Kampung Pelangi, Kumuh Tersembunyi

Setelah Setahun, Apa yang Terjadi?

Kampung di lereng bukit itu menyandang julukan baru. Klaim keberhasilan mengubah kampung kumuh menjadi tujuan wisata yang bersih berseri, tersiar dimana-mana. Tapi betulkah kampung itu telah berubah?

CREATIVE, colorful, beautiful. Small street. Instagramable. Dirty river inside here […],” 23 Mei 2018 lalu akun Andy L mengulas Kampung Pelangi pada situs perjalanan terbesar di dunia, TripAdvisor. Ulasan yang langka.

Sebagian besar dari 38 ulasan tentang Kampung Pelangi di situs itu, tidak menyentil soal kotornya sungai yang berimpit dengan kampung. Satu akun lain, Aang174, menyinggung soal sampah, debu dan penataan yang berantakan. Sisanya adalah ulasan yang memuji kreatifitas dan keberhasilan “menyulap” slum area menjadi tempat tinggal sekaligus tempat wisata yang bersih.

Nada ulasan Andy L dan Aang174 terdengar sumbang. Tak seirama dengan pemberitaan berbagai media lokal hingga internasional mengenai Kampung Pelangi, Semarang. The Telegraph, Independent, situs panduan perjalanan Lonely Planet, sampai situs majalah mode dan gaya hidup Vogue. Seluruhnya menuliskan tentang kemeriahan Kampung Pelangi dan keberhasilan perubahannya, pascaperesmian nama baru kampung itu pada 18 Mei 2017.

Kendati langka dan sumbang, ulasan Andy L dan Aang174 bukan bualan. Kami mendatangi Kampung Pelangi, menemui orang-orang yang tinggal di sana secara acak, dan mendapati hal-hal yang dituliskan dua akun tersebut.

 

 

Tinja Entah ke Mana, Air Limbah di Mana Saja

Kami bertemu Rohmah di depan ayunan di bawah pohon mangga, berhias bunga-bunga plastik, kertas dan papan gabus warna-warni. Ayunan itu tidak asing. Kelihatan pada foto-foto di Instagram, di antara lebih dari 22 ribu foto bertanda #kampungpelangi. Penduduk kampung menyebut titik dengan ayunan dengan “puncak”, oleh sebab merupakan titik berfoto paling tinggi di bukit dikenal dengan sebutan Gunung Brintik itu.

Rohmah dalam perjalanan sepulang membeli es batu dari rumah tetangga. Ia menyilakan kami mampir ke rumahnya yang berposisi lebih tinggi dari titik foto ayunan. Di sana, tak ada lagi rumah yang tingginya melebihi letak rumah Rohmah.

“Kalau kepingin es batu harus beli ke bawah. Tapi kalau air saja, tinggal nunggu giliran buka keran. Jadi tidak usah ngangsu (mengangkut air) ke bawah,” kata Rohmah sembari menciduk air dari tampungan untuk dijerang.

Tampungan air Rohmah berada di dalam kamar mandi di depan rumah. Sebuah tong plastik berukuran 200 liter dilengkapi ember-ember bertutup di sekitarnya. Di depan pintu kamar mandi, ada gundukan bersemen. Itu adalah saluran pembuangan air dari kamar mandi yang belum lama ditambal Rohmah sendiri, karena tersumbat lalu bocor.

Pipa saluran itu tersambung dengan pipa jamban. Ujungnya? Rohmah menyebut ujung pipa tertanam di dalam tanah sedalam empat meter. Kelak, jika kembali tersumbat, saluran itu akan ditutup. Rohmah akan membuat saluran baru. Itulah yang dilakukan Rohmah selama tinggal di Wonosari, nama kampung itu sebelum dijuluki Kampung Pelangi.

“Pokoknya buangan dari pipa dibuang ke tanah. Meresap ke dalam tanah, jadi batu. Dari dulu orang-orang di sini ya begitu, karena di sini tinggi,” kata Rohmah yang tinggal di Wonosari sejak tahun 1960-an.

