Jose Amadeus, Mendalang Saja Tak Cukup

Gagas Wayang Kronik

“Muda, Tionghoa, tapi kok dalang, bikin wayang pula. Bagaimana mungkin?” Kalau kamu punya pandangan semacam itu, simak obrolan kami dengan tamu ini. Selanjutnya kamu bisa menilai sendiri relevansi pandanganmu.

JOSE datang bersama ayahnya pada waktu yang hampir bersamaan dengan kami, di Semarang Contemporary Art Gallery kawasan Kota Lama Semarang. Ia bilang, kami bisa ke tempat itu jika ingin melihat wayang kulit hasil rancangan dia. “Sedang ada pameran benda-benda koleksi peranakan. Wayang buatan saya ada di sana,” kata Jose lewat aplikasi percakapan di telefon.

Wayang kulit Dewi Kwan Im Seribu Tangan dipajang di dinding tangga menuju lantai dua galeri. Wayang rancangan Jose itu telah dikoleksi oleh pengusaha Semarang, Harjanto Halim.

Setiba di galeri, Jose menyalami kami. Tapi kami tak lantas mengobrol. Karena Jose sibuk memotreti beberapa ornamen yang ada pada seperangkat gamelan dan perabotan yang dipamerkan di lantai satu. “Buat cari-cari referensi untuk ornamen wayang kronik,” begitu katanya.

Foe Jose Amadeus Krisna, mengidentifikasikan dirinya sebagai dalang Tionghoa. Ia memainkan wayang Jawa. Tak cukup dengan mendalang, Jose kini mendesain wayang. Ia menyebut wayang multikultural. Ini hal baru di kancah pentas pewayangan, bisa jadi ini yang pertama di Indonesia.

Lepas dari ketelitiannya memotret, Jose menghampiri kami untuk berbincang.

 

Siapa tokoh pewayangan Jawa yang paling Jose sukai?

Semar. Karena dia itu perwujudan dewa yang mau jadi rakyat biasa, untuk membimbing para pemimpin agar jadi lebih baik. Maksudnya, saya bisa merasa kalau semar itu sebetulnya punya kuasa. Dia anak Sang Hyang Wenang, dewa tertinggi kalau di Jawa. Seharusnya dia yang jadi raja tiga buana. Tapi dia memilih turun ke dunia menjadi orang biasa dan membuat orang-orang lebih baik.

Artinya, ya kita harus bisa memberikan manfaat buat orang lain. Walaupun kita dianggap orang kecil, mungkin cuma petani di desa, tukang batu, atau mungkin tukang areng. Tapi kita tidak boleh lupa kalau kita punya andil dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

 

NGUDHANG WAYANG | Lama sekali tidak mendalang, kali ini di Monodhuis … mendalang non formal … buat seneng2 aja … cerita 4 jadi 1 … Kartapiyoga Maling-Semar mBarang Jantur-Baladewa Jago-Baladewa Ratu … digarap cuma dalam waktu 1,5 jam pementasan Eee kok ya pas tadi ketemu dengan seorang sahabat lama … sempat tertegun dan pangling melihatnya sekarang ini ☺☺☺☺ … Lama tidak bersua, eee secara tidak sengaja ketemu di Monodhuis 30 Juni 2018 Jepretan oleh Pak @agus_boedi_santoso Jadi dalang harus jenius, harus pandai merangkai cerita supaya emosi cerita tersampaikan, dengan konsep garap tetap mementingkan gendhing2 yang sesuai dengan suasana cerita. Walaupun awalnya ada rencana2 gendhing, tapi ternyata di implementasinya pasti ada perubahan2 lagu … tidak waton brang breng brang breng … mementingkan candaan tapi juga emosi cerita … Janè ya pusing, tapi itulah tantangan tersendiri bagi saya untuk menjadi dalang Maklum … KARAT BERLIAN dengan KARAT BESI kan berbeda …. 😊😊😊😊

A post shared by Fu Chong Gao 傅崇高 (@foe_jose) on

 

Sejak kapan suka wayang?

Jangan kaget, ya. Saya suka nonton wayang dari umur tiga tahun.

 

Apa sih wayang itu di mata Jose?

Menurut saya, wayang itu salah satu budaya yang paling kompleks. Banyak sekali pesan moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Wayang juga bisa jadi media pengembangan diri untuk menjadi lebih baik, lewat filosofi ceritanya atau mungkin dari tokoh wayang itu sendiri.

