Kalabendu dan Teror Regenerasi Teater Lingkar

Kalabendu menjadi kado ulang tahun ke-35 Teater Lingkar. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Kalabendu menjadi kado ulang tahun ke-35 Teater Lingkar. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

KALABENDU adalah suatu zaman yang menurut ramalan Jayabaya disebut sebagai masa kegelapan. Raden Ngabehi Ranggawarsita menyebutnya sebagai “zaman edan, yen ora edan ora keduman.”

Dalam Serat Chentini, ada sekitar 17 ciri untuk mengidentifikasi zaman Kalabendu. Dari penguasa zalim dan suka membohongi rakyatnya, manusia dibutakan nafsu dan harta, kemiskinan merajalela, hukum rimba berkuasa, bahkan alam pun murka.

Namun pada lakon Kalabendu karya mendiang Giwing Purba, hanya satu sisi saja yang diungkap. Yakni perilaku manusia yang memuja harta. Untuk mencapai kekayaan, mereka mencari pesugihan dan membuat perjanjian dengan setan. Apapun yang diminta Jung Mangsawuh, iblis penguasa Gunung Kawilatikta, dituruti. Dari korban keperawanan, nyawa anak, suami bahkan dirinya sendiri.

Naskah ini dipentaskan Teater Lingkar, sebagai kado budaya ulang tahun ke-35, Jumat (17/4) malam di Taman Budaya Raden Saleh. Suhartono atau Maston, pimpinan Lingkar sekaligus sutradara pertunjukan ini menyebutnya sebagai pertunjukan “membayar hutang”.

Ya sebelum Giwing berpulang, penggubah naskah Min Gereh, Rentenir, Kamasutra, 303, Sakit itu Mahal, Pardi Becak, Usai Banjir, Ringin Gandul, dan Blandong ini pernah berpesan agar Kalabendu yang merupakan naskah terakhirnya itu dipentaskan. Setelah sekian lama, Lingkar baru melakukannya kemarin malam.

Kelompok yang berdiri pada 1980 ini memusatkan panggung pada seraut wajah raksasa yag terbalut kain-kain putih lusuh menyeramkan. Entah, apakah penonton mengingatnya sebagai wajah mummi atau malah musuh besar Kenshin dalam Samurai X, Makoto Shishio. Keduanya sama-sama menghadirkan teror ketakutan. Suasana semakin terasa mencekam dengan permainan lampu yang didominasi warna merah, musik horor, dan bau kemenyan.

Dan entah, apakah karena ingin menyelaraskan dengan nafas kegelapan itu, tempo pertunjukan sengaja dibuat lambat. Hingga satu jam pertunjukan, permainan baru menapak tiga bagian; rapat dewan iblis, orang-orang yang datang ke dukun Mbah Dermaya untuk mencari pesugihan, dan laporan Lampor Klabang ke Jung Mangsawuh akan tugasnya yang selesai dengan gemilang.

Permainan khas Lingkar yang komikal dan komedial memang masih dihadirkan. Tapi seakan tidak membantu mengurangi kegelisahan penonton akan lambatnya plot cerita. Tawa riuh sekitar lima ratusan penonton yang memadati Gedung Pertunjukan TBRS memang masih sering terdengar. Tapi keluarnya beberapa puluh penonton di tengah pentas, menunjukkan bahwa kelambatan tempo itu menghadirkan rasa bosan.

Salah satu dedengkot teater Semarang, Nasrun M Yunus, menyebut Lingkar terlalu text book dalam menggarap Kalabendu yang secara sruktur naskah menurutnya lemah. “Tempo lambat itu seharusnya sudah bisa disadari ketika proses dan bisa disiasati agar tidak terasa monoton,” ucapnya dalam bincang ringan usai pertunjukan.

Kalabendu versi Teater Lingkar dianggap terlalu lambat. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Kalabendu versi Teater Lingkar dianggap terlalu lambat. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Selain itu ada satu hal yang perlu didiskusikan dari garapan Kalabendu ini. Ketika set panggung dan musik dibuat sedemikian rupa untuk menghadirkan situasi mencekam, Lingkar masih bersetia dengan karakter-karakter komikal dan pemanggungan ringan. Hal ini mungkin dipilih untuk mengatasi kelambatan tempo dan agar penonton tidak merasa terlalu berat. Tapi konsep ini malah berujung pada ending yang tidak mencekam.

Memang, dari sisi naskah, ending Kalabendu sudah terasa klise karena iblis-iblis yang sepertinya sakti manderaguna itu tiba-tiba tak berdaya hanya oleh kata-kata “Allahu Akbar”. Tapi mengingat panggung adalah wilayah tersendiri yang bisa dilepaskan dari pengaruh naskah, puncak pertunjukan Kalabendu terasa kurang greget dramatic-nya.

Perjuangan Slamet Tumbur, si tokoh utama, keluar dari dunia iblis dengan bergantungan pada kain yang dibentangkan orang-orang suci tidak terasa mendebarkan. Jatuh bangunnya Slamet tidak mampu menyirep penonton untuk ikut merasakan beratnya perjuangan. Sebagian penonton malah tertawa, bahkan keluar celetukan-celetukan mengomentari gerak dan ekspresi tokoh yang menurut mereka lucu.

Bangunan ending itu mungkin karena penonton masih terbawa situasi lucu di sepanjang permainan, kemudian jadi menganggap remeh perjuangan Slamet di akhir pertunjukan itu. Pertanyaannya, apakah ini terjadi karena aktor yang kurang kuat atau sutradara yang memang menginginkan demikian?

Sebab bagaimanapun, pesan penting Kalabendu ada di bagian akhir. Ending yang (seharusnya) menyugesti penonton untuk merenungkan segala perbuatan mereka di masa silam. Bagaimana manusia harus tetap berpegang pada nilai-nilai agama untuk tidak terjebak dalam keedanan zaman edan.

Jika harus menjawab, opsi pertama lebih masuk akal. Terutama masih kentaranya jurang kualitas teknik keaktoran antara pemain lawas dan aktor-aktor pemula. Pengalaman panjang Prieh Raharjo (Jung Mangsawuh), Suroso (Mbah Dermoyo), dan Wiwiek Ariwibowo (Martubi), belum dapat diimbangi oleh anak-anak muda Lingkar.

Jika mau jujur, hal ini bukan hanya terlihat pada Kalabendu. Tapi juga pada pertunjukan-pertunjukan Lingkar sebelumnya. Di luar aktor senior, sampai sekarang belum terlihat satu pun aktor muda yang berhasil menonjol. Maka kelompok tertua yang masih eksis di Semarang ini menghadapi satu masalah pelik; regenerasi.

Mungkin regenerasi terasa remeh untuk hanya disebut masalah. Regenerasi lebih seperti penyakit atau malah teror yang mengintai seluruh teater di Semarang, baik kampus maupun umum. Pertanyaan untuk teater kampus pun serupa. Siapa aktor, sutradara, dan penulis skenario yang menonjol tahun-tahun belakangan ini? Tidak ada.

Dan penyakit ini sudah pasti disadari Lingkar sejak lama. Sebagai pimpinan, Maston pun pasti sudah menyiapkan formula-formula khusus untuk mengatasinya. Lingkar sudah membuktikan mampu eksis 35 tahun, tentu saja tak ada sedikit pun keraguan bahwa Lingkar masih akan terus bertahan di tahun-tahun mendatang. Kalau naskah Kalabendu adalah karya terakhir Giwing Purba, hanya orang gila yang berpendapat bahwa lakon Kalabendu adalah pentas terakhir Teater Lingkar. (Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.