Kini Rohmah berumur 73 tahun. Ia termasuk generasi pertama yang meninggali Wonosari. Sejak dahulu ia menempati tanah yang kini ia tinggali itu. Hanya bentuk rumah yang berganti, dari yang berdinding anyaman bambu menjadi tembok. Setelah 10 tahun tinggal di sana, Rohmah membangun bilik di depan rumahnya untuk keperluan mandi, cuci, kakus. Beberapa kali ia mengganti saluran pembuangannya karena mampat.

Dalam buku “Aku Agen Berita – Catatan Tercecer Seorang Wartawan”, Johanes Christiono menyebut pemukiman di Gunung Brintik dibuka tahun 1965 oleh Bruder Servatius yang menyewa dan membeli lahan di lereng bukit. Waktu itu, Wonosari masih berupa hutan. Itu pula yang menjadi asal nama Wonosari, memiliki unsur kata “wana” yang berarti hutan.

Pembukaan pemukiman itu bertujuan untuk membina gelandangan, pengemis, tukang becak dan pemulung agar bisa hidup layak. Bruder Servatius melakukannya bersama relawan dari Yayasan Soegijapranata. Setelah pembinaan, sebagian mereka mengikuti arahan untuk bertransmigrasi ke luar Jawa. Sebagian lagi tetap tinggal dan beranak-pinak hingga sekarang.

Dari bawah bukit, rumah Rohmah bisa didatangi lewat dua arah. Rohmah berpesan kepada kami untuk menyusuri parit, arah yang berlawanan dengan arah ayunan puncak, agar tidak kesasar untuk sampai ke jalan raya.

Kami melewati selokan-selokan kecil yang lumayan baru dan terbuka, di belakang dan samping rumah-rumah kampung itu. Sebagian kering, sebagian lagi dialiri air limbah bekas cucian piring. Selokan-selokan itu mengarah ke parit tua yang sarat sampah. Plastik, styrofoam bekas pengemas makanan, popok, pembalut wanita, dan lain-lainnya.

Mungkin parit itulah yang dimaksud Rohmah. Sebab dengan mengikuti arah parit itu, kami bisa sampai ke sungai di kaki bukit dekat jalan raya. Kami tiba di pinggir sungai berbarengan dengan air limbah dan sampah-sampah dari parit. Sungai itu bernama Kali Semarang.

Kami bertemu Ipah di jembatan. Ia perempuan asli Wonosari, lahir dan tinggal di Wonosari selama 36 tahun. Jarak tempat tinggalnya dengan Kali Semarang hanya berselang dua rumah. Ipah bilang, seluruh limbah dari rumahnya mengarah ke Kali Semarang lewat pipa yang tertanam bawah rumahnya.

Baik limbah dari kamar mandi, tinja dari jamban, hingga limbah tempat pencucian di dapur dan limbah cuci pakaian. “Di sini sejak saya kecil ya begitu. Langsung ke sungai, karena dekat dengan sungai,” kata Ipah.

 

Pokoknya buangan dari pipa dibuang ke tanah. Meresap ke dalam tanah, jadi batu.

-Rohmah, penduduk Kampung Wonosari-

Tempat Wisata yang Bersih?

4 Oktober 2017, Mira Puspasari Gunawan tiba di Kota Semarang. Ia datang bersama Tim Penilai Standar Kota Wisata Bersih ASEAN yang ia ketuai. Sebagai nominator ASEAN Clean Tourist City (Kota Wisata Bersih tingkat ASEAN), beberapa tempat di Kota Semarang harus ditilik. Mira dan timnya mendatangi Kampung Pelangi, tempat wisata yang tenar hingga mancanegara dan termasuk dalam daftar penilaian.

“Sanitasi dan fasilitas air bersih di Kampung Pelangi masih perlu ditambah,” begitu saran Mira usai beranjak dari kampung.

