Kampanye Pilwakot Kurang Gereget

Ikrar damai Pilwakot Semarang di Balai Kota, 27 Agustus 2015. Pembatasan APK berimbas pada kampanye yang kurang greget. Foto: metrosemarang.com/indra prabawa
Ikrar damai Pilwakot Semarang di Balai Kota, 27 Agustus 2015. Pembatasan APK berimbas pada kampanye yang kurang greget. Foto: metrosemarang.com/indra prabawa

 

METROSEMARANG.COM – Sejumlah tim pasangan calon wali kota Semarang yang maju di bursa Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Semarang mengeluhkan situasi kampanye yang cenderung kurang gereget.

Ketua Tim Pemenangan Sigit Ibnugroho bersama Agus Sutyoso (Sibagus) Joko Santoso melihat hal ini disebabkan minimnya pelaksanaan sosialisasi oleh KPU. Padahal KPU seharusnya meningkatkan sosialisasi di tingkat kelurahan, RW/RT.

“Jangan hanya mengandalkan APK (alat peraga kampanye) tapi juga sosialisasi kepada masyarakat,” tegasnya, Selasa (29/9).

Hal ini berdampak pada kurangnya informasi yang diterima masyarakat yang juga calon pemilih. Minimnya informasi juga dikhawatirkan menurunkan partisipasi pemilih dalam pemungutan suara 9 Desember nanti.

APK yang bisa menjadi sarana perkenalan misi dan visi ke masyarakat baru tiba satu bulan setelah pelaksanaan sosialisasi. “Kami rugi satu bulan. Apalagi KPU malah melarang tim pemenangan mencetak APK. Tidak membantu tapi merugikan, apalagi ada batasan yang dibuat KPU,” keluhnya.

Pembagian APK oleh KPU Kota Semarang sudah dilaksanakan di gedung Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat pada Jumat (25/9). Masing-masing pasangan calon menerima APK berupa flyer sebanyak 539.401 lembar, leafleat sebanyak 39.448 lembar dan poster 19.724 lembar.

“Jangan sampai ditempel di tiang listrik, sekolah, tempat ibadah dan tempat lain yang dilarang oleh KPU,” kata Divisi Hukum Pencalonan Kampanye dan Pengawasan KPU Kota Semarang, Agus Suprihanto. (far)

You might also like

Comments are closed.