Jika SK Ditutup, Kasus Penularan HIV/AIDS Makin Tak Terkontrol

METROSEMARANG.COM – Niat Kementerian Sosial (Kemensos) yang akan menutup lokalisasi Sunan Kuning Semarang pada 2019 nanti membuat sejumlah pihak semakin was-was.

Penyuluhan PSK Sunan Kuning. Rencana penutupan Lokalisasi Sunan Kuning dikhawatirkan justru akan menyulitkan pengawasan penularan HIV/AIDS. Foto: metrosemarang.com/dok

Koordinator Lentera ASA, Ari Istiadi sebagai pihak keamanan di lokalisasi itu mengganggap kebijakan Kemensos nantinya justru menimbulkan masalah baru bagi Kota Semarang. Misalnya, kata Ari terdapat 621 pekerja seks komersial (PSK) di SK yang akan menjajakan diri di pinggir jalan.

“Namanya kebutuhan perut, siapa yang bisa menjamin? Kalau ternyata setelah dari SK mereka masih masih melakukan praktik prostitusi bagaimana? Bukankah mereka justru akan berkeliaran di jalanan,” cetus Ari kepada metrosemarang.com, Rabu (20/12).

Ia mengaku resah dengan kondisi tersebut. Sebab, fenomena PSK menjual diri di jalanan pernah merebak di Semarang pada medio 1996 silam. Kala itu, banyak orang yang menyebut PSK pinggir jalan dengan panggilan ciblek dan teh poci lantaran jumlahnya yang terlampau banyak.

Banyak praktik prostitusi yang tidak terpantau kerap terjadi di sejumlah lokasi, seperti Jalan Imam Bonjol dan Tanggul Indah (TI). Hal tersebut rawan menjadi tempat penularan HIV/AIDS. 

“Kalau tidak terpantau justru sulit mengawasi PSK. Kalausekarang, kami dan pemerintah bisa mengawasi penularan HIV/AIDS dari para PSK. Caranya ya dari visitasi pemeriksaan kesehatan,” terangnya.

Dengan berkeliarannya PSK di jalanan juga mengganggu kenyamanan pusat kota. “Ironisnya saat ini masih ada 487 PSK yang menggantungkan mata pencahariannya di SK. Mereka juga menjadi pemandu karaoke di semua wisma,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.