Sebagaimana Mira, Rohmah yang puluhan tahun menghuni kampung itu juga memandang perlunya penambahan fasilitas penyediaan air bersih. Dibanding dengan tahun 80-an silam, saat ini lebih mudah bagi Rohmah untuk mendapat air. Jika dulu ia harus menggendong air dari sumur di kaki bukit, sekarang ia cukup membayar Rp55 ribu setiap bulan kepada pemilik sumur, maka air akan mengalir lewat saluran pipa ke rumahnya selama setengah jam tiap hari.

Tapi ada masalah lain. Jumlah penduduk kampung yang kian padat membuat persediaan air di sumur kian berkurang. Rohmah tinggal di RW III Kampung Wonosari Kelurahan Randusari. Wonosari kini dipadati 520-an rumah. Satu rumah dihuni oleh 2-10 orang. Hanya ada tiga sumur milik penduduk yang airnya disalurkan ke ratusan rumah yang tidak berlangganan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Semarang.

Alhasil, saat musim kemarau datang, sumur tak lagi mampu menyuplai kebutuhan air penduduk kampung. Air yang sampai ke rumah Rohmah hanya sedikit. Seringkali, Rohmah yang hidup bersama adiknya, kehabisan air. Ia harus membeli air mineral kemasan isi ulang untuk memasak.

“Kalau hujan bisa nadah (menampung – red) air hujan. Kalau kemarau ya beli air galon,” katanya. Yang terjadi di rumah Rohmah itu sama saja dengan ratusan rumah tetangganya. Sebetulnya, semenjak Wonosari dijuluki Kampung Pelangi, ada tawaran solusi soal penyediaan air bersih.

“Pemerintah menawarkan. Mau pakai artesis atau PDAM? Kalau mau artesis, kami diminta mencari titiknya. Tapi kalau mau pakai PDAM, harus ada 100 calon pelanggan baru yang mau mendaftar,” kata Ahmad Hasyim yang baru satu setengah bulan meletakkan jabatannya sebagai Ketua RW III. Kata dia, jumlah rumah yang telah berlangganan layanan PDAM tak sampai seperempat dari seluruh rumah penduduk di sana.

 

Sanitasi dan fasilitas air bersih di Kampung Pelangi masih perlu ditambah.

-Mira Puspasari Gunawan, Ketua Tim Penilai Standar Kota Wisata Bersih ASEAN –

Tapi dua solusi itu tak mumpuni untuk menuntaskan soal penyediaan air. Penduduk khawatir sumur-sumur yang selama ini memasok air ke ratusan rumah akan mengering, oleh sebab air tersedot sumur artesis. Penduduk juga khawatir tidak akan mendapatkan air setiap hari, jika berlangganan PDAM.

“Warga di sini maunya setiap buka keran ya ada airnya. Dulu air PDAM baru nyala (mengalir-red) dalam dua atau tiga hari sekali. Itupun pada jam satu atau jam dua malam. Sekarang lebih baik, setiap hari menyala. Tapi warga tetap khawatir kalau tidak lancar. Sebab itu, untuk mencari 100 pelanggan baru ya sulit,” kata Hasyim yang telah berlangganan PDAM.

Pada akhirnya, tidak ada yang dilakukan untuk menambah fasilitas penyedia air bersih. Pada ajang ASEAN Tourism Forum 2018 di Chiang Mai, Thailand pada 26 Januari 2018, ASEAN Tourism Forum 2018 urung memilih Kota Semarang, yang sebelumnya dinominasikan sebagai pemenang Standar Kota Wisata Bersih ASEAN.

 

Berseri di Luar, Kumuh di Dalam

Awalnya adalah pemugaran deretan kios bunga di Jalan Dr Sutomo Semarang yang dikenal dengan Pasar Kembang Kalisari, pada Juli 2016. Empat bulan setelahnya, ketika pemugaran kelar, Gunung Brintik dengan perkampungan padat rumah di lerengnya menampakkan wajah.

