Kasus Frekuensi Radio Ilegal Gelora Taksi Baru Pertama Kali di Indonesia

Praktik penyalahgunaan frekuensi radio ilegal yang dilakukan CV Gelora Taksi ditengarai juga terjadi pada perusahaan lainnya. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Praktik penyalahgunaan frekuensi radio ilegal yang dilakukan CV Gelora Taksi ditengarai juga terjadi pada perusahaan lainnya. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

SEMARANG – Kasus penyalahgunaan frekuensi radio secara ilegal yang melibatkan bos Gelora Taksi merupakan yang pertama ditangani polisi. Perbuatan tersangka tersebut dianggap merugikan keuangan negara.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Kombes Pol Edhy Moesthofa menyebut, kegiatan ilegal yang dilakukan CV Gelora Taksi itu juga berpotensi terjadi pada perusahaan lain.

“Sepengetahuan kami, ini kasus pertama kali di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, ini juga terjadi di perusahaan taksi yang lain,” kata dia didampingi Kasubdit Bidang Industri Perdagangan dan Asuransi (Indagsi) AKBP Juli Agung Pramono, Selasa (19/5).

Menurutnya, penggunaan frekuensi telekomunikasi tersebut digunakan secara intern untuk operasional di perusahaan taksi tersebut. Biasanya untuk sarana komunikasi para sopir taksi di dalam mobil. “Karena tidak memiliki perizinan, maka tindakan yang dilakukan tersangka mengakibatkan kerugian negara,” katanya.

Pihaknya melakukan penyelidikan kasus tersebut berdasarkan Laporan Polisi nomor: LP/A/V/2005/Jateng/Reskrimsus, tanggal 7 Mei 2015. Tersangka, berinisial MS telah menjalani pemeriksaan berdasarkan Surat Penyidikan nomor polisi: SP Sidik/503/V/2015/Reskrimsus tanggal 7 Mei 2015. “Saat ini tersangka masih dalam proses pemeriksaan,” katanya.

Dalam kasus ini, MS disangka melanggar pasal 33 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi: yakni penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit wajib mendapat izin pemerintah.

Dia juga dijerat pasal 53 Undang-Undang RI No 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi, yakni barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 ayat (1), atau pasal 33 ayat (2), dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. (yas)

 

 

You might also like

Comments are closed.