Ini Dia Jetnet, Jaket Khusus Tunanetra Bikinan Mahasiswa Undip

METROSEMARANG.COM – Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) ciptakan jaket khusus untuk penyandang tunanetra. Diberi nama Jetnet, jaket ini mampu mendeteksi benda atau kondisi jalan di sekitar pemakai dengan radius tiga meter.

Jetnet, jaket khusus yang didesain untuk penyandang tunanetra karya mahasiswa Undip. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Menggunakan sensor jarak HCSR-04 dan sensor sudut Gyroscope, Jetnet akan menginformasikan obyek yang berada di sekitar dengan jarak tiga meter dari pemakai. Informasi yang didapat dengan sensor tersebut kemudian disalurkan dengan modul mp3 dan akan tersaji dalam bentuk suara yang akan terdengar melalui earphone.

Ada delapan sensor yang mempunyai area deteksi sendiri dan semuanya terpasang dalam badan jaket. Selain itu ada dua sensor yang mendeteksi area bawah, dua sensor mendeteksi area depan dengan radius tiga meter, dua sensor yang mendeteksi bagian samping dengan radius 1,5 meter, dan dua sensor mendeteksi bagian belakang.

“Jika sensor membaca, maka keadaan tersebut diteruskan ke earphone dan diterjemahkan dalam bentuk suara. Misal, awas depan, awas kiri, awas kanan. Sensor ini juga bisa memeringatkan jika ada lubang,” ujar Ketua Kelompok, Teguh Kurniawan, Rabu (19/7).

Jaket ini digagas oleh empat orang mahasiswa yakni, Teguh Kurniawan, Krismon Budiono, Rose Mutiara, Yuni Prihatin. Proses perancangannya sendiri memerlukan waktu sekitar 4 bulan.

“Kita sudah beberapa kali melakukan perubahan dalam merancang bentuk jaket untuk menyesuaikan agar alat sensornya bisa masuk,” beber Teguh.

Setelah melalui beberapa kali kegagalan dalam desain, Jetnet yang sekarang dianggap yang paling baik karena mampu mengamodir alat-alat dan sensor.

Untuk dayanya sendiri, mereka menggunakan baterai berdaya tahan hingga enam jam. Baterai terpasang dalam kotak yang juga berisi konponen pengolah data dan di ikatkan pada badan pemakai menggunakan ikat pinggang.

Untuk berat keseluruhan jaket ini tidak lebih dari satu kilogram. Namun kotak yang berisi baterai dan beberapa komponen masih terbilang memakan tempat. Pasalnya, saat dipakai pada bagian belakang masih terlihat menonjol dan perlu melakukan pembiasaan.

Lebih lanjut, sensor di jaket ini dikatakan tahan terhadap hujan. Saat hendak dicuci, sensor bisa dilepas karena menggunakan sistem plug and play dan bernomor sehingga memudahkan dalam memasang supaya tidak salah tempat.

“Bisa awet asal tidak terendam. Jika itu terjadi sensor tidak lagi bisa kerja maksimal,” tambah Teguh.

Untuk biaya pembuatan Jetnet sendiri menghabiskan uang sebesar Rp 3,1 juta. Namun Teguh menyatakan jika jaket ini dibuat dalam jumlah yang banyak, maka biaya pembuatannya pun akan lebih murah.

Terpisah, dosen pembimbing dari Fakultas Teknik Elektro Undip, Aris Tri Wiyatno mengatakan Jetnet sudah diuji coba kepada tiga tunanetra. “Hasilnya sangat baik. Pemakai mampu menerjemahkan informasi yang disampaikan. Namun memang butuh terbiasa agar antara informasi dan gerakan bisa selaras,” terangnya.

Dia pun mengklaim suatu saat jika Jetnet sudah semakin sempurna maka tunanetra bisa lepas dari tongkat. (fen)

You might also like

Comments are closed.