Kebakaran Pasar Johar, Kado Pahit Ultah Semarang

Kebakaran Pasar Johar, Sabtu (9/5) malam, menjadi kado pahit ulang tahun Kota Semarang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Kebakaran Pasar Johar, Sabtu (9/5) malam, menjadi kado pahit ulang tahun Kota Semarang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

KOTA Semarang tahun ini merayakan ulang tahun ke 468. Serangkaian acara digelar untuk menyambut hari jadi yang diperingati setiap 2 Mei.

Ibu Kota Jawa Tengah ini pun nampak semakin bersinar. Lampu-lampu baru dipasang di jalan protokol dan taman, menambah kecantikan kota kala malam. Berbagai lomba dan acara digelar. Dari job fair, aneka pameran tingkat Nasional, pagelaran wayang, lomba foto, rally wisata, tirakatan, Grand Final Denok Kenang, hingga Semarang Night Carnival.

Geliat partisipasi warga untuk memberi kado pada ulang tahun kota pun nampak kental. Dari  kecamatan-kecamatan berlomba menampilkan kreatifitas dan berbagai panggung hiburan. Tak ketinggalan, anak-anak muda kreatif memberi sumbangan kado logo ultah Semarang 468. Kado yang terinsipirasi dari buah asam itu terpampang di berbagai baliho, spanduk, dan poster terkait hari jadi Kota Semarang.

Tapi banyaknya kado itu seakan belum cukup. Sepekan setelah hari jadi, Kota Semarang kembali mendapat kado besar. Luar biasa besar. Berita soal kado yang tiba-tiba dan mengagetkan ini cukup untuk membuat Semarang masuk trending topic Nasional. Cukup untuk memaksa perusahaan media cetak menunda pencetakan koran, serta rela mengubah headline berikut tampilan halaman muka habis-habisan.

Sayangnya, kado yang akan terus dibicarakan hingga beberapa tahun ke depan ini, bukan sesuatu yang masuk kategori menyenangkan. Ini kado pahit. Sangat sangat pahit. PASAR JOHAR KEBAKARAN.

Kebakaran ini tak hanya meluluhlantakkan ratusan kios dan menghanguskan miliaran rupiah aset pedagang. Lebih dahsyat dari itu, kebakaran ini juga melalap sejarah Semarang.

Ya, sejarah Semarang ada di Johar. Pasar yang terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah ini bukan sembarang pasar. Bangunan yang didesain Thomas Karsten pada 1933 ini pernah menyandang predikat pasar terbesar, termodern, dan tercantik se-ASEAN.

Berjalan di tiap lorongnya bagai menelusuri cerita indah kejayaan perekonomian Semarang. Merayapi setiap inchi dindingnya, bagai merasakan denyut nadi orang-orang yang turun temurun berdagang sejak dari bawah pohon Johar lebih dari seabad silam. (Anton Sudibyo)

Comments are closed.