Jual Terompet, Kloso Rela Tidur di Trotoar

Kloso dan terompet dagangannya. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono
Kloso dan terompet dagangannya. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono

SEMARANG – Saat mendekati Tahun Baru seperti ini, biasanya pedagang terompet mulai bermunculan, seperti yang terlihat di beberapa ruas jalan protokol di Semarang. Di jalan besar seperti Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pandanaran sudah mulai menjamur para pedagang dadakan ini.

Kloso salah satunya, pria paruh baya ini mengaku sudah menjadi “penghuni” tetap Jalan Ahmad Yani, Semarang ketika pergantian tahun. Dia menjajakan terompet tahun baru buatannya sendiri sejak awal Desember 2014 lalu sampai 2 Januari 2015 mendatang.

“Saya asli Wonogiri. Ke Semarang dengan cara menumpang truk bersama rekan-rekan penjual terompet lainnya,” ujarnya. Menurutnya, keuntungan yang menggiurkan menjadi daya tarik utama ketika memutuskan untuk mengadu nasib di Semarang.

Tahun lalu, Kloso bisa menjual lebih dari 200 terompet. Sedangkan harga satuan terompetnya antara Rp 5.000 sampai Rp 25.000. “Paling ramai biasanya ketika malam Natal dan malam Tahun Baru. Kalau hari-hari biasa tidak pasti,” kata dia.

Kloso tidak memikirkan tentang tempat tinggal. Beralaskan kardus, dia menjadikan trotoar sebagai tempat tidur. Jika hujan turun, dia membentangkan tiang penyangga terompetnya yang kemudian ditutupi pastik di atasnya. Di bawah barang dagangannya dia berlindung dari hujan. (ade)

You might also like

Comments are closed.