Jembatan Berok, Simbol Penghubung Antaretnis di Semarang

METROSEMARANG.COM – Jika mendengar nama Jembatan Berok saat ini, tak terpungkiri ada stigma miring tentang aktivitas malam hari yang ada di sana. Namun sebenarnya jembatan ini memiliki sejarah yang sangat penting bagi perkembangan Kota Semarang.

Jembatan Berok Semarang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Jembatan Berok Semarang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Menurut Pegiat Wisata Kota Semarang, Wahid United, sebutan kata Mberok sebenarnya berasal dari kata Berok dan berasal dari Bahasa Belanda dengan kata asli Burg yang berarti ‘jembatan’.

Jembatan ini merupakan penghubung titik-titik penting di Semarang kala itu, yaitu Pasar Johar, Masjid Menara Kampung Melayu, Kantor Pos Besar Semarang dan Gedung Keuangan Negara, yang juga merupakan bangunan kuno peninggalan Belanda. Tanpa jembatan ini, Jalan Pemuda tidak akan mudah dijangkau jika akses dari Kota Lama.

“Pada zaman kolonial, Kali Semarang merupakan sungai terpenting di Semarang. Kapal-kapal pedagang hilir mudik, mengantarkan berbagai komoditas dari pesisir pantai ke daratan Semarang. Sebelum 1910, jika ada kapal besar yang lewat, jembatan ini disa dinaikkan dan terbagi menjadi dua. Setelah kapal lewat, jembatan diturunkan kembali,” kata dia, Minggu (1/5).

Beberapa tahun kemudian, Berok diubah berupa deretan besi. Tidak hanya satu jalur, Berok dibangun menjadi dua jalur yang menjembatani berbagai etnis di sekitar Berok, seperti Belanda, pribumi, etnis Tionghoa dan Arab. (ade)

You might also like

Comments are closed.