“Dulu kampung ini tertutup kios-kios yang ada di bawah itu. Sekarang terbuka, terlihat kekumuhan kampung. Ada kandang ayam, ada jemuran. Orang yang lalu lalang di jalan raya, baik warga kota maupun tamu, bisa melihat itu semua,” ujar Hasyim.

Ketika masih menjabat sebagai Ketua RW, Hasyim berkali-kali mendapat undangan dari Pemerintah Kota Semarang. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi kepincut pada pemukiman di Rio de Jeneiro, Brazil yang terkenal karena cat warna-warninya. Ia menjadikan pemukiman itu sebagai salah satu rujukan.

Lewat undangan, Hasyim dan beberapa tokoh kampung diajak berembug bersama pengusaha cat, perbankan, dan asosiasi pengusaha. Ia dimintai pendapat ihwal pengecatan di Wonosari untuk mempercantik kampung. Dana yang terkumpul untuk rencana pengecatan itu mencapai hampir Rp 3 miliar. Walikota mengklaim, tidak ada dana APBD yang terikut.

“Tidak ada penolakan dari warga waktu itu, karena tujuannya positif. Pengecatan disepakati,” kata Hasyim.

Sabtu, 15 April 2017, pengecatan rumah dimulai. Sudah ada 150 pail cat tersedia di sana. Ketentuannya adalah, satu rumah dicat dengan tiga warna. Hari itu Walikota Hendrar Prihadi mendatangi Wonosari untuk ikut mengecat. Penduduk kampung ramai-ramai turut mengecat pula.

Tidak hanya tiga warna yang ditorehkan dalam satu rumah. Bahkan tidak hanya tembok rumah yang dicat, tangga, jalan dan jembatan juga dibuat warna warni. Yang bisa melukis, menyumbangkan kebisaannya itu untuk membuat lukisan juga ornamen-ornamen di dinding.

Tak kurang dari 223 rumah selesai dicat pada tahap pertama. Pengecatan tetap berlanjut setelah hari itu. Rumah-rumah di RW IV juga dicat pada akhirnya. “Total kurang lebih ada 400-an rumah yang dicat warna-warni,” ungkap Hasyim.

Pengecatan selesai sepekan sebelum lebaran tahun lalu. Kampung Wonosari tampak meriah penuh warna. Nama baru Kampung Pelangi diberikan dan diresmikan, pengunjung berdatangan, pelancong berfoto ria di antara warna. Tapi usaha mengusir kekumuhan belum berhenti. Usai lebaran, Kali Semarang di kaki bukit Gunung Brintik dikeruk lantaran sungai itu dangkal dan tampak kumuh.

Pada saat itu, Walikota Hendrar Prihadi menyebut menganggarkan Rp16 miliar dari APBD untuk menata saluran air, merapikan sungai, membuat jalur pedestrian di depan pasar bunga, membuat pusat penjualan makanan, tempat parkir, dan toilet umum di pasar bunga untuk kemudahan pengunjung Kampung Pelangi.

Kampung Pelangi
Pengunjung Kampung Pelangi biasanya menghabiskan waktu untuk berswafoto dengan berbagai latar. (foto: metrosemarang/Efendi)

Memang benar, saat ini pengunjung kampung tidak kesulitan jika butuh menggunakan toilet umum. Toilet ada di ujung kanan kiri setiap blok pasar bunga. Keadaan toilet di sana bersih. Air limbahnya masuk ke saluran pembuangan yang semestinya. Air bersihnya pun lancar dipasok oleh PDAM Tirta Moedal Semarang, dengan mutu terjamin sesuai standar.

Tak seperti air di tiga sumur yang berada tak jauh dari Kali Semarang, juga di dekat parit menuju kali. Bisa jadi air di sumur-sumur itu tercemar air limbah parit, juga kotoran penduduk yang bermuara di Kali Semarang. Terlebih ketika akhir Juni 2018 lalu Kali Semarang di kaki bukit Gunung Brintik dibendung untuk mempertahankan ketinggian air. Tak ada yang menjamin mutu air sumur yang menyuplai kebutuhan air bersih sebagian besar penduduk kampung.

