Kampung Batik Semarang Dinilai Kurang Promosi

METROSEMARANG.COM – Kota Lama Semarang tidak hanya punya bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Tapi juga mempunyai Kampung Batik yang berada di kawasan Bubakan. Keberadaannya mulai kembali menggeliat, namun sayang dinilai kurang publikasi dari pemerintah.

Perajin batik di Kampung Batik Rejomulyo tengah menata koleksi Batik Semarangan, Jumat (2/10). Foto: metrosemarang.com/abdul arif
Perajin batik di Kampung Batik Rejomulyo tengah menata koleksi Batik Semarangan. Foto: metrosemarang.com/dok

Hal itu disampaikan Novi Widayati, salah seorang pengelola Rumah Batik Handayani di Kampung Batik Semarang, Jumat (10/2). Kurangnya sosialisasi dan publikasi dari Pemerintah Kota Semarang, menurutnya membuat banyak warga Semarang sendiri tidak mengetahui keberadaan Kampung Batik.

”Kampung Batik memang sepi pengunjung dan kurang diminati oleh warga lokal. Itu karena kurangnya promosi dari Pemerintah Kota Semarang,” katanya.

Kini pengrajin batik di Kampung Batik, tinggal 5 orang saja. Sedangkan penjual batik tidak lebih dari 15 orang. Keberadaan mereka pun hanya sekadar demi alasan tetap bekerja atau ekonomi.

”Mau tidak mau harus tetap mempertahankan pekerjaan membatik, karena roda ekonomi harus tetap berjalan,” ujar mak Eko,45, salah seorang pengrajin batik.

Novi menambahkan, sudah saatnya masyarakat terutama generasi muda ikut memberikan sumbangsih mengembangkan batik khas Semarangan. Secara motif, kain batik Semarang memiliki kekhasan. Objek motifnya yaitu flora atau fauna.

Kain batik ini biasanya dipenuhi dengan goresan gambar hewan seperti burung blekok. Atau tumbuhan semacam buah asem yang menjadi khas Kota Semarang. Namun orang lebih mengenal Batik Semarang dari ikon kota ini seperti motif Tugu Muda atau Lawang Sewu. (MG04/duh)

You might also like

Comments are closed.