Pembentukan Kata Baru, Aktivis Hashtag, dan Aksi Jalanan

Kata Baru, Aktivis Hashtag, dan Aksi Jalanan

Bagaimana prosesnya sebuah kata-baru menjadi diterima semua orang? Mengapa #hashtag bisa membuat ribuan orang turun ke jalan?

Menjadi Sosial dalam Social Not-Working
Status seorang teman, pada suatu hari, “Aku sudah membuat akun Facebook sejak 2005. Waktu itu, Facebook masih mirip “group” yang sangat besar. Kawan, keluarga, rekan kerja, semuanya memakai, terhubung. Saya tidak bisa menjadi diri-sendiri, akun saya tidak lagi menggambarkan diriku. Saya menjadi seperti kebanyakan orang, menjadi semua orang. Saya menyensor status saya sebelum menekan tombol Publish, memilih kelayakan foto, saya share meme, kehilangan diri yang otentik.”.
Apa artinya “menjadi sosial”, apa artinya berjejaring? Bermain-peran dengan group atau teman yang berbeda.

Evolusi Hashtag : Angka, mIRC, dan #sekarepmu
Salah satu penanda dalam berjejaring sosial adalah #hashtag, sebuah kata atau frase yang digabungkan tanpa spasi, kadang dikombinasikan dengan angka, untuk menandai dan mengelompokkan jenis content.
Tanda ini dulu dikenal di mIRC sebagai nama #chatroom, dikenalkan-kembali Twitter, diadopsi sebagai “label” di Blogger, “tag” di Tumblr (jangan remehkan tren visual Tumblr), lalu Facebook, diikuti jejaring lain. Orang mengenalnya sebagai “milik” Twitter, padahal sebenarnya bukan.

Kik.com punya metode ekstrem, memasukkan fitur #hashtag, persis seperti mIRC: setiap orang boleh bikin chatroom seketika dengan membuat #hashtag. Anda bisa chat dengan siapapun di Kik, sebagaimana “hangout” di Google+, dan akun Kik berbasis username, bukan nomor telepon.
Julian Assange, dalam “the Fifth Estate” mengatakan, bahwa orang punya fakta tentang korupsi, untuk dikabarkan kepada publik. Mereka menjadi berani kupas-tuntas, jika tampil anonymous. Berjejaring-sosial berarti berani menghargai perbedaan, berani menjelajah kebebasan informasi.

Bahasa : Content, Fungsi, dan Telepon Koin
Bahasa punya 2 aspek: content dan fungsi. Content berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Dunia selalu berubah, begitu pula arti-kata bisa selalu berubah.
Kata “pulsa” benar-benar baru di Indonesia, tidak memiliki riwayat jelas, tidak pula berasal dari Amerika atau bahasa Inggris. Kata “pulsa” punya sinonim, baru ada sejak teknologi ponsel dikenal di Indonesia, namun bukan derivasi (turunan) dari “balance” (bahasa Inggrisnya pulsa).
Kata “sms” (Indonesia) untuk “pesan”, tidak digunakan di pemakai bahasa Inggris. “I will text you later”, berarti “Nanti saya SMS kamu”.
Oxford edisi terbaru, telah memasukkan ratusan kata dari kebudayaan internet ke dalam entri kamus.
Fungsi dalam bahasa, diwakili kata ganti (dia, mereka), kata depan/perangkai, dan kata hubung. Sayangnya, “fungsi” bahasa ini tidak diakui di pencarian Google, karena fungsi tersebut lebih kabur artinya dibandingkan content bahasa.
Fungsi hampir selalu statis, namun content tidak.

Maka persoalannya, pada piranti mobile yang lekat dengan bahasa, bernama smartphone, dengan aplikasi bernama Twitter, sebuah kata bisa menjadi diterima semua orang? Hashtag.
Jika ingin melihat bagaimana sebuah #frase menggabungkan “content” dan “fungsi” sekaligus, maka lihatlah #hashtag.