Kami bertemu dua kader Posyandu di Gang V Kampung Pelangi. Masing-masing adalah kader Posyandu RW III yang mengenalkan diri sebagai Kadi, dan kader Posyandu RW IV yang menyebut namanya Han. Kata mereka, hampir setiap bulan ada saja anak yang menderita diare. Terkadang juga ada yang terjangkit demam berdarah.

Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat ada enam kasus demam berdarah di Wonosari. Tahun 2018, hingga bulan April, sudah ada tiga kasus demam berdarah. “Kalau ada kasus begitu, kami segera merujuknya ke faskes (fasilitas kesehatan – red), Puskesmas Pandanaran. Tapi mereka (penderita-red) tidak selalu ke Puskesmas, ada yang ke dokter praktik atau ke rumah sakit,” kata Han yang enggan mengenalkan nama lengkapnya.

Sepanjang 2016, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat 638 kasus diare di wilayah kerja Puskesmas Pandanaran yang meliputi enam kelurahan. Di dalamnya termasuk Kelurahan Randusari, di mana Kampung Pelangi atau Wonosari berada. Pada 2017 jumlah itu meningkat menjadi 714 kasus. Tahun 2018, kembali terjadi peningkatan. Baru terhitung tiga bulan, sejak Januari sampai Maret 2018, jumlah kasus diare di wilayah tersebut sudah mencapai 667.

Di Puskemas Pandanaran ada rincian catatan kasus diare. Tahun 2016 ada 15 pasien diare dari Wonosari yang berobat ke Puskesmas Pandanaran. Tahun 2017 meningkat menjadi 35 pasien. Tahun 2018, dari bulan Januari hingga Maret tercatat 12 pasien terserang diare.

Lewat sambungan telefon, dr. Antonia Sadniningtyas memberi catatan. Ia adalah Kepala Puskesmas Pandanaran. “Harus dicatat bahwa jumlah (kasus diare tercatat Puskesmas Pandanaran) itu bukan seluruhnya. Karena, bisa jadi pasien diare di tempat yang dimaksud, berobat ke faskes lain,” kata dr. Antonia.

Diare, menurut Bank Dunia merupakan salah satu dari empat penyebab utama kematian balita di Indonesia, yang ditularkan melalui feses atau kotoran manusia. Sanitasi yang buruk memberi peluang besar pada penularan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Widoyono mengatakan, diare merupakan infeksi saluran pencernaan, salah satu penyakit yang didapati secara menonjol pada kondisi sanitasi yang buruk.

“Selain itu juga ISPA, infeksi saluran pernafasan akut dan penyakit yang ditularkan oleh vektor, seperti demam berdarah melalui nyamuk dan leptospirosis  melalui kencing tikus,” kata Widoyono.

Sebagian besar rumah-rumah di Kampung Pelangi menggunakan air sumur yang dipakai bersama. Sumur terletak di kaki bukit, dekat dengan Kali Semarang. (foto: metrosemarang/Efendi)

 

Didatangi Pelancong Mengubah Apa?

Pemukiman kumuh merupakan kawasan di mana rumah dan kondisi hunian maupun sarana dan prasarana yang ada, tidak sesuai dengan standar. Baik kebutuhan, standar kepadatan bangunan, persyaratan rumah sehat, kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan kelengkapan prasarana jalan, ruang terbuka, serta kelengkapan fasilitas sosial lainnya.

Salah satu ciri pemukiman kumuh adalah dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Begitu penjelasan Sri Kurniasih, dalam jurnal “Usaha Perbaikan Pemukiman Kumuh Petukangan Utara, Jakarta Selatan” terbitan Teknik Arsitektur Universitas Budi Luhur, 2007.

 

Yang pakai sumur, masih tetap hanya setengah jam sehari berkesempatan dapat air. Untuk kemungkinan beralih ke PDAM, warga pesimis.

