Ita Minta Orientasi Pengenalan Sekolah Diisi Kegiatan Bersih-bersih

METROSEMARANG.COM – Edukasi pengelolaan sampah kepada 1.000 anak-anak SD, SMP dan SMA/SMK di Kota Semarang yang menjadi duta pengelolaan sampah dinilai sebuah lompatan besar. Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan, hal itu karena anak-anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan posisi generasi saat ini dalam pembangunan.

Edukasi pengelolaan sampah bersama anak-anak SD, SMP, SMA/SMK di balai kota. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

‘’Kami mengapresiasi edukasi yang diberikan kepada anak-anak. Memang penting menyiapkan generasi yang memahami dan mau melakukan pengelolaan sampah yang benar,’’ kata wakil wali kota yang disapa Mbak Ita dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah bersama anak-anak SD, SMP, SMA/SMK di balai kota, Rabu (10/5).

Jika anak-anak atau generasi saat ini melakukan pengelolaan sampah dengan benar, ia yakin di tahun-tahun mendatang masalah sampah bisa terselesaikan. Termasuk multiplayer efeknya dari permasalahan sampah seperti banjir dan lainnya.

Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi salah satu PR hampir di seluruh kota di Indonesia termasuk di Kota Semarang. Semarang sudah melakukan upaya mengelola sampah menjadi pupuk organik dan gas metan. Tapi upaya itu perlu didukung pencegahan dini dari sumber produksi sampah yakni rumah tangga salah satunya lewat edukasi kepada anak-anak ini.

Lebih jauh, wakil wali kota perempuan pertama di Kota Lumpia ini berharap, pada masa orientasi pengenalan sekolah anak-anak tidak disuruh mencari dan membawa barang yang aneh-aneh. Tapi lebih baik diajak untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sekolah dan kota.

‘’Untuk anak-anak SD kegiatan bersih-bersih di sekolah, SMP bisa di tempat wisata, dan SMA bisa bekerjasama dengan provinsi untuk melakukan kegiatan yang terkait mengelola sampah,’’ ungkapnya.

Orientasi pengenalan sekolah dengan kegiatan semacam itu sudah lama menjadi impian Pemkot Semarang. Jika anak-anak pintar mengelola sampah harapannya bisa mengajari keluarganya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Di Semarang, katanya, faktanya banjir yang terjadi kerap kali disebabkan oleh karena saluran drainase tersumbat sampah.

‘’Diharapkan di anggaran perubahan tahun ini Pak Bunyamin (Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, red) juga menganggarkan lomba sekolah terbersih dan terkotor, biar yang terkotor nanti malu. Lomba ini bisa jadi upaya konkrit sekolah mendidik anak-anak terbiasa hidup bersih,’’ katanya. (duh)

You might also like

Comments are closed.