Ini Soal Emansipasi Bukan Sekadar Mode Pakaian

opini kartini
Suasana perayaan Hari Kartini di Polrestabes Semarang. Para Polwan berkebaya. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

 

KARTINI  adalah perempuan keturunan priayi Jepara yang namanya kini dikenal seantero Indonesia. Hari kelahirannya 21 April 1873 kini ditetapkan sebagai hari nasional atas apa yang ia lakukan untuk kaum perempuan di negeri ini. Singkat cerita pada masa itu kaum perempuan tidak memiliki pilihan hidup untuk lebih mengenal pendidikan tinggi.

Mereka harus terjerat dalam sangkar kehidupan yang dibatasi oleh kebudayaan sehingga menjauhkan mereka dari kata setara pada masa itu. Memang di era itu Kartini dan perempuan di Nusantara memakai pakaian tersebut dalam keseharian. Namun ini sama tidak ada hubungannya dengan emansipasi yang Kartini lakukan selama hidupnya.

Zaman saya kecil mengenal Hari Kartini itu sebagai hari kebaya. Bahkan mulai sejak sekolah dasar hal tersebut terpampang jelas saat menjelang hari kartini. Seiring perkembangan mode pula, banyak peragaan busana yang menggunakan Hari Kartini sebagai ajang mencari keuntungan oleh sebagian pihak, memang tidak dipungkiri bahwa itu bukan tindakan yang menjelekan citra Ibu Kartini.

Memang dengan adanya peragaan tersebut perempuan akan nampak lebih cantik dan lebih anggun. Hmm.. kolerasinya dimana ya? Dari emansipasi ke mode pakaian?

Makna emansipasi sendiri menurut pemikiran Kartini yang ditulis oleh Citra Mustikawati  dalam Jurnal kajian komunikasi www.neliti.com 2015. Merupakan kebebasan dan kemandirian dalam bidang pendidikan dan berumah tangga.

Kartini menginginginkan perempuan mendapatkan pendidikan yang tinggi di bangku sekolah dan menolak poligami. Tentunya hal itu dilakukan melalui surat yang ditulisnya untuk sahabatnya yang berbangsa Belanda.

Dari rangkaian cerita ini, bisa kita tarik kesimpulan. Secantik apapun pakaian yang kamu kenakan baik itu kebaya ataupun pakaian lain jika kamu masih tidak melakukan apa-apa untuk orang di sekitarmu dan masih berpikiran bahwa kamu pantas menerima kekerasan karena gender, kamu belum 100% menghargai jasa Kartini.

Karna saat ini akses perempuan sudah terbuka lebar untuk memperoleh pendidikan, namun bagaimana Ilmu yang kamu dapat juga dapa bermanfaat itulah yang perlu kita tingkatkan. Misalnya dengan mengikuti organisasi kampus dan menyumbangkan pemikiran brilian mu untuk kemajuan bersama.

Fitria Eka (Jurnalis, bekerja di Metrosemarang.com dan Metrojateng.com)

Comments are closed.