Intel Kejaksaan: Gafatar Harus Dilawan secara Sistematis

Seminar membahas tentang Gafatar di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng, Kamis (28/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Seminar membahas tentang Gafatar di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng, Kamis (28/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Pihak intelejen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah menyebut, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) saat ini telah berkembang secara sistematis. Oleh karena itu, pembersihan terhadap paham ideologi yang menyimpang di Gafatar juga harus dilakukan dengan cara serupa.

“Harus dilawan secara sistematis juga. Penanganannya ekstra ordinary. Sebab, ideologi Gafatar akan selalu ada dari berbagai pandangan,” tegas Jacob Hendri P, Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, saat menggelar seminar di kantornya Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (28/1).

Hendrik lantas menjelaskan, Gafatar memang telah berulang kali mengajukan SK organisasi resmi di tiap pemerintah daerah. Tapi selalu ditolak dalam oleh bupati/walikota hingga Gubernur Ganjar Pranowo.

Meski begitu, lemahnya peraturan pembentukan ormas di UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat, dalam Putusan MK Nomer 2/PUU-XI/2013 yang terdapat perubahan pada pasal 5, membuat embrio ajaran sesat ini masih leluasa bergerak di tiap daerah.

“Ini yang harus dicermati. Aturan di negara kita ternyata membolehkan para mantan tokoh agama palsu untuk membuat ormas lain yang kurang lebih sama,” kata Hendrik.

Akibatnya, lanjut Hendrik, membuat tiap uji materi yang dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi kurang tepat karena ormas yang sejatinya mengajaran aliran agama, menjadi sulit dideteksi.

Hal tersebut diperparah dengan karena untuk mendaftarkan suatu ormas yang tidak berbadan hukum, tidak memerlukan surat keterangan terdaftar baik dari bupati/walikota, gubernur maupun Menteri.

“Ini juga yang terjadi di Gafatar. Merea bergerak sistematis di bidang sosial dan kesehatan namun mengajarkan agama yang menyimpang,” tutupnya.

You might also like

Comments are closed.