Kemarau Panjang, Produksi Getah Karet Turun hingga 80 Persen

Pekerja Pabrik Kalimas mengeringkan latex hasil olahan karet. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Pekerja Pabrik Kalimas mengeringkan latex hasil olahan karet. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Kemarau panjang yang melanda Jawa Tengah beberapa bulan terakhir, ternyata berimbas di sektor perkebunan karet. Tercatat, sejak awal September lalu, hasil produksi perkebunan karet menurun drastis.

Seperti yang terlihat di pabrik perkebunan karet ‘Kalimas’ milik PT. Karya Deka Alam Lestari di Kecamatan Mijen, Semarang. Dalam kondisi normal, di perkebunan seluas 500 hektar tersebut mampu menghasilkan karet mentah hingga 5 ton per hari. Sekarang, produksi turun sampai 80 persen.

“Memasuki musim kemarau, di bulan ASON (Agustus, September, Oktober, November) tahun ini, produksi karet kami menurun drastis. Kemarin tercatat sampai turun di angka 700-900 kilogram per hari,” tutur Tobari Hatna, wakil ADM perkebunan karet Kalimas, Kamis (20/11).

Menurutnya, penurunan jumlah produksi tersebut memang sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Saat kemarau, pohon karet mengalami fase keguguran karena kurangnya pasokan air yang diserap. “Kalau tidak ada hujan, jelas air yang diserap pohon sangat minim, getahnya pun berkurang,” imbuhnya.

Kendati demikian, pihaknya mengaku sudah biasa menghadapi penurunan jumlah produksi di perkebunan yang sudah ada sejak 1982 itu. Menurut dia, penurunan tersebut hanya berlangsung selama beberapa bulan saja.

“Meski produksi berkurang, hal tersebut tidak mempengaruhi kondisi perusahaan. Apalagi saat ini kami hanya memenuhi kebutuhan karet di Indonesia, belum sampai ke mancanegara,” urainya. (yas)

You might also like

Comments are closed.