Kaligrafi Tiongkok Kuno dari Pecinan Semarang

Ditinggalkan Anak Muda

Sejak 1990-an sampai saat ini, telah ada 3.500 huruf kaligrafi Tiongkok yang dipelajari oleh Hwa Hing. Jumlah itu jauh lebih banyak ketimbang jumlah huruf yang diajarkan kepada pelajar SMP dan SMA di kawasan Pecinan Semarang

BERADA di gang sempit Kampung Sebandaran I, Kelurahan Gabahan, Liong Hwa Hing pagi itu sibuk menggoreskan mata kuas diatas lembaran kertas bambu. Berulang kali mata kuas itu menyapu kertas bambu, membentuk goresan huruf kaligrafi Tiongkok.

 

Padahal ini hobi dengan nilai seni yang tinggi. Sayangnya kurang dihargai oleh bangsa Indonesia.

-Liong Hwa Ling, Pelukis Kaligrafi Tiongkok-

Di usianya yang kini menapaki angka 70 tahun, kedua tangan Hwa Hing masih luwes. Aktivitasnya menekuni seni kaligrafi Tiongkok itu dilakukan demi mengusir sepi di masa tuanya.

“Menulis kaligrafi Cina juga bisa melatih tingkat kesabaran kita. Sekaligus mengasah keseimbangan jiwa. Karena menulis huruf mandarin bentuknya kan simetris. Dengan kita menulis huruf mandarin, itu bisa menuntun jiwa lebih stabil dan fokus menghadapi persoalan hidup,” akunya ketika berbincang dengan metrojateng.com, di rumahnya, Jumat, 22 Februari 2019.

Hwa Hing pernah mendengar cerita jika seorang Perdana Menteri Jepang ada yang dikenal sering menulis kaligrafi Tiongkok untuk melatih daya ingat dan keseimbangan jiwanya.

Hwa Hing sendiri menekuni seni kaligrafi Tiongkok sejak awal dekade 90’an. Mula-mula ia iseng menulis kaligrafi, itu dilakukan selepas pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai kantoran.

Hampir saban hari ia melatih jemari tangannya menggoreskan mata kuas diatas lembaran kertas bambu. Biasanya dalam satu hari, Hwa Hing latihan selama satu jam. Tapi jika moodnya sedang bagus, ia bisa menghabiskan semalam penuh hingga fajar tiba, untuk latihan membuat kaligrafi.

“Karena banyak waktu senggang maka saya pelajari kaligrafi Tiongkok saja. Malahan kalau pas mood banget, saya bisa nulis kaligrafi dari malam sampai pagi,” katanya.

Kegiatan sehari-hari Hwa Hing saat ini adalah mengajar di Perhimpunan Chinese Kaligrafi and Painting Semarang. Ia merekomendasikan pemakaian kertas bambu untuk media pembuatan kaligrafi dalam setiap pengajarannya, oleh sebab kertas bambu tidak gampang sobek.

 

Jenis Huruf

Sejak 1990-an sampai saat ini, telah ada 3.500 huruf kaligrafi Tiongkok yang dipelajari oleh Hwa Hing. Jumlah itu jauh lebih banyak ketimbang jumlah huruf yang diajarkan kepada pelajar SMP dan SMA di kawasan Pecinan Semarang, yang hanya sekitar 2.000 hingga 3.000 huruf.

Liong Hwa Hing sedang membuat kaligrafi Tiongkok di rumahnya Kampung Sebandaran. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Dari enam jenis huruf mandarin yang ada selama ini, Hwa Hing telah mempelajari empat jenis di antaranya. Yang pertama bernama huruf Kai Shu. Kemudian huruf Li Zhu yang telah ada sejak 2000 tahun sebelum masehi.

Huruf Li Zhu ini konon kerap dipakai oleh para raja Dinasti Han di daratan Tiongkok untuk membuat surat titah yang ditunjukan kepada pejabat kerajaan. “Tapi ketika Kuomintang berkuasa, semua huruf Li Zhu diubah oleh pemerintah yang berkuasa saat itu,” beber pemilik nama lain Hermawan tersebut.

Jenis huruf lain yang dipelajari Hwa Hing adalah Chao Shu. Huruf yang satu ini telah ada selama kurun waktu tahun 2000-4000 sebelum masehi. Tingkat kesulitan dalam membuat huruf Chao Shu lebih tinggi karena goresannya sangat rumit dengan teknik goresan kuas yang harus rata semua.

Hwa Hing juga mempelajari jenis huruf Xing Shu. “Biasanya yang dipakai lima jenis huruf,” katanya.

 

Tak Diminati Anak Muda

Hwa Hing menyayangkan sepinya peminat untuk mempelajari seni kaligrafi Tiongkok ini. Menurutnya, kebanyakan anak muda zaman sekarang enggan belajar huruf Tiongkok.

“Padahal ini hobi dengan nilai seni yang tinggi. Sayangnya kurang dihargai oleh bangsa Indonesia,” bebernya. Kata dia, seni kaligrafi Tiongkok seperti yang digelutinya itu hanya mendapat apresiasi yang bagus dari masyarakat Tiongkok, Hongkong dan Taiwan.

Hwa Hing menunjukkan sebuah kaligrafi Tiongkok berharga jual jutaan rupiah. foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Anak muda zaman sekarang lebih suka main komputer. Mereka sukanya main praktis saja. Lulus sekolah komputer tiga tahun sudah dapat duit. Kalau seperti ini (kaligrafi – red) kan hanya hobi belaka. Untuk menghabiskan waktu luang bagi para orang tua seperti saya,” paparnya.

Di Kawasan Pecinan Semarang sendiri, hanya ada segelintir orang yang masih mau menekuni kaligrafi Tiongkok. Itupun hanya sebatas hobi bagi para lanjut usia. Di Perhimpunan Chinese Kaligrafi and Painting kini hanya menyisakan 15 orang lanjut usia yang masih setia menekuni kesenian tersebut.

“Lainnya sudah meninggal. Kalau anak sekolah yang bergabung dengan kami ada puluhan orang,” urainya.

Buah jerih payah Hwa Hing ini sedikit demi sedikit ternyata juga dilirik masyarakat luas. Sejumlah kolektor barang-barang khas Tiongkok yang kerap “berburu” di pameran setiap daerah, meminati karya Hwa Hing.

Hwa Hing juga kerap mendapat pesanan dari kelenteng-kelenteng. Pihak kelenteng rutin meminta dibuatkan papan nama dengan kaligrafi Tiongkok. Harga kaligrafi Tiongkok buatan Hwa Hing yang paling murah berkisar Rp 100 ribu. Sedangkan yang paling mahal bisa mencapai Rp 5 juta per buah.

“Setiap perayaan Imlek, biasanya banyak kelenteng minta dibuatkan papan nama. Saya dapat pesanannya ya dari situ,” kata Ling. (*)

Penulis: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

 

 

 

You might also like

Comments are closed.