Ini Penjelasan Kalapas Kedungpane tentang Napi RMS yang Diduga Bebas Lebih Awal

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Kedungpane Semarang Tedja Kusuma angkat bicara terkait dugaan kesalahan prosedur dalam proses pembebasan salah seorang napi anggota Republik Maluku Selatan (RMS). Tedja bersikeras bahwa napi bernama Ferdian Rajawane itu telah selesai menjalani masa hukuman.

Ferdian adalah salah salah satu penari Cakalele yang mengibarkan bendera RMS saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di acara peringatan Hari Keluarga Nasional di Ambon pada Juni 2007 silam.

Saat itu Presiden dikagetkan dengan puluhan penari Cakalele yang masuk ke lapangan. Sambil mendekati panggung utama tempat Presiden SBY duduk, mereka membentuk formasi kotak dan salah seorang penari yang berada di tengah mencoba untuk membentangkan bendera RMS.

Sebanyak 19 orang ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Teterasia alias Yoyo yang dianggap sebagai otak insiden tersebut dijatuhi vonis seumur hidup oleh PN Ambon pada 2008 silam. Dia dijerat dalam pasal 106 KUHP jo pasal 55 Ayat 1 KUHP dan pasal 110 ayat (1) KUHP. Beberapa anggota lainnya dijatuhi dengan hukuman beragam, termasuk Ferdian yang dijatuhi hukuman 10 tahun.

Sedangkan berdasarkan keterangan Tedja, Ferdian dipindah ke Lapas Kedungpane pada 2008 bersama Petrus Rehayan. Menurut Tedja, pihaknya tidak salah dalam melakukan perhitungan remisi. Ia mengatakan, pembebasan Ferdian sudah memenuhi prosedur yang benar seperti dalam penghitungan remisi.

“Dia (Ferdian) dipindahkan ke Lapas Semarang tahun 2008. Terakhir mendapatkan remisi enam bulan. Penghitunganya sudah tepat,” tuturnya kepada metrosemarang.com, Senin(22/12) siang.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa seharusnya Ferdian baru bebas pada Februari tahun depan. Latar belakangnya, dulu ada PP No 99/2012 tentang Tata Cara dan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang menghapus remisi tahanan kasus pidana khusus (tipikor, narkoba, teroris, makar, separatis, dll).

Namun, Tedja juga punya penjelasan soal aturan tersebut. “Soal aturan perketatan remisi itu, Ferdinan belum kena, karena ia masuk penjara tahun 2007, aturan tersebut dikeluarkan 2012,” imbuhnya.

Ferdian dibebaskan pada Jumat (12/12) lalu sedangkan hukuman temannya Petrus berakhir Januari 2015. “Kalau dapat remisi Natal, kemungkinan Petrus juga bisa keluar Desember ini,” tandas Tedja. (yas)

You might also like

Comments are closed.