Kampanyekan ‘Three Ends’ untuk Tekan KDRT di Semarang

METROSEMARANG.COM – Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menempati urutan teratas kasus yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Berbasis Gender (PPT Seruni) di Kota Semarang.

Sosialisasi Three Ends di Tugu Muda Semarang, Minggu (14/1)

Hal itu disampaikan Ketua PPT Seruni Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi ketika sosialisasi program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bertajuk Three Ends yang dilaksanakan Pemkot Semarang di kawasan Tugu Muda, Minggu (14/1).

Kegiatan diikuti Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu yang memimpin apel sebelum sosialisasi dan diikuti kader PKK serta seluruh organisasi kewanitaan ini, dilaksanakan dengan pembagian bunga ke masyarakat yang melintas di Tugu Muda.

Tia, sapaan karib Krisseptiana, menyebutkan dari ratusan kasus yang ditangani dan mendapat pendampingan didominasi oleh kasus KDRT. Sinergitas antara pemkot dan pihak kepolisian sudah berjalan dengan baik, bahkan di setiap kecamatan melibatkan banyak pihak termasuk kader PKK.

“Kami menyerahkan semua keputusan kepada korban KDRT, kami memberikan masukan dan imbauan baik berupa pendampingan hukum, pembangunan psikis dan psikologis. Termasuk pelatihan keterampilan kepada korban,” katanya.

Sementara Mbak Ita, sapaan karib Wakil Wali Kota Semarang, menambahkan dari data yang telah ditangani Rumah Duta Revoluasi Mental milik Pemkot Semarang, juga kasus KDRT adalah yang tertinggi.

Karena itu, persoalan Three Ends ini merupakan persoalan sosial yang marak terjadi di masyarakat yang mesti diberantas secara bersama.

“Tiga persoalan ini yakni Stop Kekerasan Perempuan, Stop Perdagangan Manusia dan Stop Kesenjangan Ekonomi bagi Perempuan. Dalam hal ini peran wanita sangat menentukan,” terangnya.

Menurutnya, Pemkot sudah selalu rutin melakukan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga melalui dinas terkait. Diharapkan setiap wanita dapat mandiri, sehingga mampu memiliki penghasilan sendiri tanpa melupakan kodratnya mengelola rumah tangga.

“Kita ingin agar ibu-ibu bisa memiliki nilai tambah secara ekonomi di rumah tanpa melupakan kodratnya, jadi tidak overlapping dengan suami,” katanya. (duh)

You might also like

Comments are closed.