Kancing Penyatu, Wadah Perancang Baru

Benik, Komunitas Desainer Muda

Perkembangan industri kreatif di Semarang tak sebaik di Bandung, Yogyakarta dan Denpasar. Fesyen salah satunya.

COBA perbincangkan soal perkembangan industri kreatif dengan anak-anak muda Semarang! Hampir pasti bakal muncul keluhan soal perkembangan bidang itu di kota ini, yang tak sebaik di Bandung, Yogyakarta dan Denpasar. Fesyen salah satunya.

Beberapa orang muda yang pernah mempelajari ilmu perancangan busana di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo lantas mendirikan Benik. Komunitas yang digadang-gadang menjadi wadah kreasi perancang muda di Kota Semarang ini memakai nama yang berarti kancing.

Kami menemui Farisa Dian Utami, pengelola program acara Benik dan Nova Nugroho, sekretaris Benik. Berbincang tentang makna kancing bagi komunitas Benik, hingga hal-hal dasar yang harus dikuasai seorang fashion designer.

fashion designer
Komunitas Benik, kaum muda perancang busana. (foto: dokumen Benik)

 Kok bisa dinamai Benik?

Farisa: Benik itu kata dalam Bahasa Jawa, artinya kancing, kecil tapi penting. Fungsi kancing itu kan menyatukan dua sisi busana, sebelah kanan dan kiri.

Nova: Filosofinya, Benik ini mencoba menyatukan pikiran kami para anggotanya yang memiliki background bermacam-macam, untuk bekerja sama mengembangkan industri fesyen di Semarang. Rata-rata kami adalah fashion designer, tapi pengalaman kami berbeda-beda, ada yang sebelumnya kerja kantoran juga. Maka itu perlu disatukan.

Ada berapa desainer yang ada di Benik?

Farisa: Total 25 tapi yang aktif cuma 15 orang. Indikator keaktifannya, selain dia “cerewet” di Whatsapp, juga frekuensi ikut bazaar, fashion show dan meeting. Yang ada di sini (Benik – red) desainer muda-muda, antara 18-35 tahun. Anggota termuda masih kelas 1 SMA.

Gimana ceritanya bisa membentuk Benik?

Nova: Pertama kali dibentuk oleh alumni sekolah busana Susan Budihardjo (LPTB Susan Budihardjo). Dulu ada namanya Acakacak, bentukan resmi lulusan Susan Budihardjo. Tapi ada kendala ketika ada fashion anthusiast yang ingin bergabung. Karena bukan alumni Susan.

Kalau membawa nama Acakacak, ruang gerak kami terbatas. Karena setiap aktivitas harus lapor dulu ke Jakarta, jika di-acc (disetujui-red) baru bisa jalan. Biar lebih fleksibel, maka kami membuat Benik.

Susan Budiharjo dikenal sebagai fashion designer senior di Indonesia. Ia mendirikan Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budiharjo pada tahun 1980. Sejak berdiri, lembaga itu telah melahirkan designer muda berbakat seperti Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Andrian Gan, Irsan, Didi Budiarjo, Denny Wirawan banyak lagi.                                                                                                                                                                  Lembaga ini berpusat di Jakarta dan memiliki cabang di Surabaya, Semarang dan Bali. Khusus untuk LPTB Susan Budihardjo Bali, sekolah mendirikan toko (school-owned clothing store) yang menampung hasil karya para alumni yang dijual untuk umum. Toko itu bernama Acakacak.                                                                                                                                                                                             sumber: www.susan-budihardjo.com

 

Farisa: Di Semarang itu ekosistem fesyennya belum seperti kota-kota lain, Bandung misalnya. Di sini, belum banyak kesempatan bagi anak muda untuk berkarya. Makanya kami membuat komunitas ini. Jadi kami bisa bikin bazaar bareng, bikin fashion show bareng, ngeluarin koleksi bareng.

Jadi kapan tepatnya Benik dibentuk?

Farisa: Bulan Mei 2016. Sekarang sudah jalan 2 tahun.

Apa untungnya?

Farisa: Untungnya, pengeluaran kami jadi lebih efisien. Kalau budget fashion show dikeluarkan individu, pasti butuh uang banyak. Tapi karena ada komunitas, kalau mau ada acara seperti fashion show atau bazaar, ya kita urunan (patungan – red). Jadi lebih ringan, karena dipikul bareng-bareng.

Bisa belajar apa saja kalau bergabung dengan Benik?

Farisa: Untuk anggota baru yang belum pernah belajar tentang fashion, ada program belajar yang dinamakan trend.inc, atau trend incubator. Program itu merupakan inkubator untuk fashion maker yang kami bikin bareng-bareng. Ada beberapa anggota benik yang lulusan Susan Budihardjo kan, mereka akan membantu. Jadi buat teman-teman yang mau belajar juga ada tempatnya.

