Kepala KSOP Tanjung Emas Sebut Suap Dirjen Hubla sebagai Gratifikasi

METROSEMARANG.COM – Otoritas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menyayangkan tindakan Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub, Antonius Tonny Budiono yang mengaitkan kasus suap yang menjeratnya dengan proyek pengerukan sedimentasi Laut Jawa yang sedang dikerjakan saat ini.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Emas, Gajah Rooseno

Sebab, menurut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Emas, Gajah Rooseno apa yang ditunjukan Dirjen Hubla tidak mendasar. Ia menyebut aksi suap-menyuap merupakan inisiatif pribadi dan tidak bisa dikaitkan dengan proyeknya.

“Saya rasa tergantung karakter manusianya. Mungkin sebagai bentuk ucapan terima kasih atau sejenisnya. Tetapi saya memastikan secara pelaksanaan teknisnya sudah benar semua,” kata Gajah usai bertemu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Bea Cukai Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Jumat (25/8).

Ia menyampaikan proyek pengerukan Tanjung Emas kini sudah kelar sejak dua pekan lalu. Ia mengatakan saat ini tinggal menunggu jadwal serah terima pengelolaan kepada pihaknya.

“Kami sangat prihatin kok Semarang disebut-sebut dalam kasus itu. Padahal proyeknya sudah selesai 100 persen,” jelasnya.

Pengerukan Tanjung Emas mencakup kedalaman 10,5 LWS. Kemudian ada pelebaran areal menjadi 104 meter dari semula 100 meter. Sedangkan panjang lokasi proyeknya 5.000 meter.

“Anggaran kan Rp 40,5 Miliar, lha kok bisa dia menyebutnya Rp 20 Miliar.
Saya kaget dan komplain kenapa Semarang dikaitkan. Sangat disayangkan proyek pengerukan dikotori ulah oknum kementerian,” tegasnya.

Ia memastikan proyek pengerukan berjalan lancar dan transparan. Karena saat dikerjakan, pihaknya didampingi Kejati Jateng serta telah mereview untuk mematangkan pagu dananya.

Gajah bahkan tak takut dicopot bila terbukti menerima aliran dana suap Dirjen Hubla. “Apapun resikonya saya hadapi jika proyek itu berdampak buruk terhadap negara. Sejauh ini, saya yakin semuanya berjalan mulus karena sudah diawasi kejaksaan bersama stackholder,” terangnya.

Proyek tersebut dimaksudkan pula untuk merawat alur pelayaran yang bertambah padat. Arus pengiriman barang menuju Semarang meningkat pesat seiring terbatasnya dermaga peti kemas di Singapura.

“Kapal asing sering mengeluh terjadi pendangkalan. Maka kami lakukan pengerukan sejak 2016 dan rampung awal Agustus 2017,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.