Kampung Hidroponik Purwosari, Kebutuhan Sayur Warga Terpenuhi

Dikelola Kelompok Wanita Tani

Beberapa yang kami kembangkan untuk ditanam dengan metode hidroponik antara lain sawi, selada, seledri, mint, jinten dan lainnya.

KAMPUNG tematik di Kota Semarang memiliki bidang usaha yang berbeda. Selain Kampung Batik dan Kampung Lunpia yang sudah terkenal, di kawasan Kecamatan Semarang Utara juga terdapat kampung tematik yang diberi nama Kampung Hidroponik.
hidroponik
Anggota DPR RI, Juliari P Batubara berbincang dengan Ketua KWT Purwosari, Nunung Supatiningsih di Kampung Hidroponik Kelurahan Purwosari Semarang Utara, Jumat (2/11/2018). Foto: metrojateng.com/ade lukmono
Sesuai namanya, Kampung Hidroponik identik dengan pengembangan tanaman dengan media tanpa tanah. Meski demikian, Kampung Hidroponik juga mengembangkan pertanian dengan tanah untuk beberapa jenis sayuran dan rempah-rempah.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Purwosari, Nunung Supatiningsih menjelaskan Kampung Hidroponik ini terbentuk pada pertengahan 2017 atas dorongan Dinas Pertanian Kota Semarang yang memberi rangsangan berupa pipa sebagai media tanam hidroponik. Setelah itu, para anggota KWT Purwosari yang terdiri dari 20 anggota dipercayai untuk meneruskan pertanian secara hidroponik.
KWT Purwosari memiliki dua jenis kebun, yaitu khusus untuk media tanam tanah dan satunya adalah khusus untuk metode hidroponik. Keduanya adalah pekarangan rumah anggota yang jaraknya terpisah sekitar 300 meter.
“Beberapa yang kami kembangkan untuk ditanam dengan metode hidroponik antara lain sawi, selada, seledri, mint, jinten dan lainnya. Dari awal berdiri, sudah kami rasakan hasilnya,” katanya, Jumat (2/11/2018).
Dia mengatakan, dengan mengembangkan berbagai tanaman ini bisa memenuhi kebutuhan permintaan sayur warga Purwosari. Terlebih lagi, selain di sekretariat, para anggota juga menanam tanaman hidroponik di rumah masing-masing.
Nunung menambahkan, kesuksesan pengembangan sayuran hidroponik dari Purwosari sudah terdengar hingga KWT lain di Kota Semarang. Tak ayal, pihaknya juga menjadi percontohan bagi KWT lain dengan hasil panennya. Bahkan, RSUD Wongsonegoro juga meminta suplai dari Purwosari.
Untuk daerah Purwosari, hasil panen biasanya dibeli warga sekitar dan PKK Kelurahan Purwosari. Dengan demikian, warga Purwosari bisa menikmati hasil kebun yang segar yang ada di wilayahnya sendiri.
Kendala yang saat ini mereka hadapi adalah kurangnya alat bantu untuk penyiraman. Para anggota KWT Purwosari masih mengangkut air dengan jalan kaki menuju lokasi penanaman setiap hari. Selain itu, ada hama yang sangat mengganggu dan memperngaruhi hasil panen KWT Purwosari, yaitu kutu kebul yang menyerang daun bagian bawah.
Hasil penjualan dari KWT Purwosari saat ini masih dikonsentrasikan untuk pengembangan KWT, seperti pembelian media tanam, pupuk dan lainnya.
Nunung mengatakan, pengembangan media tanam hidroponik ini masih susah. Dari awal pembibitan hingga panen memerlukan pengawasan lebih ketat daripada media tanam tanah.
“Kalau yang media tanam tanah, seperti cabai, tomat, terong dan lainnya sudah bisa menutup biaya produksinya. Tapi kalu yang hidroponik ini masih kami kembangkan agar segera bisa menyusul kebun media tanam tanah,” ungkapnya.
Anggota DPR RI, Juliari P Batubara dalam resesnya di Kota Semarang mengunjungi Kampung Hidroponik ini bangga melihat para anggota KWT Purwosari yang memiliki kegiatan unik, yaitu bertanam secara hidroponik.
“Ini kegiatan yang sangat baik. Selain menyalurkan hobi, bisa juga menambah penghasilan, syukur-syukur bisa meningkatkan perekonomian warga,” tutur Juliari. (ade)

Leave A Reply