Jengkol Tak Pengaruhi Laju Inflasi Jateng

METROSEMARANG.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah memastikan lonjakan harga jengkol yang menyentuh angka Rp 100 ribu per kilogram sejauh ini tidak mempengaruhi laju inflasi di wilayahnya.

Tingginya harga jengkol tak berpengaruh terhadap laju inflasi di Jawa Tengah.

Berdasarkan data indeks harga konsumen yang dirilis Mei kemarin, kelompok bahan makanan menyumbang  inflasi 1,75 persen. Kemudian diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang menyumbang 0,51 persen.

Kepala BPS Jawa Tengah Margo Yuwono mengatakan, tidak ada daftar lonjakan harga jengkol dalam daftar komoditas pangan yang mengalami kenaikan di bulan kemarin.

“Yang naik di Mei ialah bawang putih, telur ayam ras, tarif dasar listrik, bensin, beras, daging ayam, cabai merah, tukang bukan mandor,” kata Margo dalam keterangan resmi data inflasi Mei yang diterima metrosemarang.com, Selasa (6/6).

Selanjutnya, komoditas lainnya yang naik yaitu rokok kretek filter, upah pekerja rumah tangga, kentang, kusen, semangka, cabai hijau, salak, tomat, rokok kretek, jambu batu, rawon, sop, celana jeans, kaos berkerah dan bedak

Meski begitu, menurutnya kelompok bahan makanan tetap punya andil kenaikan inflasi Mei dengan IHK mencapai 141,47 persen. Lonjakan IHK ini lebih tingi ketimbang capaian April yang mengalami deflasi 1,00 persen dengan besaran IHK 139,04 persen.

Ia menambahkan dari total 11 sub kelompok  bahan makanan itu, sembilan sub di antaranya mengalami kenaikan inflasi dan dua sub justru menyumbang penurunan inflasi. “Inflasi tertinggi disumbang kelompok bumbu dan terendah lemak dan minyak,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.