Yang paling penting, wayang di dunia cuma ada satu, yaitu di Indonesia. Jadi sebagai orang Indonesia harus bangga lah punya wayang. Apalagi orang-orang di luar negeri itu menghargai Indonesia dari budayanya, salah satunya wayang.

Saya dengar, berdasarkan penelitian dan observasi teman-teman, di Belanda, Amerika, Prancis dan Jerman, wayang dan gamelan jadi terapi khusus untuk orang-orang yang mengalami keterbelakangan sifat untuk pengembangan diri. Selain itu juga untuk para narapidana dan mahasiswa.

Nilai kuliah mahasiswa yang mempelajari wayang dan gamelan lebih bagus dibanding nilai mahasiswa yang tidak mempelajari. Wayang dan gamelan bisa menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri. Saya lebih tertarik ke arah itu.

 

Kenapa memilih wayang kulit ketimbang wayang orang?

Kalau saya boleh anggap, wayang orang itu lebih ke arah teater dan seni tari. Bukan seni ukir atau seni batik. Kalau wayang kulit sudah komplit, ada seni ukir, seni pahat, seni lukis, seni gerak, dan seni musik. Ada batik dan keris. Sangat kompleks.

Dalam wayang kulit, dalang bisa dibilang sebagai sutradara. Mulai dari penataan panggung, penataan wayang, penataan musik, pembuatan cerita, semua dalang (yang berperan – red). Sebagai dalang saya harus bisa semuanya. Bisa paham seni musik, seni rupa, dan seni tari. Bisa mengusai banyak ilmu itu kok sepertinya menyenangkan. Membuat diri lebih fleksibel (bergaul-red) dengan banyak orang.

 

Belajar mendalang sejak kapan?

Tahun 2013. Saat kelas II sampai kelas III SMP.

 

Siapa yang mengajari?

Saya belajar di Sobokarti Semarang di Jalan Dr Cipto Semarang. Belajar satu tahun, kemudian mulai pentas. Selanjutnya pengembangan sendiri. Belajar dari dalang senior, akademisi ISI (Institut Seni Indonesia) Solo atau ISI Jogja, dan SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Dari mereka saya belajar menjadi dalang yang baik.

 

Punya dalang favorit?

Ki Narto Sabdo dari Semarang. Saya suka dia walaupun konsepnya masih pakeliran zaman dahulu. Tapi dia sudah berani untuk memasukan adegan-adegan atau kata-kata yang mungkin pada saat itu melanggar pakem. Misalnya, dahulu wayangan bisa sembilan jam dari jam sembilan malam sampai jam enam pagi, tetapi sama Pak Narto dipangkas dua jam. Ditambah banyolan yang segar tentang kehidupan masyarakat.

Selain itu, Pak Narto itu orang yang kreatif. Buktinya saja dia menciptakan gending klasik, dolanan, atau gending garap pewayangan yang sampai saat ini masih digunakan oleh dalang-dalang. Beliau jadi inspirasi saya lah. Dari dia saya belajar kalau berkaya itu jangan setengah-setengah, harus total. Jadi tidak bertahan hanya satu tahun, tetapi produk budaya yang kita buat harus bertahan 50 tahun atau 100 tahun.

Pakeliran merupakan semua bunyi vokal maupun instumental yang dipergunakan untuk mendukung suasana yang ingin dibangun dalam sebuah pementasan wayang. Secara umum meliputi gamelan, sinden, penyanyi laki-laki, pemain gamelan dan lagu karawitan yang semua disesuaikan dengan pertunjukan wayang. (Wikipedia)

Selain itu juga Ki Purbo Asmoro, akademisi dari ISI (Institut Seni Indonesia) Solo. Dia mencoba memasukan konsep garap ke konsep pakeliran satu malam. Konsep garap itu, seperti membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Tokoh-tokoh yang tidak perlu juga tidak dimasukkan dalam cerita inti, dibuat padat menjadi sekitar tiga sampai lima jam, jadi lebih cepat.

Pak Probo Asmoro juga seorang yang kreatif. Di dalam olah gending selalu berhasil membawa emosi penontonnya, sehingga penonton bisa terhanyut dalam cerita. Perwatakan tokoh dia juga sangat kuat.  Beliau juga kreatif membuat berbagai cerita, walaupun dari satu sinopsis yang sama tapi adegannya pasti ada yang unik.

 

Jose tidak hanya mendalang, tapi juga membuat wayang. Jose menggagas wayang kronik. Seperti apa wayang kronik itu?

