Kapasitas Overload, Penghuni Among Jiwo Banyak yang Kabur

Pengemis dan gelandangan yang tertangkap razia polisi, beberapa waktu lalu. Pemkot Semarang masih kesulitan menangkal serbuan pengemis musiman saat Ramadan tiba. Foto: metrosemarang.com/dok
Pengemis dan gelandangan yang tertangkap razia polisi, beberapa waktu lalu. Pemkot Semarang masih kesulitan menangkal serbuan pengemis musiman saat Ramadan tiba. Foto: metrosemarang.com/dok

SEMARANG – Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, rupa-rupanya masih dibuat pusing setiap kali menangani hasil operasi Pengemis Gelandangan dan Orang Telantar (PGOT) di wilayahnya. Bahkan, saat ini kapasitas gedung Panti Sosial Among Jiwo sebagai tempat penampungan PGOT di Semarang, telah melebihi batas (overload). Akibatnya, setiap pekan selalu ada penghuni yang melarikan diri.

Kasi Pelayanan Sosial Dinsospora, Adi Pratondo, mengungkapkan, apabila idealnya kapasitas panti sosial hanya mampu menampung 60 orang, tapi kini jumlah PGOT yang ada di situ telah mencapai lebih dari 100 orang. Sampai-sampai, kata dia, saking banyaknya PGOT yang terazia setiap hari membuat ruangan panti sosal penuh.

“Jumlahnya bertambah banyak dan masih banyak yang tidak tertampung karena kapasitas awalnya hanya 60 orang,” keluhnya, saat ditemui metrosemarang.com, di ruang kerjanya, Senin (22/6).

Apalagi, kata dia, ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, ia menengarai banyak pejabat di daerah sekitar Semarang yang sengaja menghalau pengemis dan akhirnya masuk ke Semarang. Pengemis buangan itu, mayoritas berasal dari Kendal, Demak dan Purwodadi.

Menurut Adi, para gelandangan dan pengemis tersebut masuk melalui wilayah perbatasan. “Mereka masuknya lewat Gunungpati dan Mijen,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini banyak gelandangan yang memilih kabur dari Pansos Among Jiwo. “Ada yang lari. Satu-dua orang sehari. Namun kalau sebulan bisa lima orang. Kebanyakan itu gelandangan yang mengalami gangguan jiwa,” tutupnya. (far)

Comments are closed.