Kesadaran Masyarakat Rendah jadi Kendala Pengurangan Risiko Bencana

METROSEMARANG.COM – Pembentukan kelurahan siaga bencana terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Hingga saat ini dari 177 kelurahan di Semarang sudah ada 35 kelurahan siaga bencana.

Longsor di Winong Sari RT 1 RW 12 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Rabu (27/1) dinihari. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menjadi pemicu terjadi bencana. Foto: metrosemarang.com/dok

Pembentukan kelurahan siaga bencana ini salah satu tujuan adalah untuk mengurangi risiko bencana. Dimana masyarakat menjadi siap ketika terjadi bencana bahkan bisa mengantisipasi terjadinya bencana. Pembentukan kelurahan siaga ini diprioritaskan di kelurahan rawan bencana.

”Kami menargetkan dapat terbentuk sebanyak 52 kelurahan siaga bencana sejak mulai tahun 2012. Sampai saat ini sudah ada 27 kelurahan ditambah dari ICCU tujuh, sehingga total sudah ada 35 kelurahan siaga bencana,” kata Kepala BPBD Kota Semarang, Agus Harmunanto, Selasa (29/8).

Selain pembentukan kelurahan siaga bencana, untuk mengurangi risiko bencana di Semarang pihaknya juga mengembangkan teknologi kebencanaan. Yakni mengembangkan sistem Early Warning System (EWS) di mana masyarakat bisa memonitor potensi adanya bencana di daerahnya melalui android.

Hal yang menjadi kendala, kata Agus Harmunanto, adalah kesadaran masyarakat Semarang untuk turut mengurangi risiko terjadinya bencana masih rendah. Masyarakat misalnya masih suka membuang sampah di saluran air yang berpotensi menyebabkan terjadinya bencana banjir.

”Kesadaran masyarakatnya masih sedikit antara 25%, karena masyarakat untuk hal sepele saja seperti membuang sampah, masih sering melakukannya di sungai atau selokan yang akhirnya menyumbat saluran dan menyebabkan terjadinya bencana banjir,” tandasnya.

Contoh lainnya, masyarakat atau kalangan pengusaha masih suka melakukan pengurukan space lahan untuk tangkapan air menjadi perumahan. Sehingga daerah tangkapan air berkurang dan ketika terjadi hujan menjadi potensi terjadi bencana banjir atau tanah longsor. (duh)

You might also like

Comments are closed.