Kronik diambil dari kata chronicle, bermakna sejarah. Wayang kronik berisi sejarah Cina, novel klasik Cina, legenda Cina. Bentuknya wayang Jawa, tapi ornamen-ornamen di dalamnya mengambil dari wayang Cina.

Ini perpaduan antara wayang Jawa dengan wayang Cina. Bisa disebut multikultur. Ceritanya berasalkan dari sejarah-sejarah Cina, novel klasik Cina seperti “Sun Go Kong”, “Kisah Tiga Negara”, “Sih Jin Kui” dan berbagai legenda-legenda Cina lain, seperti  “Sam Pek Eng Tay.”

 

Ini jenis wayang baru?

Wayang kronik Ini kan pengembangan dari wayang yang sudah ada tahun 1925. Waktu itu di Jogja (Yogyakarta) ada wayang Cina-Jawa atau Wacinwa, buatan Gan Thwan Sing yang juga seorang Tionghoa. Cuma bentuk wayangnya masih kaku dan full (sepenuhnya berbentuk – red) orang.

Saat ini, Wacinwa tinggal ada ada 2 set wayang di dunia. Satu set wayang dikoleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Satu set lainnya dikabarkan pernah tersimpan di tempat Dr Walter Angst, di Uberlingen, Bodensee, Jerman). Wacinwa tersebut adalah set yang pernah dimiliki Dr F.Seltmann. Dr Angst membelinya tahun 1995, setelah Dr Seltmann meninggal tahun 1995.Dr Seltmann sendiri membeli set Wacinwa itu sekitar tahun 1960 dari sebuah toko barang bekas. Tidak diketahui bagaimana set itu bisa sampai di toko tersebut. Diketahui set tersebut sebelumnya merupakan koleksi Chineesch Institut Yogyakarta.

Dr Angst sendiri telah maninggal pada 15 Agustus 2014. Ia meninggalkan 140 peti wayang klasik yang ia dapatkan dari Jawa hingga Bali. Tapi keberadaan Wacinwa milik Dr Angst masih belum bisa dipastikan. Ada kabar yang menyebut masih di Jerman, tapi ada yang menyebut telah berpindah ke California, Amerika Serikat.

Wacinwa koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta terbuat dari kulit kerbau. Memilki pernak-pernik yang sama dengan wayang purwa, namun karakter dan bentuk wayang mirip wajah orang Cina. Ada 200-an tokoh wayang dan ratusan potongan karakter kepala yang dapat diganti sesuai kehendak dalang. Ukuran wayang relatif lebih kecil, berukuran rata-rata 70 cm.

(Wacinwa : silang budaya Cina-Jawa – Buku koleksi Museum Negeri Sonobudoyo)

Kalau yang saya buat ini bentuknya sudah proposional bentuk wayang Jawa. Jadi ada pengembangan-pengembangan atau penyempurnaan bentuk wayang, konsep cerita, tata panggung, perlengkapan-perlengkapan lain. Mungkin gamelannya, atau musik iringan. Bisa saja ada percampuran musik Cina dengan Jawa.

Cerita Wacinwa diambil dari legenda masyarakat Cina pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907) Masehi. Tokoh utamanya adalah Sie Jin Kwie dari kerajaan Tong Tya. Karakter Wacinwa lain terdiri dari dewa-dewi, siluman, pendeta, raja, permaisuri, bangsawan, menteri, prajurit, dayang-dayang, perampok, binatang ( seperti singa, naga, kuda) dan gunung. (sumber: goodnewsfromindonesia.id)

 

wayang kronik
Tokoh wayang Sie Jin Kui, koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. (sumber: goodnewsfromindonesia.id)

 

Apa yang mendorong Jose membuat wayang kronik?

Wayang kronik ini persembahan khusus untuk leluhur-leluhur saya. Lewat wayang kronik, saya mau memperlihatkan pluralisme Indonesia. Ternyata tidak ada perbedaan yang mencolok. Kita Indonesia, kalau bersatu pasti Indah.

Ibaratnya saja soto. Yang bikin enak soto itu kan ada nasi, ada ayam, ada bawang, ada bumbu, ada kuahnya, ada sate, ada seledri. Semua punya peran untuk membuat semangkuk soto itu enak. Enaknya juga kalau dicampur. Coba dimakan terpisah, malah jadi aneh.  Itulah kebudayaan Indonesia.

Wayang kronik Jose terbuat dari kulit, dipahat secara manual oleh perajin wayang di Wonogiri. Sebelum proses pemahatan, terlebih dulu Jose membuat sketsa dan desain wayang. Saat ini, Jose sedang belajar memahat demi dapat memahat sendiri wayangnya kelak.

