Kejahatan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan Anak di Jateng

Kepala BP3AKB Jateng mengawali aksi tandatangan bersama dalam kampanye anti-kekerasan terhadap anak, Jumat (20/11). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Kepala BP3AKB Jateng mengawali aksi tandatangan bersama dalam kampanye anti-kekerasan terhadap anak, Jumat (20/11). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

 

METROSEMARANG.COM – Kekerasan terhadap anak di Jawa Tengah cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dari ribuan kasus yang dilaporkan sejak 2008, kekerasan seksual paling banyak dialami oleh anak-anak di provinsi ini.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jawa Tengah, Sri Kusuma Astuti mengatakan, kekerasan terhadap anak merupakan fenomena gunung es yang tersembunyi dan tidak mudah untuk diakhiri. Hal itu terjadi karena para pelaku sebagian besar adalah orang terdekat yang berada di sekitar anak-anak.

“Para pelaku kekerasan biasanya adalah orang terdekat dan dipercayai di lingkungannya seperti di rumah, sekolah, ruang publik, atau lembaga pengasuhan anak yang seharusnya melindungi anak-anak,” kata Sri Kusuma saat kampanye anti-kekerasan terhadap anak yang berlangsung di Hotel Grand Candi Semarang, akhir pekan kemarin.

Sri menambahkan, berdasarkan data BP3AKB, sejak 2008 telah terjadi 7.221 kasus kekerasan anak di Jawa Tengah. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan. Sebanyak 644 kasus terjadi di tahun 2008. Di tahun berikutnya meningkat menjadi 922 kasus dan 1.070 kasus di tahun 2010.

Kemudian di tahun 2011 terjadi 1.084 kasus dan tahun 2012 sebanyak 1.352 kasus. Lalu, 1.035 kasus terjadi di 2013 dan sebanyak 1.114 kasus pada 2014. “Sampai September 2015 telah terjadi 1.046 kasus kekerasan pada anak. Angka ini hanya berdasarkan pada yang dilaporkan,” imbuh Sri Kusuma.

Dari data tersebut, lanjutnya, kekerasan seksual pada anak paling banyak mendominasi. Sedangkan pelaku, kebanyakan adalah orang-orang terdekat korban seperti orangtua, saudara, keluarga, guru, tetangga, teman maupun orang tidak dikenal. “Jenis kekerasan yang terbanyak adalah kekerasan seksual,” terangnya.

Ironisnya, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah kabupaten/kota terbanyak yang telah mencanangkan sebagai kota layak anak. Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, 31 di antaranya sudah mendeklarasikan sebagai kota layak anak.

Sri Kusuma berharap, masyarakat ikut berperan aktif dalam mencegah kekerasan terhadap anak dengan melibatkan semua pihak. “Kita perlu membangun pemahaman dan kepedulian publik tentang perlindungan anak dan khususnya pencegahan kekerasan terhadap anak,” tukasnya.

Kampanye anti-kekerasan terhadap anak tersebut juga melibatkan UNICEF perwakilan Jawa-Nusa Tenggara, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Yayasan Setara. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.