jawa Tengah ini warga pun menggelar aneka kegiatan. Berikut 5 tradisi malam satu suro di Semarang yang sering dilakukan warga:

Berendam di Tugu Suharto

Sejak puluhan tahun lalu, Tugu Suharto menjadi tempat utama untuk ritual malam satu suro di Semarang. Tugu Suharto sendiri sejatinya merupakan monumen peringatan yang dibangun untuk mengenang perjuangan mantan presiden Soeharto melawan penjajah Belanda. Letaknya memang berada di tempuran (pertemuan) dua aliran sungai Kaligarang. Konon, pada malam-malam tertentu Soeharto berendam semalam suntuk di tempuran (pertemuan dua aliran sungai Kaligarang) yang terletak di kelurahan Bendan Ngisor Kecamatan Gajah Mungkur ini. Sebagai penganut Kejawen, mendiang Soeharto percaya bahwa laku spiritualnya ini akan membawa kemuliaan. Entah kebetulan atau tidak, beberapa tahun kemudian Soeharto berhasil menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bahkan berkuasa hingga 32 tahun lebih sebelum lengser pada tahun 1998.

Lek-lekan Warga

Saat malam satu suro hampir sebagaian warga Semarang menggelar ritual lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk) dengan berkumpul bersama di gang-gang kampung. Biasanya warga membuat hidangan nasi tumpeng dan menggelar doa bersama.

Mencuci Keris

Ritual mencuci pusaka berupa keris banyak dilakukan di malam satu suro. Ritual ini umumnya dilakukan oleh seorang dukun dengan memakai air khusus yang sudah dimanterai.

Ziarah ke Makam Leluhur

Beberapa warga Semarang menghabiskan malam satu suro dengan ‘ngalap berkah’ dengan berziarah ke beberapa makam yang dianggap sebagai tokoh leluhur kota ini. Salah satu makam yang kerap dikunjungi adalah makam ulama besar Muhammad Saleh bin Umar As-Shamarani atau terkenal dengan nama Kiai Sholeh Darat di TPU Bergota.

Bersemedi

Bagi warga yang mengikuti ajaran Kejawen, malam satu suro digunakan untuk bersemedi atau bermeditasi. Umumnya mereka mengambil tempat yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk manusia. Konon, di beberapa kawasan perbukitan Semarang kerap digunakan untuk bersemedi saat malam satu suro. (*)

 

 

You might also like

Comments are closed.