Jauhi Momok Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pendidikan Vokasi

SEMARANG –  Bank Indonesia (BI) merilis Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Kantor BI Provinsi Jawa Tengah, Rabu (25/4). Pada laporan tersebut selain menyampaikan kajian perekonomian nasional juga dipaparkan perekonomian Jawa Tengah pada tahun lalu.
kemiskinan jawa tengah
Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng menyerahkan cinderamata kepada Plt Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko di sela acara Diseminasi Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Kantor BI Provinsi Jawa Tengah, Rabu (25/4). (Foto:metrojateng.com/Anggun Puspita)

Plt Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko menyampaikan, tingginya angka kemiskinan masih menjadi momok atau persoalan yang harus dituntaskan di Jawa Tengah. “Meski pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada angka 5,27% dan inflasi 3,57%, namun angka kemiskinan masih cukup tinggi yakni 12,23%. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 10,01%,” ungkapnya.

Persoalannya, lanjut dia, karena tingkat pendidikan masyarakat yang tidak merata. Diketahui, 60% demografi tenaga kerja di Jateng tingkat pendidikannya masih SD dan SMP. Bahkan mayoritas atau 60% tenaga kerja itu lulusan SD. Kondisi itu berbanding terbalik dengan makro ekonomi di Jateng yang sudah baik, namun tingkat pendidikan masyarakat masih rendah sehingga tidak akan mampu terserap di dunia usaha.

“Kami contohkan pabrik sepatu yang berada di Salatiga dan Jepara membutuhkan tenaga kerja masing-masing 8.000 orang serta 7.000 orang. Tapi tenaga kerja tidak bisa diserap di sana karena minimnya keterampilan mereka,” tutur Heru.

Melihat kondisi itu Pemprov Jateng berupaya untuk menggandeng dunia usaha bersinergi menyiapkan tenaga kerja. Salah satu caranya adalah dengan menggenjot pendidikan vokasi. “Tidak hanya pendidikan vokasi di sekolah formal saja yang harus digenjot untuk meningkatkan keterampilan tetapi juga melalui pendidikan vokasi nonformal,” katanya.

Pendidikan vokasi nonformal dapat dilakukan melalui pelatihan tenaga kerja. Sehingga, angka kemiskinan di Jateng dapat ditekan dan setelah itu penyaluran tenaga kerja bisa berjalan baik, kemudian pengangguran juga menurun.

“Ketika pengangguran punya penghasilan, dia jadi punya daya beli. Sehingga tingkat konsumsi meningkat, dan industri juga ikut berkembang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo‎ menyampaikan, melalui buku laporan perekonomian Indonesia 2017 itu pihaknya mendorong kalangan dunia usaha semakin agar siap bersinergi dengan pemerintah.

“Sektor andalan di Jawa Tengah yakni tekstil dan produk tekstil. Hal itu dapat‎mendorong pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Sehingga, kondisi ekonomi yang relatif bagus pada 2017 lalu, harapannya bisa berlanjut pada tahun 2018 ini,” tuturnya.

Adapun, lanjut dia, tenaga kerja kerja juga menjadi elemen penting satu di antaranya untuk mendongkrak dunia usaha. Maka itu, sekolah kejuruan harapannya dapat mencetak tenaga terampil untuk terjun ke dunia usaha. (ang)

Comments are closed.