-Ahmad Hasyim, mantan Ketua RW III Kelurahan Randusari-

Keadaan Kampung Pelangi saat ini masih berada di dalam ukuran pemukiman kumuh tersebut. Padahal sejak semula Walikota Hendi menyatakan Kampung Pelangi sebagai bagian program Kampung Tematik. Program ini diluncurkan tahun 2016. Diawali dengan 32 kampung tematik pada 16 kecamatan. Di antaranya, Kampung Mangut di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu, Kampung Jawi di Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati, dan Kampung Bebas Jentik di Kelurahan Bangetayu Wetan Kecamatan Genuk.

Setiap tahun sejak 2016, APBD Kota Semarang menganggarkan Rp200 juta untuk setiap titik kampung tematik. Tujuannya untuk mengatasi persoalan kualitas lingkungan rumah tinggal warga miskin dan persoalan prasarana dasar pemukiman. Beberapa hal yang dititikberatkan adalah perubahan lokasi kumuh menjadi tidak kumuh, peningkatan penghijauan wilayah, partisipasi aktif masyarakat, dan pemberdayaan potensi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Sebagai catatan, sanitarian dasar yang idealnya ada di sebuah pemukiman adalah sarana air minum yang baik, jamban keluarga yang sehat, saluran pembuangan air limbah dan pembuangan sampah yang baik. Setidaknya itu yang dikonfirmasi Dinas Kesehatan Kota Semarang.

kampung pelangi
Kali Semarang di kaki Kampung Pelangi menjadi muara limbah kampung. (foto: metrosemarang/Efendi)

Penampilan Wonosari memang berubah dalam sekejap, sejak proses pengecatan yang berlangsung hanya dalam hitungan pekan. Ribuan pelancong berdatangan, berfoto membekukan kenangan. Namun setahun kemudian, saat cat mulai memudar, kualitas lingkungan rumah tinggal warga dan prasarana pemukiman dasar di dalamnya tak berubah, seperti yang dielu-elukan dalam kerangka tujuan kampung tematik.

“Untuk air (bersih) belum ada peningkatan. Yang pakai sumur, masih tetap hanya setengah jam sehari berkesempatan dapat air. Untuk kemungkinan beralih ke PDAM, warga pesimis. Keinginan warga, asal putar keran air mengalir. Itu belum,” kata Hasyim.

Pun dengan keadaan ekonomi penduduk. Sebelum ada Kampung Pelangi, sudah ada pekerjaan yang ditekuni sebagian besar penduduk Kampung Wonosari, yakni membuat bunga kertas. Sebagian lain membuat kerangka karangan bunga dari bambu. Sisanya bekerja sebagai buruh pabrik, buruh cuci, pemulung, ada pula yang mengemis. Satu-dua orang bekerja sebagai pegawai dan guru.

Membuat bunga kertas dan kerangka karangan bunga menjadi semacam ciri khas kampung. Setiap hari, bunga-bunga kertas dari rumah-rumah di lereng bukit disetorkan ke Pasar Kembang Kalisari di kaki bukit, yang melayani pemesanan karangan bunga. Setelah ada Kampung Pelangi, pemerintah membuka ruang-ruang pelatihan untuk membuat cindera mata khas tempat wisata. Kredit usaha dikucurkan. Tapi itu juga tak mengubah apa-apa.

“Di tempat kami, mereka (warga –red) sudah usaha merangkai bunga disetorkan ke kios. Kalau disuruh bikin gantungan kunci dan lain-lain, pertanyaannya laku atau tidak? Akhirnya kampung kami tetap seperti sebelumnya,” papar Hasyim.

