Jenitri, Air Mata Dewa Penangkal Polutan

Ikon Baru Wisata Nongkosawit

Heyne mencatat, pohon ganitri atau jenitri, menghasilkan biji yang disebut Rudraksha. Pemeluk agama Hindu memercayainya sebagai air mata Dewa Siwa

SUWARSONO sedang memunguti buah jenitri tua yang berjatuhan di halaman Kantor Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, saat kami datang menemuinya. Berbentuk bulat, kira-kira sebesar buah kelengkeng, berwarna ungu kebiruan. Di kampung itu, sekurangnya terdapat 15 pohon jenitri. Tiap pohon tersebar di beberapa wilayah Rukun Warga (RW).

Mulanya, pohon-pohon itu ditanam untuk mengurangi polusi udara. Itu merupakan keinginan warga setempat, setelah mereka berembug dan bersepakat. Mereka mendapatkan bibit jenitri dari Kabupaten Kebumen.

Jenitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) adalah pohon yang termasuk suku Elaeocarpaceae. Merupakan salah satu tumbuhan yang dapat menghasilkan hasil hutan bukan kayu. Di Indonesia jenis ini biasa disebut ganitri dan jenitri serta memiliki nama lokal yang berbeda, Klitri (Madura), Sambung susu (Jawa), Biji Mala, Mata Siwa (Bali), Biji Sima (Sulawesi Selatan), dan Katulampa (Bogor).

Sumber: Himpunan Profesi Mahasiswa Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

 

Belakangan, lewat penelusurannya di internet, Suwarsono menemukan beberapa artikel yang memaparkan manfaat jenitri. Ia menyebut hasil penelusuran, diantaranya; pohon jenitri memiliki daya tumbuh yang sangat cepat, cengkeraman akar yang kuat, daunnya pun lebat.

“Sehingga pohon ini dikenal memiliki daya serap yang besar untuk polutan. Buah ini juga memiliki khasiat yang baik bagi tubuh,” Suwarsono melanjutkan penjelasan manfaat buah jenitri di genggamannya, berdasarkan penelusurannya.

Disebutkan Suwarsono, biji jenitri mengandung 80 persen senyawa bio elektromagnetik dengan ragam manfaat bagi tubuh. Suwarsono mendengar, orang-orang India yang beragama Hindu kerap memakai kalung maupun gelang jenitri lantaran percaya jika jenitri mampu memperlancar sistem metabolisme tubuh.

jenitri
sumber: http://tgc.lk.ipb.ac.id

Buku “Info Teknis Perbenihan Tanaman Hutan: Teknik Pematahan Dormansi Benih Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb)” terbitan Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan memaparkan catatan Heyne pada tahun 1987. Heyne mencatat, pohon ganitri atau jenitri, menghasilkan biji yang disebut Rudraksha. Pemeluk agama Hindu memercayainya sebagai air mata Dewa Siwa. Biji yang kering digunakan untuk semacam tasbih atau rosario dan kalung untuk tujuan meditasi.

Biji ganitri yang digunakan sebagai kalung dapat mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung dan menurunkan tekanan  darah. Biji ganitri mengandung elemen mikro yang dapat memengaruhi sistem otak pusat sehingga dapat menenangkan otak dan menghasilkan pikiran positif. Selain itu kayu dari pohon ganitri digunakan untuk pertukangan dan bahan baku alat musik, seperti gitar dan piano.

“Atas manfaat itulah, kami terpacu untuk membudidayakan pohon jenitri,” ujar Suwarsono. Dikatakan dia, jenitri termasuk tanaman yang tahan perubahan cuaca, memiliki daya tahan yang tinggi, kembangnya pun selalu mekar sepanjang masa.

 

Aksesori Jenitri

Buah jenitri yang tua itu lantas diambil bijinya yang keras dan besar. “Itu yang kita oleh menjadi kerajinan tangan,” kata Suwarsono. Warga setempat lalu membuat berbagai aksesori dari biji jenitri. Mulai dari kalung, gelang, sampai tasbih.

Untuk membuat kerajinan dari biji jenitri, buah jenitri harus direndam dalam air selama dua malam. Setelah itu, dagingnya dikupas dan disikat sampai kelihatan biji jenitri yang berwarna cokelat muda. Biji itu butuh dikeringkan untuk dapat diproses lebih lanjut.

buah jenitri
Tasbih, kalung dan gelang biji jenitri yang dibuat oleh warga Nongkosawit. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

Biji yang kering lalu dilubangi dua ujungnya. Karena teksturnya yang sangat keras, maka untuk melubangi biji jenitri, dibutuhkan bor. Lubang-lubang pada biji berfungsi untuk memudahkan proses meronce biji jenitri menjadi aksesori yang modelnya telah dirancang.

Para pembuat aksesori ini sendiri percaya bahwa jenitri membawa tuah. Titin, salah satu pembuat aksesoris jenitri, kerap membuat kalung jenitri dengan jumlah biji yang ganjil. Dari tiga belas, lima belas dan seterusnya.

“Biji jenitri yang ganjil punya keampuhan dalam menyembuhkan penyakit dan gangguan lainnya,” begitu yang ia percayai. Pada biji jenitri juga terdapat mukhi atau bentuk belahan yang unik dan dipercaya membawa kekuatan magis bagi yang mempercayainya.

Suyono, warga RT 01/RW V, Kampungnya Getas Nongkosawit, telah merasakan khasiat biji jenitri dari aksesori yang dipakainya. Denyut jantungnya menjadi normal, peredaran darahnya juga lancar.

“Biji jenitri ini juga dipercaya bisa menyerap racun dalam tubuh. Bahkan ada yang percaya biji jenitri bisa melanggengkan kekuasaan. Itu kepercayaan bagi orang-orang tertentu yang memakainya. Yang pasti, efek positifnya akan timbul bila jenitri yang sudah jadi kalung atau gelang digunakan setiap hari,” papar Suyono.

 

Ikon Wisata

Sebagai Desa Wisata Nongkosawit, Suwarsono terlibat dalam festival pohon yang diinisiasi oleh Komunitas Kandang Gunung. Komunitas itu membentuk organisasi Green Community yang memiliki kegiatan terkait dengan  pelestarian alam Nongkosawit. Lewat festival itu, pohon jenitri diperkenalkan secara lebih luas.

“Nongkosawit yang sebelumnya populer sebagai sentra durian, rambutan dan nangka. Sekarang kami kenalkan sebagai pusat budidaya jenitri di Semarang. Sekarang kami masih mencoba meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya manfaat jenitri bagi kesehatan tubuh,” ungkap Suwarsono.

biji jenitri
Untuk dapat dironce menjadi kalung dan gelang atau aksesori lain, biji jenitri perlu dilubangi menggunakan bor. Hal itu karena tekstur biji jenitri yang keras. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

Ia yakin bila masyarakat ikut membudidayakan jenitri lebih luas lagi maka mereka akan mampu meraup pundi-pundi rupiah yang berlimpah. Seperti Titin dan beberapa perajin aksesori jenitri lainnya memperoleh pendapatan tambahan dari bisnis tersebut.

Aksesori jenitri memiliki nilai ekonomi yang lumayan. Sebuah aksesori dibanderol dengan harga antara Rp 40 ribu per hingga paling mahal Rp 250 ribu. Ragam harga bergantung pada tingkat kesulitan pembuatannya.

Jenitri telah menjadi ikon wisata baru di Nongkosawit. Warga merawat pohon jenitri hingga tumbuh besar. Mereka juga berencana mengembangkan pohon menjadi lebih banyak lagi. (*)

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana
You might also like

Leave A Reply