Ada sebuah gambar sepasang bocah mengamati telepon koin, lalu ada tulisan dialog, “Mama bilang ini telepon, tetapi, bagaimana Mama dulu bermain Angry Birds?”.
Tidak ada screen, tidak ada Angry Birds. Itu hanya telepon koin.
Saya menceritakan nostalgia tahun 1990-an yang pernah nge-top (telepon koin dan telepon kartu), namun tergilas telepon seluler.
Kalau saya pakai hashtag #teleponkoin maka hashtag itu “tidak dikenal” anak muda Semarang kelahiran 1990 ke belakang.
“Telepon koin” adalah kata benda (content), namun dia merupakan kata ganti (function), sama dengan “mereka”.
Dan “mereka”, dalam kasus “telepon koin” bisa mewakili banyak orang, banyak hal: yang pernah LDR, aktivitas mengisengi kantor polisi, dll.
Sekali lagi, saat menjadi hashtag, antara content dan fungsi sudah menyatu.

Kekuatan Hashtag
Itu sebabnya, sebuah hashtag bisa memicu tren (#bbmnaik), memperkenalkan arti baru dari sebuah kata (#alkisah), menilai sesuatu (#jabingan), pengakuan kecil, dll. Hashtag bisa memicu gerakan politik (#salamduajari #tolakbbmnaik), demonstrasi jalanan, sebuah perubahan.
Saat tersesat atau mencari harga mesin fotokopi second di Semarang, Anda bisa mention dan bertanya ke @KotaSMG dengan hashtag #takonkas.
Hashtag adalah Kepentingan dan Perang
Hashtag berarti pula peperangan di jalan (lihatlah sejarah Mesir dan Turki sejak Twitter berperan), tidak sekadar tweet war (perang twit).
Ikatan dalam jejaring sosial, tidak lagi didasarkan simpul-simpul kekerabatan dan persekawanan konvensional, melainkan pada kesamaan kepentingan.
Anda datang ke acara charity terkait longsor banjarnegara, yang terhubung dari jejaring sosial, tidak ditanya “dari organisasi apa?” seperti tahun 1990-an, melainkan “siapa anda?”. Profile, bukan kelompok.
Nietzsche, pernah memprediksi bersatunya negara-negara Eropa, dengan konsep sama pula. Tan Malaka, menggagas pakta pertahanan militer, dengan gagasan bersatunya kekuatan-kekuatan kecil untuk menakuti san melawan “anjing besar”. Keduanya, mengingatkan para pemakai Twitter akan kekuatan kepentingan dan kekuatan kata.
Obama menang di pemilihan presiden Amerika, sebelum iPhone ditemukan. Twitter masih bayi. Obama menang karena tim sukses mempelajari “tingkah laku” calon pemilih, bukan bergantung pada teknologi apa. Waktu itu, belum dikenal “aktivis hashtag”.

Aktivis Hashtag dan Trending Topic
Para pendukung Jokowi, banyak yang memakai Twitter dan menjadi aktivis hashtag, mereka yang rajin mengolah informasi, mengamati trending topic, agar popularitas Jokowi terangkat cepat.
Tren akun bicara kasar, berpura-pura galau dan jomblo, atau mengolah pesona erotis, adalah tipikal aktivis hashtag yang berhasil (menjadi metode?) mendapatkan banyak follower.
“Mereka” mengelola trending topic, menumpangi, bukan berani membuat tren. Mereka melihat hashtag #Tuhan selalu di 10 besar untuk wilayah Semarang, maka menggunakan “Tuhan” di twit agar popularitas tinggi. Rajin retweet, quote-tweet, dan mengolah headline menjadi lokal. Banyak kota yang memiliki akun Twitter, mewartakan apa yang terjadi di kota itu, berdasarkan pengelolaan informasi. Bukan turun ke jalan.

Begitulah prosesnya, mengapa sebuah kata baru, menjadi diterima semua orang. Hashtag, menyatukan “content” dan “fungsi” bahasa dalam satu klik.
Dunia bisa tenang ataupun terguncang, karena 140 karakter.
Hashtag sudah ada ratusan tahun lalu untuk menandai angka, lalu Maret 2005 menjadi fitur andalan Twitter. Tidak baru, namun menjanjikan perubahan sosial, seperti ribuan orang turun ke jalan Kairo (Mesir) dan Gezi (Turki), atau mengabarkan serangan hacker anonymous di mana-mana.
Melawan.

Day Milovich,,

Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Borobudur.

 

You might also like

Comments are closed.