Di sisi lain, gairah pelancong untuk mengunjungi Kampung Pelangi berangsur surut. Ada beberapa rumah yang memiliki sumber penghasilan baru sejak ada Kampung Pelangi. Membuka warung makanan instan dan minuman kemasan, lagi-lagi khas pemandangan tempat wisata di Indonesia. Tapi warung-warung itu kini tampak lengang.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Pelangi, Slamet Widodo menduga hal itu lantaran menjamurnya lokasi wisata dengan konsep hampir sama. Yakni menawarkan foto-foto untuk media sosial. “Kami harus putar otak untuk berinovasi agar wisatawan kembali tertarik untuk mengunjungi Kampung Pelangi,” katanya.

Dalam satu tahun terakhir keberadaan Kampung Pelangi, bisa dibilang tidak membawa perubahan. “Awalnya, kami berharap setelah banyak pengunjung ke sini, akan menjadikan ekonomi berubah ke arah baik. Waktu itu (setelah pengecatan-red) ada euforia rasa suka cita banyak tamu. Tapi akhirnya semua seperti tidur kembali,” ungkap Hasyim.

 

Kita selalu ngomong pembangunan manusia dan revolusi mental, tapi tidak ada investasi ke sana.

– Ahmad Khairudin, Direktur Hysteria Semarang-

Karena Hanya Wajah Saja

Mengapa dana miliaran rupiah itu tidak berhasil memperbaiki kampung kumuh? Direktur Hysteria (komunitas di Semarang memiliki salah satu konsentrasi isu kota), Ahmad Khairudin mengatakan, bisa jadi pola pendekatan yang dipakai tidak benar. “Seharusnya, pembangunan manusia dan pembangunan fisik itu proporsional. Proporsinya harus dibangun betul. Harus ada investasi manusia,” katanya.

Kampung Wonosari, pernah dikenal sebagai tempat dimana mudah mendapat ciu (minuman keras tradisional). (foto: metrosemarang/Efendi)

Maksudnya, harus ada orang yang benar-benar bersedia ada di kampung yang dimaksud. Orang itu harus mengerti, berteman, menggerakkan, mengidentifikasi aktor-aktor di kampung itu. Bisa disebut sebagai fasilitator. “Baru kemudian bisa berjalan pelan-pelan. Tidak akan langsung berhasil. Ini (butuh waktu – red) panjang,” lanjut Khairudin alias Adin.

Untuk Kampung Pelangi, menurut Adin, pemerintah sedianya menggandeng banyak pihak, lembaga swadaya masyarakat atau perguruan tinggi, untuk membicarakan visi, melakukan pemetaan ulang, dan mempelajari konflik di sana.  Dalam hal ini, peran fasilitator sangatlah vital.

Menerjunkan manusia (fasilitator) ke suatu tempat yang dikehendaki perubahannya, diistilahkan dengan investasi manusia, tidaklah murah. Namun itu dianggap tidak memiliki nilai. Menurut Adin, pendekatan seperti itu belum dipandang sebagai hal yang konkrit.

Yang dianggap memiliki nilai dan masuk akal adalah pembangunan fisik, misalnya membangun balai RT, membangun taman baca.  “Tapi setelah itu, mau dipakai atau tidak, ya nggak ada urusan. Pokoknya difoto bagus, sudah selesai. Kita selalu ngomong pembangunan manusia dan revolusi mental, tapi tidak ada investasi ke sana,” demikian kata Adin.

Dalam catatannya, Johanes Christiono menyebut Gunung Brintik yang sekarang menjadi Kampung Pelangi pernah dikenal sebagai tempat yang mudah bagi orang-orang untuk mendapatkan ciu (minuman keras tradisional). Pada perjalanan di pemukiman itu, di tengah bukit kami bertemu wanita setengah baya bernama Sri. Ia sedang mengikat botol- botol bekas wadah air kemasan.

“Buat dijual, dinggo wadah ngombene wong omben-omben (untuk tempat minuman keras – red). Satu harganya Rp1.000. Kalau dijual kiloan cuma Rp1.500 sekilo,” kata Sri. Ternyata Wonosari, Gunung Brintik belum benar-benar berubah. (*)

 

Reporter: Efendi, Ade Lukmono, Eka Handriana
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.