Kakek Ini Mengais Rupiah dari Menimbang Badanmu

HARI sudah beranjak gelap ketika hiruk-pikuk para pejalan kaki memadati trotoar Jalan Pemuda, Semarang. Di tengah keramaian itu, terselip seorang lelaki tua yang duduk meringkuk ditemani sebuah timbangan badan.

Mbah Waris setia menunggu orang-orang yang ingin menimbang badan. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Mbah Waris, nama pria tersebut menyambut ramah saat ditemui metrosemarang.com, pada Senin (9/4).Dengan mengenakan topi biru kesayangannya, Mbah Waris saban hari mangkal di situ untuk menanti orang yang sudi memakai jasa timbangannya.

“Meh nimbang, Nang. Monggo,” kata Mbah Waris dengan logat Jawa kental saat memulai obrolan dengan metrosemarang.com.

Ia mengaku biasa menghabiskan hari-harinya sebagai tukang timbang badan keliling. Ia mangkal di trotoar Jalan Pemuda sejak matahari berada diatas kepala sampai senja datang. “Sampai tokonya tutup,” urainya sembari menunjuk teralis besi toko Ratu Paksi yang berada di belakangnya.

Ketika dulu masih bugar, tak jarang ia menyusuri kampung-kampung, menerabas jalanan kumuh maupun mangkal di trotoar untuk menawarkan jasa timbang badan.

“Awalnya jualan rokok, terus ganti kapur barus, karena ndak laku lagi saya ngider timbangan,” akunya.

Hidup di jalanan membuat dirinya menjadi saksi bisu perkembangan arus urbanisasi yang begitu cepat di Kota Lunpia. Ia mengatakan pernah melihat ketika bemo masih menjadi kendaraan favorit bagi masyarakat setempat.

“Saya di sini sudah 40 tahun lebih. Tahu betul saya pas jalanan ini banyak bemo, banyak orang naik sepeda jengki. Lha wong saya dulunya sering keliling dari Peterongan, Pamularsih, Simpang Lima sampai terakhir mangkal di trotoar ini,” kata warga asli Kampung Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Magelang tersebut.

Ditanya usianya, Mbah Waris mengaku tak ingat betul. Seingatnya, ia pernah mengalami masa-masa getir ketika perang merebut Kemerdekaan Indonesia pada masa 1945 silam.

Ketika Indonesia merdeka, ia pernah mengalami kelaparan sehingga harus memakan gaplek. “Tanda lahir saya cuma ditulis di papan lemari,” ujar Mbah Waris.

Di Semarang, kakek dua anak dan tiga cucu ini tinggal di Kampung Ngabangan, dekat Swalayan Matahari, Pasar Johar Lama. Ia tinggal indekost yang bercampur dengan para perantau dari daerah lain.

Mbah Waris mengungkapkan penghasilannya tak menentu. Jika sedang ramai orang menimbang badan, ia bisa mengumpulkan Rp 200 ribu sehari. Namun, kala sepi ia hanya mendapat uang Rp 100 ribu.

“Saya diberi seikhlasnya sama orang yang nimbang badan. Kadang lima ratus, kadang dua ribu. Sedikit yang penting dinikmati. Ndak ngemis, ndak minta-minta sama anak,” terangnya.

Ketika rindu menyergap, ia sesekali pulang kampung. Dalam setahun, ia pulang kampung dua kali. “Pas Bakda sama Maulud. Sisanya cari duit di sini, ngider timbangan,” katanya.

Sedangkan, Maulana, seorang penjaga toko Ratu Paksi menyampaikan pihaknya sudah terbiasa dengan kegiatan para pedagang di Jalan Pemuda. “Yang penting tetap jaga kesopanan dan tidak mengganggu jalan masuk ke toko, pasti tetap boleh jualan di sini,” terangnya. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.