Jejak Peninggalan Raja Gula Asia di Bukit Simongan

UDARA terasa hangat tatkala masuk ke Kampung Bojongsalaman RT 03/RW VIII, Kecamatan Semarang Barat. Berjarak 1 kilometer dari Jalan Raya Pamularsih, suasana kampung tersebut tampak lengang.

Penampakan rumah Oei Tiong Ham dari jalan Kampung Bojongsalaman. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Di kampung tersebut, terdapat sebuah rumah besar khas Tionghoa yang dihuni sejumlah warga. Sepintas, rumah itu berdiri diatas lahan sangat luas. Bangunannya dua lantai. Lantai pertama dihuni 11 warga.

“Saya di sini sejak 1960 silam,” kata Mbah Warni, kepada metrosemarang.com, Rabu (28/3).

Perempuan 86 tahun itu bilang, rumah besar tersebut peninggalan keluarga Oei Tiong Ham di Semarang. Tiong Ham diketahui menghabiskan masa kecilnya bersama sang ayah, Oei Thie Sien. Tiong Ham dikenal sebagai pengusaha opium dan jual beli gula terkaya se Asia Tenggara yang meninggal pada 1924 silam.

Perwakilan keluarga Tiong Ham pun pernah beberapa kali menyambangi rumah tersebut. “Cicitnya Tiong Ham, perempuan, masih muda, tiga tahun lalu kemari, lihat-lihat ke dalam, tanya-tanya apa saja peninggalan harta buyutnya,” sahut Yanti, warga lainnya di rumah keluarga Tiong Ham.

“Waktu pertama kali tinggal di sini, memang masih ada dua patung macan. Meja marmer, wadah hio ukuran besar, beberapa lukisan Cina. Kemungkinan sudah diambil sama kepala asrama ABRI yang sempat tinggal di rumah ini,” lanjut Mbah Warni.

Berdasarkan penuturan Mbah Warni, rumah peninggalan Tiong Ham pada zaman dahulu digunakan sebagai asrama tentara. Kebetulan, ia semula ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan.

Mbah Warni, penghuni rumah Tiong Ham di Simongan. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Suami saya asli Ponorogo. Kemudian tahun 1960 disuruh tinggal di sini. Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,”.

Metrosemarang.com memantau rumah keluarga Tiong Ham kini terbengkalai. Temboknya kusam. Atapnya bocor kala hujan.

Pejabat Pemkot Semarang sempat menengok rumah tersebut. Pemerintah pernah memintanya pindah untuk memanfaatkan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah.

“Akan diminta untuk ditempati pemerintah tapi kami minta ganti lokasi rumah yang baru karena sudah lama di sini. Namun sampai kini tidak ada kabarnya lagi,” tuturnya.

Lantaran tak pernah disentuh pemerintah, sebagian rumah peninggalan Tiong Ham kini dalam kondisi keropos. Ia bahkan menjadikan sebagian rumah itu sebagai kandang ayam.

Senada diungkapkan Yanti, warga lainnya. Dia menganggap keberadaan rumah itu sebenarnya punya nilai historis yang penting. Sebab, usia bangunannya sudah tiga abad lebih.

“Walau keliahatannya rapuh tapi kayunya kokoh. Lantainya juga masih asli. Sempat mau dicongkelin tapi saya larang. Kusen jendelanya juga ada yang mau beli Rp 700 ribu. Malahan, kayu atapnya sempat ditawar Rp 2 miliar,” cetusnya.

Namun, menempati rumah milik bekas pengusaha opium terkaya pun bukan perkara mudah. Diakuinya, keluarganya sempat diganggu arwah perempuan Tionghoa yang konon merupakan anak terakhir Tiong Ham. Arwahnya sering bergentayangan saat siang maupun malam hari untuk menampakkan diri.

“Yang enggak kuat pasti lari terbirit-birit. Makanya, lantai atas rumah ini saya biarkan kosong melompong,” bebernya. Rumah keluarga Tiong Ham sendiri kini dikelola PT Rajawali Nusantara Indonesia. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.