Jokowi Gencar Bangun Tol, Campervan Diyakini bakal Booming Lagi

METROSEMARANG.COM – Apa jadinya jika proyek jalan tol yang sedang digarap di sejumlah daerah bisa kelar tahun ini? Maka, tidak menutup kemungkinan banyak mobil volkswagen (VW) campervan bakal booming lagi di Indonesia.

Yudi Yumos, pemilik bengkel VW saat berpose di samping mobil snail camper yang diklaim pertama kali dibuat di Indonesia. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Setidaknya optimisme tersebut menyeruak di benak Yudi Yumos, seorang pemilik bengkel VW Dakota terbesar di Kota Lunpia Semarang.

Menurut Yudi, dengan bodi ceper, VW Dakota campervan sangat cocok dikendarai di jalan tol yang memiliki medan mulus beraspal.

Pemilik campervan pun bisa leluasa memilih rest area sebagai tempatnya beristirahat ketimbang repot-repot mencari hotel.

“Yang pasti, kalau banyak tol selesai dibangun di Jawa dan Bali, maka campervan jadi pilihan favorit bagi anak muda pada tahun ini. Sebab, mobilnya cocok untuk mendukung gaya hidup yang fleksibel dan efisien. Campervan bisa dipakai istirahat di rest area. Dengan begitu, pemiliknya tidak butuh hotel,” kata pria yang punya nama asli Wahyu Pamungkas tersebut, di bengkelnya Kampung Dakota Tembalang.

Yudi mengaku sedang mengebut sejumlah pesanan campervan untuk pelanggan luar negeri. Ia memberi contoh ada sebuah Dakota jenis snail camper yang sudah dipajang di bengkelnya.

“Ini satu-satunya model terbaru yang ada di Indonesia. Snail samper dibuat selama 1,5 tahun. Bahan bakunya dari bodi Dakota,” ujar Yudi sembari menunjukan sebuah snail camper.

Snail camper buatan bengkelnya sudah dilengkapi kasur, wastafel, ruang lebar untuk selonjoran dan alat-alat camping. Mobil itu, kata Yudi pernah dipamerkan di Jakarta, Bandung, sampai Bangkok Thailand. “Dua tahun lagi dipamerkan ke Inggris,” sergahnya.

Yudi bilang snail camper merupakan mobil istimewa karena dibuat dari bangkai Combi Brasil yang jatuh ke dasar jurang di Magelang. Semula bodi Combi ringsek. Kemudian, pemiliknya menjualnya dengan harga miring.

Diakuinya pula, dengan membeli bangkai-bangkai Combi seperti itu, maka bisa mengurangi beban biaya produksinya. Tak jarang, ia blusukan ke setiap bengkel mobil untuk berburu bangkai Combi. Untuk spare partnya, ia mengakali dengan berburu di pasar loak di pelosok daerah.

“Untungnya, banyak teman yang rutin ngasih info bengkel-bengkel yang masih menyimpan bangkai Combi. Saya selalu beli Combi yang ndongkrok di bengkel Rp 10 juta. Kalau masih ada mesinnya ya Rp 25 juta,”.

Bengkel VW Yumos kini telah memproduksi berbagai jenis mobil Dakota berbagai jenis untuk pesanan dalam maupun luar negeri. Jika di tahun 2017 ia mampu mengerjakan 17 pesanan mobil. Maka tahun ini, pesanannya kurang lebih 15 unit.

Untuk sebuah Dakota ia banderol seharga Rp 495 juta. Sedangkan, campervan harganya mencapai Rp 525 juta. “Itu sudah termasuk mesin, interior sama suspensinya. Pembeli tinggal terima jadi,” tuturnya.

Peminat Dakota buatannya hampir 70 persen berasal dari luar negeri. Ia mengatakan kerap mengekspor ke Jerman, Australia, Italia, Prancis, Jepang dan hampir seluruh negara Eropa. Ekspornya sudah dimulai sejak 2011 silam. “Kalau lokalan paling dikirim ke Padang, Bali, Jakarta dan Surabaya,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat akan ikut pameran VW di Bandung. Yudi bahkan memproduksi sebuah VW kodok untuk ikut ajang drag race di sirkuit yang dibangun di Lapangan Udara Husein Sastranegara.

“Sampai sekarang peminat VW sendiri sangat bagus. Dengan permintaan kian banyak, maka otomatis banyak bermunculan penggemar baru,” akunya. (far)

You might also like

Comments are closed.