Isu SARA Merebak, Omzet Pengrajin Barongsai Berkurang Jelang Tahun Ayam Api

METROSEMARANG.COM – Hari Raya Imlek 2568 tinggal hitungan hari. Bagi pengrajin barongsai dan pernak-pernik khas Tionghoa lainnya, perayaan Tahun Baru Cina tersebut menjadi momentum untuk meraup rezeki. Tapi, isu SARA yang merebak belakangan ini, membuat peruntungan mereka meredup menjelang dimulainya Tahun Ayam Api.

Sutikno (duduk di kursi) tengah mengerjakan pesanan barongsai dibantu karyawannya. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Sutikno, pengrajin barongsai di Jalan Seteran Tengah, Semarang mengakui jika situasi politik di tanah air juga turut berpengaruh terhadap omzet penjualan kerajinan yang sudah digelutinya sejak 1972 silam itu. Dia mencontohkan, kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta non-aktif , Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Menurutnya, kasus itu sangat sensitif apalagi bersinggungan dengan ras tertentu. Ia mengungkapkan jika penjualan tahun ini lebih sedikit dibanding tahun lalu. “Kalau tenang banyak yang beli, tapi kalau tegang seperti ini agak sepi,” kata dia saat ditemui metrosemarang.com, belum lama ini.

Meski begitu, pria 65 tahun tersebut mengaku sudah memiliki pelanggan tetap, sehingga omzetnya tidak menurun drastis. “Paling jauh dari Papua. Untuk satu buah barongsai membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Proses yang paling lama adalah membuat rangka barongsai dengan merangkai rotan dan bambu menjadi bentuk kepala naga,” imbuhnya.

Sutikno berkisah, dirinya telah mengalami pasang surut sejak menekuni bisnis kerajinan barongsai, sekitar 45 tahun silam. Awalnya Sutikno merupakan seorang sales penjual obat. “Saya itu salah jalan saat mencoba menjadi pengrajin barongsai karena saya itu salesman,” ujarnya.

Perlahan karirnya sebagai pengrajin barongsai mulai menanjak. Hal ini membuatnya mantap untuk meninggalkan obat-obatan farmasi yang telah menghidupi keluarganya. “Getok tular saja, pembeli yang satu bilang temennya, temennya itu bilang ke temennya yang lain, begitu seterusnya,” imbuhnya.

Selanjutnya, dia dan istrinya Tatik Susilowati mulai serius menjadi perajin barongsai dengan merekrut tiga karyawan yang bisa membantu memenuhi pesanan. Kini setelah 45 tahun menjadi pengrajin barongsai, Sutikno hanya berharap kondisi Indonesia bisa damai dan tenang, sehingga dia dan teman-teman seprofesinya bisa berbisnis dengan nyaman. (vit)

 

 

 

 

You might also like

Comments are closed.