Kemplang Duit Bansos, 5 Eks Aktivis Mahasiswa Semarang Ditahan

 

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah menetapkan lima tersangka baru kasus dana bantuan sosial (bansos) Pemprov Jateng tahun 2011. Kelimanya yang merupakan mantan aktivis kampus ini disinyalir menilap uang negara senilai Rp 328 juta.

Lima tersangka itu adalah Azka Najib, Musyafak, Farid Ihsanudin, Agus Khanif, dan Aji Hendra Gautama. Kelimanya langsung ditahan usai menjalani pemeriksaan di kantor Kejati jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Selasa (5/5). Mereka ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Kedungpane Semarang.

Sumber Kejati menyebutkan, pada saat menerima dana bansos, Farid masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Semarang (USM). Sementara empat tersangka lainnya adalah mahasiswa IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN). Sebagian diantaranya adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) IAIN.

Kepala Kejati Jateng, Hartadi, melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jateng Eko Suwarni mengatakan, penetapan tersangka berasal dari pengembangan penyidikan kasus bansos 2011. Dalam kasus ini, Kejati Jateng sudah menetapkan tersangka terhadap dua mantan staf ahli Gubernur Jateng yaitu Joko Suryanto dan Joko Mardiyanto. Penetapan lima tersangka aktivis merupakan hasil pengembangan dari dua tersangka itu.

Hasil ekspose di Kejati pada Selasa, 9 Desember 2014 menyatakan, lima tersangka ini termasuk pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap hilangnya uang negara. Mereka mengajukan proposal bansos ke Pemprov Jateng pada 2011. Proposal disetujui, Azka menerima dana bansos Rp 83 juta, Musyafak Rp 84 juta, Farid Rp 65 juta, Agus Rp 52 juta, serta Aji Rp 44 juta.

Namun ternyata dana itu tidak dipergunakan sebagaimana kegiatan dalam proposal. Hasil pemeriksaan BPK menyatakan, sebagian alamat penerima merupakan lahan kosong, warung makan, SPBU, bahkan fiktif.

“Mereka berhasil mencairkan dana bansos berkali-kali, bahkan ada yang 14 kali. Uangnya masuk kantong pribadi, ” kata Eko Suwarni.

Suwarni menambahkan, lima tersangka itu juga membuat laporan pertanggungjawaban dilengkapi foto. Ada yang membuat seminar bahaya merokok dan HIV AIDS di rumah makan, tempat kegiatan. Setelah dikonfirmasi ke tempat penyelenggaraan, ternyata tidak ada kegiatannya alias fiktif. Total kerugian negara senilai Rp 328 juta. (byo)

 

You might also like

Comments are closed.