Jadi teman-teman yang punya passion di bidang fesyen bisa terjun untuk create barang sendiri. Mulai dari baju ready to wear yang bisa dipakai sehari-hari. Dari situ nanti ada pengembangan-pengembangan.

Selain pengembangan produk, ada juga program pendidikan untuk bazaar dan fashion show. Ada pelatihan-pelatihan sebelum bisa bikin fashion show. Biasanya sebelum fashion show kan ada tes untuk bikin mood board, semacam konsep yang akan dijadikan pedoman koleksi fesyen.

Nah, untuk anggota yang nggak punya latar belakang di bidang fesyen, mungkin akan merasa kesulitan. Teman-teman Benik yang paham, akan mengajari. Apa saja yang harus ada di mood board dan seperti apa tahapan pembuatannya.

Mood board merupakan analisis tren visual yang dibuat para desainer dari komposisi gambar – gambar berupa foto, kliping, atau sketsa yang memuat suasana, warna dan tema yang akan diwujudkan menjadi karya. Pembuatan mood board ditujukan untuk menetapkan arah serta panduan dalam proses kreatifitas, sehingga hasil karya tidak keluar dari tema yang telah ditentukan.

 

Anggota kami juga memiliki kelebihan masing-masing. Kalau mau belajar basic sewing dan belajar membuat baju dengan lipatan-lipatan unik, bisa sama Mbak Grace Melisa. Kalau mau belajar bikin pola bisa sama Mas Nova. Masalah gaun-gaunan bisa dengan Mas Niki Hutomo. Novita akan ngomongin fesyen dalam ranah industri, lebih ke bisnis.

 

mood board
contoh moodboard. (sumber: instagram @dreamwitch666)

 

Ada kelas rutin?

Farisa: Setiap bulan ada dua macam kelas trend.inc. Pertama, kelas dengan silabus panduan belajar yang terstruktur. Mulai dari menggambar sketsa badan, proporsi dan croquis (sketsa cepat –red), hingga nanti bikin suatu koleksi.

Kelas trend.inc yang kedua adalah workshop lepasan, tidak urut. Bulan ini mau ada kelas sketsa, bikin pola, motong kain. Mungkin bulan depan kita buat kelas basic sewing. Fungsinya, untuk yang kelas dengan silabus akan mempercepat proses orang yang mau belajar fashion design. Kalau kelas lepasan, untuk menjaring minat dulu. Orang yang tidak punya waktu untuk ikut kelas yang ada silabusnya, bisa ikut kelas lepasan. Karena kelas bersilabus itu kan rutin setiap akhir pekan, jadi kalau tidak punya waktu pas akhir pekan, bisa ikut kelas lepasan itu tadi.

Sasaran Benik siapa saja?

Sebetulnya ini tuh terbuka untuk siapa pun yang merupakan fashion anthusiast yang mau belajar fashion design. Biarpun fashion design itu nggak bisa ditempuh dalam waktu satu-dua tahun belajar. Tapi semua proses tetap dijalani di sini. Harus sering ikut bazaar dan fashion show.

Kalau mau bergabung jadi anggota Benik, syaratnya apa?

Nova: Kirim portofolio dulu. Itu untuk lihat ada tidaknya background fashion design. Kalau sudah ada, berarti untuk selanjutnya bisa langsung bikin project bareng. Bikin bazaar atau fashion show bareng. Tapi kalo belum ada, kami akan ikutkan trand.inc. Supaya kemampuan semua anggota bisa sejajar.

Ada tugas khusus masing-masing anggota Benik?

Nova: Ya ada. Kami itu komunitas, tapi serius banget. Ada timnya. Ada tim penyusun program acara, ada PR (public relation), ada ketua, bendahara, dan sekretaris. Semacam organisasi. Tapi pendekatannya lebih fun jadi seperti komunitas.

Apa achievement orang-orang yang ada di Benik?

Nova: Mas Agied Derta itu berpartisipasi di Asian Kids Fashion Week 2018 di Vietnam. Awalnya menang lomba Sakura Collection 2017 yang berskala nasional. Itulah yang menerbangkan dia ke Jepang. Lalu akhirnya dia bertemu dengan desainer muda asal Malaysia, Singapura, Vietnam dan sebagainya. Dari situ akhirnya dia dipercayai untuk mengisi acara di Vietnam itu.

Farisa: Yang jelas siapapun yang tertarik untuk masuk ke industri fesyen, di sini (Benik -red) sudah ada panutan yang bisa dijadikan contoh.

Reporter: Fitria Eka Mawardie
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.