“Kampung Bahari? Kula Mboten Ngertos”

Pengerukan sedimentasi laut sebagai tahap awal Kampung Wisata Bahari Tambaklorok. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Pengerukan sedimentasi laut sebagai tahap awal Kampung Wisata Bahari Tambaklorok. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Pemerintah Kota Semarang gencar mengkampanyekan Kampung Wisata Bahari sebagai salah satu solusi untuk menghidupkan kawasan Tambaklorok yang selama ini menjadi langganan rob. Tapi, di balik optimisme tersebut terselip kekhawatiran dari warga setempat bahwa proyek bernilai ratusan miliar itu akan semakin menenggelamkan kampung mereka.

Saat ini realisasi proyek Kampung Wisata Bahari Tambaklorok mulai digarap. Sebuah alat berat terlihat beroperasi di tengah laut untuk mengeruk dasar laut seperti membentuk jalan menuju ke sungai di Tambak Lorok. Dasar laut yang dangkal dikeruk dan kemudian dibuang di sisi kanan maupun kiri.

Sementara, warga masih belum tahu persis bagaimana nantinya wujud dari Kampung Bahari tersebut. Hanya saja, warga berharap pembangunan Kampung Bahari bisa memberi kesejahteraan bagi kehidupan mereka.

Salah seorang warga Kampung Tambak Mulyo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Tarmuah (43) mengaku hanya mengetahui kalau jalan kampung tersebut akan dibangun lagi. Dia malah tidak terlalu paham dengan konsep Kampung Bahari yang konon bisa meningkatkan perekonomian warga.

“Kampung Bahari? Kula mboten ngertos (Saya tidak tahu). Ngertose dalane dibangun, sak apik-apike, nggak tahu Kampung Bahari itu seperti apa,” kata Tarmuah saat ditemui metrosemarang.com, Rabu (6/1).

Dia sangat mendukung Kampung Bahari jika memang benar-benar bisa membebaskan kawasan Tambaklorok dari air laut. Tapi, jika yang terjadi sebaliknya, Tarmuah justru cemas tempat tinggalnya bakal semakin tenggelam.

Menurut dia, masalah besar yang banyak dialami warga sekitar adalah penurunan permukaan tanah. Banyak rumah-rumah yang diuruk, bahkan ada yang ditinggalkan penghuninya. Bahkan, salah satu gapura kampung tingginya tinggal separuh dari bentuk aslinya.

Salah satu gapura di Kampung Tambak Mulyo yang semakin pendek akibat terus-menerus diurug. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Salah satu gapura di Kampung Tambak Mulyo yang semakin pendek akibat terus-menerus diurug. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Dia tidak ingin pembangunan Kampung Bahari malah memberi dampak buruk bagi lingkungan tempat tinggal mereka. Misalnya, peninggian jalan yang berakibat pada rob akan semakin gampang masuk ke rumah warga yang kalah tinggi dengan jalan utama kampung. “Iya kalau yang punya uang, kalau yang tidak punya kan rumahnya semakin tenggelam,” tuturnya.

Kampung Wisata Bahari Tambaklorok merupakan proyek pembangunan yang didanai pemerintah melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Ditjen Sumber Daya Air (SDA), dari Kementerian Pekerjaan Umum. Anggaran untuk proyek ini sebesar Rp 151 miliar, yaitu untuk konstruksi dan supervisi sebesar Rp 6 miliar.

Sebelumnya, Pelaksana proyek Bambang Astoto menjelaskan, penandatanganan kontrak pekerjaan pembangunan sistem drainase telah dilakukan pada 23 Oktober 2015 lalu, dengan lama pekerjaan selama 716 hari kerja atau hingga 7 Oktober 2017, yakni menormalisasi Sungai Banjir Kanal Timur lama sepanjang 700 meter sampai muara.

Adapun bentuk pengerjaan adalah pengerukan alur sepanjang 700 meter dengan kedalaman tiga meter ke bawah (muara) dari titik awal sekarang agar perahu nelayan bisa leluasa bergerak dan tidak kandas saat akan melaut. Kemudian memperkuat tebing sungai dengan tiang pancang (sitepile) sepanjang 1.700 meter. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.