Jangan Sekali-Kali Tangkap Burung di Kampung Ini

Kalau Tak Mau Ditangkap Juga

Pernah ada seseorang yang nekat memburu burung hingga 6.000 ekor di Nongkosawit. Saat itu warga yang memergoki lantas menangkal pemburu tersebut dan membawanya ke Polsek Gunungpati.

KAMPUNG di pinggiran Kota Semarang ini cukup tenang. Nyaris tak terdengar deru mesin kendaraan bermotor. Rumah-rumah warga di kanan kiri jalan kampung tampak asri. Ragam pepohonan meneduhi tempat-tempat tinggal di kampung ini. Kampung Nongkosawit namanya. Letaknya ada di Kecamatan Gunungpati, sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Semarang.

penangkaran burung
Burung paruh bengkok yang ditangkar di Kampung Nongkosawit. Di kampung ini ada larangan untuk berburu burung. (foto: metrojateng/Fariz Fardianto)

Pada beberapa tikungan jalan kampung, papan-papan larangan memburu burung terpampang mencolok. Mudah sekali dilihat. Di Nongkosawit, ada larangan menembak maupun menangkap kawanan burung jenis apapun. Larangan juga berlaku bagi warga, meskipun burung tersebut menyambangi rumah mereka.

Jika melanggar, sanksinya tak main-main. Mulai dari ditangkap warga, hingga dilaporkan ke kantor polisi. Pernah ada seseorang yang nekat memburu burung hingga 6.000 ekor di Nongkosawit. Saat itu warga yang memergoki lantas menangkal pemburu tersebut dan membawanya ke Polsek Gunungpati.

“Langsung ditangkap oleh warga, digebuki dan diseret ke Polsek. Itu supaya menimbulkan efek jera. Supaya tidak ada lagi yang memburu burung d Nongkosawit,” kata Suwarsono. Warga Kelurahan Nongkosawit mendapuk Suwarsono sebagai Ketua Desa Wisata Nongkosawit.

Menurutnya, pelarangan perburuan burung itu untuk menjaga populasi burung-burung kecil dan menjaga kelestarian lingkungan. Hal itu juga bukan tanpa alasan. Sebab, Nongkosawit sendiri telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2012 oleh Pemerintah Kota Semarang.

“Sebagai desa wisata yang berbasis budaya dan edukasi, kami punya pedoman hidup untuk menjaga kelestarian alam. Bila ada yang nekat menangkap burung di sini, kita tidak segan menjatuhkan sanksi tegas,” ungkap Suwarsono.

Kelurahan Nongkosawit terdiri dari lima rukun warga, yang masing-masing memiliki keunikan berpotensi wisata. Mulai dari penangkaran tikus putih, sekolah karawitan, obyek wisata curug dan monyet ekor panjang sampai penangkaran burung paruh bengkok.

Kakatua nongkosawit
Kakatua termasuk spesies burung langka yang ditangkar di Kampung Nongkosawit. (foto: metrojateng/Fariz Fardianto)

 

Penangkaran Burung Langka

Seorang penangkar burung paruh bengkok di RW I, Lukman Riwayadi, menyebut dirinya telah dua tahun merawat puluhan ekor burung langka. Kakatua jambul putih, murai, nuri merah, love bird, cenderawasih, cucak rowo, dan jalak bali. “Perawatannya agak susah. Kami rutin memberi makan burung yang ditangkarkan di sini, dua kali sehari,” ungkapnya.

Burung yang dirawat Lukman, semula didapat dari sejumlah kolega yang menitip. Penitipan itu sekaligus digunakan sebagai sarana edukasi bagi warga setempat. “Ada juga para pelajar datang kemari mau lihat bagaimana cara menangkarkan burung. Kami senang bisa ikut melestarikan satwa langka yang nyaris punah,” bebernya.

Penangkaran burung ini diharapkan bisa menjadi ikon untuk Nongkosawit. Lurah Nongkosawit, Al Choiri mengatakan, pihaknya harus lebih banyak melakukan sosialisasi kepada warga sekitar, berkaitan dengan desa wisata.

Mindset masyarakat harus dipertajam lagi. Pembenahan infrastruktur oleh pemerintah kota sudah ada. Tinggal warga yang harus lebih giat dalam melestarikan satwa langka,” kata Choiri. (Fariz Fardianto)

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh metrojateng.com dengan judul 
"Larangan Penangkapan Burung di Nongkosawit Berbuah Manis".

Comments are closed.