 

Sudah ada berapa karakter wayang kronik yang Jose buat?

Kalau yang sudah jadi wayang, baru ada wayang Dewi Kwan Im dan wayang Sun Go Kong. Tapi kalau desain wayang, sudah hampir 74 desain dari sekitar 500 wayang (dalam satu set). Tokohnya saya diambil dari novel dan komik cerita Tiongkong klasik. Diambil, disadur, dicari wataknya yang sesuai dengan wayang Jawa.

 

Berapa lama waktu buat bikin sketsa tokoh wayang kronik ?

Kalau lagi mood, satu jam bisa 10 sampai 20 tokoh. Kalau lagi nggak mood, ya sehari paling Cuma satu sketsa. Itu saja kadang nggak selesai.

 

Desain wayang yang kamu buat itu imajinasi mu atau ada referensi lain? Seperti buku misalnya?

Proporsi desain saya mengambil dari wayang Jawa. Bentuknya blak pakai wayang jawa, lalu ambil outline (Jose menumpukkan kertas pada gambar wayang Jawa, untuk mendapatkan garis luar – red). Kemudian dikembangkan sendiri, dengan memasukan ornamen tokoh Cina. Mulai dari bentuk mahkota, bentuk mata, bentuk kepala, bentuk pakaian, sepatu, sampai corak dalam batiknya.

Corak batik saya ambil dari Lasem atau bentuk batik Cina yang asli, jadi digabungkan. Tapi tidak meninggalkan sentuhan ornamen khas Jawa. Saya juga melihat di buku, seperti Buku Kajian Wacinwa, tapi itu Cuma sebagian kecil saja. Selebihnya, saya banyak mengamati patung dewa-dewa dan lukisan-lukisan kuno dari Cina. Jadi bentuk pakaiannya lebih otentik.

 

Sewaktu menggambar karakter wayang, apa yang pertama kali muncul dalam bayanganmu?

Ini ada cerita spiritual. Jadi sebelum membuat wayang kronik, sekitar November 2017 saya didatangi Dewi Kwan Im lewat mimpi. Dia datang dengan seribu tangan. Bayangan itu terus muncul di kepala. Sampai-sampai mau tidur lagi saja tidak bisa. Akhirnya coba saya gambar dan jadilah satu tokoh wayang kronik Dewi Kwan Im.

 

Ada yang pernah menyepelekan karyamu?

Awalnya banyak. Ada yang bilang bentuknya kurang bagus dan masih kaku. Saya coba perbaiki pelan-pelan, sambil tanya sama mereka. Barangkali tahu bentuk yang asli itu seperti apa. Kalau mereka tidak tahu ya sudah. Tapi kalau misalnya tahu, ya saya belajar dari mereka. Tanya apakah bentuknya sudah betul atau belum. Kalau belum rapih ya harus dibetulkan terus. Harus belajar dari orang-orang banyak.

 

Kalau disepelekan, bagaimana caramu menghadapinya?

Ya dengan berkarya. Saya lebih banyak diam dan berkarya saja.

 

Ada yang ingin kamu sampaikan kepada teman-teman sebaya di Semarang?

Jangan pernah takut dan mundur buat berkarya dan berbudaya. Walaupun itu tradisional, walaupun dianggap tolol sama orang-orang. Jangan salah, meskipun kita mempelajari budaya tradisional, kita bisa melalang buana. Kalau sudah keluar dari Indonesia, kita malah dianggap expert dan istimera.

Aku rasa, pemuda Indonesia harus mau mempelajari dan mendalami kebudayaan kita sendiri. Sebagai gambaran, saat ini wayang menjadi salah satu budaya adiluhur, yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, warisan budaya dunia selain juga batik dan keris.

Coba bandingkan dengan challenge-challenge tidak jelas itu. Semua yang beraliran moderen, tidak ada yang diakui sebagai warisan budaya dunia. Bisa dikatakan bodoh kalau tidak mau mempelajari dan mendalami kebudayaan sendiri. Apa mau anak muda di negeri ini dicap tidak peduli akan budaya sendiri?

 

Ngomong-ngomong, kapan nih wayang kronik dipentaskan?

Wayang kronik ini baru lahir Febuari 2018. Jadi ini masih pematangan dari bentuk-bentuk pewayangan. Konsep ceritanya baru renacana  Febuari saat imlek tahun depan (2019) pentas perdana.

Reporter: Fitria Eka Mawardi
Editor: Eka Handriana
Videografer: Efendi
Video editor: Efendi

Comments are closed.