Kendal Mulai Terganggu Proyek Jalan di Semarang

Sopir truk memilih mematikan mesin dan keluar dari kendaraan karena terjebak macet. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Sopir truk memilih mematikan mesin dan keluar dari kendaraan karena terjebak macet. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

KENDAL – Kemacetan yang terjadi di jalan raya Tugu Kota Semarang dua hari terakhir berimbas kepada kepadatan di jalan alternatif Kaliwungu Kendal. Sejumlah kendaraan mencoba mencari jalan ‘tikus’ untuk menghindari kemacetan di jalan Pantura Semarang. Bahkan kemacetan dari Semarang sudah memasuki wilayah Kendal hingga jalan lingkar Kaliwungu.

Tidak hanya kendaraan kecil yang mencari jalan lain, kendaraan berat seperti truk dan bus juga melalui Kota Kaliwungu. Akibatnya kemacetan terjadi dari pintu masuk jalan lingkar hingga pertigaan Sekopek. Kondisi yang sama juga terjadi di jalur Sekopek hingga pasar Gladag. Banyaknya kendaraan yang memilih jalan ‘tikus’ ini mengakibatkan kepadatan di jalan tersebut.

Kendaraan-kendaraan ini melintas jalan alternatif menuju Semarang melalui Boja dan turun ke Mijen hingga tembus ke Krapyak. Kendaraan juga bisa melalui Gunungpati hingga tembus ke Ungaran.

Kamis (27/11) siang terlihat, kepadatan terjadi dari Pos Pantes pintu masuk jalur lingkar hingga pertigaan Sekopek. Kendaraan masuk ke kota Kaliwungu menghindari kemacetan yang terjadi di jalur lingkar  Kaliwungu sepanjang sekira tiga kilometer dari perbatasan Kota Semarang. Sejumlah sopir truk maupun kendaraan roda empat lainnya memilih mematikan mesin kendaraan dan keluar sambil beristirahat di trotoar jalan.

Kemacetan panjang tersebut diakibatkan proses perbaikan jalan di sejumlah titik di Kota Semarang. Diantaranya betonisasi di Randu Garut Mangkang, tikungan Kecamatan Tugu, dan pertigaan Jrakah. Sedangkan di jalur Semarang menuju Kabupaten Kendal terjadi kepadatan arus lalu lintas. Sebab, pengendara sepeda motor dari arah barat nekat melawan arus guna menghindari kemacetan. Bahkan, hal itu juga dilakukan oleh angkutan kota (Angkot) dan mobil pribadi.

Haryono, seorang sopir truk tronton  mengaku kesal dengan kemacetan yang terjadi. Sebab, jarak sekitar tiga kilometer harus ditempuh dengan waktu dua jam lebih. Padahal, dia harus mengantar muatan air mineral dari Cianjur ke Surabaya.

“Mesin saya matikan, karena bisa jalan hanya 10 meter lebih sudah berhenti lagi sampai 10 menit. Macetnya lama, sekali jalan seperti bekicot, lamban. Seharusnya polisi dan dinas terkait mengatur lalu lintas yang semrawut ini. Kalau dibiarkan akan lama macetnya,” katanya.

Kemacetan juga berdampak terhadap para mahasiswa dan pekerja pabrik di Kota Semarang asal Kabupaten Kendal. Mereka berinisiatif berangkat lebih pagi untuk menghindari keterlambatan.

“Saya harus sampai di tempat kerja maksimal jam tujuh pagi. Jadi, kalau macet seperti ini berangkatnya lebih pagi lagi. Biasanya saya berangkat setengah tujuh, sekarang jam enam,” kata Faizah, pekerja pabrik di Randu Garut Mangkang. (Metrojateng/MJ-01)

 

You might also like

Comments are closed.