Keren, Karya Wanita-wanita Cantik Lapas Bulu Tembus sampai Abu Dhabi

METROSEMARANG.COM – Hidup di ruang terbatas seperti warga binaan Lapas Kelas II Wanita Semarang atau Lapas Bulu tak menyurutkan mereka untuk berkreasi. Tak tanggung-tanggung, produk kreasi mereka mampu menembus mancanegara.

Hal ini ditunjukkan mereka saat memamerkan hasil kreasi saat memperingati Hari Perempuan Sedunia, Selasa (8/3).

“Pemasarannya sudah sampai ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dan kreasi mereka mendapat pengakuan nasional seperti kebaya payet,” kata Kepala Lapas Kelas II Wanita Semarang Suprobowati.

Tak hanya melakukan pelatihan keterampilan produk kreatif, Suprobowati juga memberikan sertifikat untuk bekal berwirausaha setelah bebas dari lapas. Dengan sertifikat tersebut, pihaknya ingin memberikan bekal agar kelak mereka mampu menghadapi situasi ekonomi di masyarakat. Kerajinan yang ditampilkan juga cukup beragam, seperti aksesoris, tas rajut benang, boneka, batik, hingga kebaya payet.

Hasil kreasi warga binaan Lapas Wanita Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Hasil kreasi warga binaan Lapas Wanita Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

“Setiap pelatihan, kita pasti memberikan sertifikat sebagai bukti. Tapi yang mendapat sertifikat tersebut hanya warga yang sudah mendapat kepastian hukum, dalam hal ini bukan tahanan titipan,” katanya.

Sementara itu, koordinator panitia acara peringatan Hari Perempuan Sedunia, Nika mengungkapkan, acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari seluruh elemen gerakan perempuan di Indonesia.

“Kita mengambil tema Gerakan Perempuan Melawan Ketimpangan dengan tuntutan menghentikan segala bentuk ketimpangan yang berujung pada kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia serta menjamin kepastian hukum,” kata Nika.

Dia menambahkan, pemilihan tempat di Lapas Wanita karena sebagai simbol tentang keterbatasan dan keterpenjaraan perempuan dalam mengekspresikan diri dan mengartikulasikan kepentingannya dalam bidang politik, ekonomi, sosial. “Perempuan telah dihalangi oleh norma-norma patriarki,” ungkapnya.

Acara tersebut didukung oleh berbagai elemen masyarakat seperti LBH Apik Semarang, Girls Against Discrimination (Gadis), Yayasan Setara, Serikat PRT Merdeka, dan Pusat Studi Unika Soegijapranata. (din)

You might also like

Comments are closed.