Kampung Bugangan, Dulu Kompor Kini Dandang

SETIAP kali melintasi Jalan Raya Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, terdengar dentuman palu godam bertalu-talu memekakan telinga. Di sana terlihat beberapa orang menyuntuki lempengan bakal dandang yang berukuran besar.

Sujoko salah satunya. Di tempat tinggal sekaligus tempatnya membuat dandang, ia sedang memoles dandang sebelum dilempar ke pasaran. “Saya sudah empat puluh tahun jadi perajin dandang,” kata Sujoko.

Proses peembuatan dandang di Kamoung Bugangan. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Dulu, selain dandang, orang-orang di Bugangan dikenal sebagai perajin kompor minyak. Para perajin kompor minyak di Bugangan pernah berjaya pada dekade 70-an. Era keemasan para perajin kompor minyak mencapai puncaknya pada awal 1990. Waktu itu, ada perajin kompor minyak yang mempekerjakan karyawan hingga 50 orang.

Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Adam Malik bahkan pernah meninjau langsung aktivitas pembuatan kompor minyak di Kampung Bugangan. “Pak Adam Malik kaget saat melihat pembuatan kompor minyak di sini. Bugangan menjadi pusat kerajinan kompor minyak yang memasok kebutuhan masyarakat seluruh Indonesia,” ungkap Sunaryo, warga lainnya di Kampung Bugangan Dalam C RT 08/RW I, Kelurahan Bugangan.

Kompor buatan Kampung Bugangan beredar di semua pasar tradisional Jawa Tengah. Mulai pedagang Pasar Bintoro, Jepara, Klewer, Wonosobo, Johar pernah menjajakan kompor tersebut. Tetapi kompor Bugangan memiliki ciri khas yang memudahkan pembeli untuk menengarainya. Yakni wadah minyaknya dipatri.

“Jadi lebih awet karena wadah minyaknya dipatri,” kata Sukijo yang disebut-sebut sebagai pionir perajin kompor. Sukijo yang tak lain adalah mertua Sunaryo, membuat kompor dengan merek Gaya Baru. Menurut dia, kompor minyak Gaya Baru dengan wadah minyak yang dipatri, lebih awet dari kompor buatan perajin pesaing dari Kota Malang dan kompor-kompor buatan pabrik.

Kerajinan berbagai perabot dapur dipasarkan di Kampung Bugangan. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Geliat pembuatan kompor minyak di Kampung Bugangan dahulu, tak lepas dari kreatifitas warga yang mayoritas tinggal di tepi Sungai Banjir Kanal Timur. Terbesit ide di kepala orang-orang di sana untuk mengolah kembali drum-drum oli bekas yang berserakan di pinggir jalan.

Kompor minyak dari Bugangan dikenal kompor blandeng lantaran dibuat dari drum bekas oli. “Bahannya dari lempengan besi baja, tebal, kuat dan awet jika dipakai sampai saat ini,” kata Sunaryo. Harga kompor minyak Bugangan pun awet. Tetap Rp 50 ribu dari dulu hingga sekarang.

Tapi kini bisnis mereka berangsur surut, seiring dengan penggantian penggunaan bahan bakar minyak tanah menjadi elpiji. Pada tahun 2004, ketika Jusuf Kalla menjabat wakil presiden RI mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengeluarkan kebijakan konversi penggunaan bahan bakar minyak tanah menjadi gas.

Kebijakan itu lambat laun mengurangi penggunaan kompor minyak. “Sekarang, karena kompor minyak kalah saingan dengan kompor gas, saya beralih membuat peralatan rumah tangga lainnya. Produksi kompor minyak turun tajam,” ujar Sujoko.

Banyak perajin kompor yang rugi besar. Ada pula yang bangkrut hingga mengalami stres berat. “Karena beberapa perajin masih punya tanggungan di bank. Mereka tidak siap mental saat kompor minyak tak laku dijual. Yang bisa bertahan kemudian beralih membuat perlengkapan rumah tangga,” katanya Sunaryo.

Saat ini ada 63 warga yang membuka kios kerajinan rumah tangga di sepanjang bantaran sungai Banjir Kanal Timur. Ada pula yang menggeluti penjualan oven alumunium, pengaduk kapsul dan pengaduk roti. Sementara itu, tinggal satu satu perajin kompor minyak. Ia adalah Satriyo yang tinggal di Sawah Besar Gang VII.

Sejumlah perajin yang tinggal sedikit itupun bernasib di ujung tanduk. Pasalnya, telah ada ultimatum yang mendesak mereka untuk hengkang dari Bugangan, paling lambat 21 Juli 2018. Ancaman bongkar paksa dilontarkan otoritas Dinas Perdagangan, bila warga nekat bertahan.

“Ada yang setuju. Ada yang menolak,” ucap Sunaryo. Ia hanya bisa pasrah. Apalagi dana miliaran rupiah telah dianggarkan oleh Kementerian Perindustrian untuk pembuatan shelter khusus perajin Bugangan di Penggaron. “Apa boleh buat. Katanya kami akan dibuatkan sentra kerajinan. Mulai logam sampai handycraft,” pungkas Sunaryo. (Fariz Fardianto)